2014, Garuda Sejajar SIA


2014, Garuda Sejajar SIA
Oleh Tri Listiyarini dan Imam Muzakir

Saat ini, berdasarkan Skytrax, Garuda masih berpredikat sebagai
maskapai penerbangan bintang empat bersama 27 maskapai dunia
lainnya. Sementara itu, maskapaiyang menyandang bintang lima
antara lain Singapore Airlines (SIA), Qatar Airways, Malaysia Airlines,
Cathay Pacific, Kingfisher Airlines, dan Asiana Airlines.
Dibandingkan SIA, posisi Garuda masih jauh tertinggal. Selama Januari-Mei 2011, SIA mengangkut
8,24 juta penumpang internasional, sedangkan Garuda
sekitar 1,19 juta. Saat ini, SIA memiliki 230 pesawat dan 2.335
pilot, sedangkan Garuda hanya 89 pesawat dan 864 pilot.
Sebagai maskapai penerbangan yang tercatat di bursa efek, per 28
Juli 2011, SIA memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 14,7 miliar,
sedangkan Garuda hanya US$ 1,38 miliar.

Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan memastikan,
kisruh pilot belakangan ini tidak akan mengubah rencana
dan target perseroan untuk menjadi maskapai penerbangan
bintang lima (five star) pada 2014. “Semua program akan berjalan
sesuai jadwal. Tidak akan ada perubahan, meski sempat terjadi sedikit
gangguan dengan mogoknya para penerbang,” tegas Elisa
kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (28/7) malam.
Untuk menjadi maskapai kelas dunia, menurut Elisa, Garuda
harus menambah dan memperbarui armada secara cepat dan
tepat.
Target penambahan dan pembaruan armada sudah disusun dengan matang dalam program
Quantum Leap, termasuk mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia
(SDM), terutama pilot. Sejak program Quantum Leap dicanangkan 2009, jelas Elisa,
Garuda merekrut pilot secara besar-besaran dari Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STIP)
Curug, Bali International Flight Academy (BIFA), dan para pilot
WNI yang bekerja di luar negeri.“Kami harus training ulang lulusan sekolah penerbang untuk
menjadi copilot. Setelah jam terbang terpenuhi, mereka baru
bisa menjadi pilot. Butuh waktu lebih dari setahun untuk bisa
mengubah para lulusan penerbang hingga

Kemarin, sekitar 50 pilot yang tergabung
dalam Asosiasi Pilot Garuda
(APG) sempat mogok terbang sejak
pukul 00.00 WIB hingga 13.00 WIB.
Mereka akhirnya menghentikan
aksi mogok setelah APG dan manajemen
Garuda sepakat untuk
merundingkan kembali sejumlah
kebijakan, terutama terkait perekrutan
pilot. Dalam pertemuan yang
difasilitasi Menteri Negara BUMN
Mustafa Abubakar itu, pihak manajemen
berjanji untuk menuntaskan
sejumlah permasalahan sebelum
Idul Fitri.
Setelah disepekati adanya perundingan
lanjutan, Presiden APG Stephanus
Gerardus menjelaskan, pihaknya
memerintahkan seluruh
anggotanya untuk berhenti mogok
dan bekerja kembali. “Kami berharap
sudah ada kesepakatan final yang
di dalamnya mengakomodasi keinginan
para pilot sebelum Idul Fitri.
Jadi, ini bukan soal kalah atau menang
ya,” ujar dia.
Menurut Menneg BUMN, sejumlah
usulan APG akan dibahas dalam
perundingan internal untuk dikoordinasikan
dengan menteri tenaga
kerja. “Saya meminta manajemen
Garuda untuk lebih sering menjalin
interaksi dan memperkuat komunikasi
dengan sejumlah pilot,” jelas
Mustafa Abubakar.
Dirut Garuda Emirsyah Satar berjanji
akan menindaklanjuti sejumlah
persoalan antara manajemen dan
APG mengenai pilot asing dan
permasalahan lainnya. “Kami akan
cari solusi bersama. Kami akan bertemu
lagi pada bulan Puasa dan diharapkan
bisa segera tuntas sebelum
Lebaran,” ungkap Emirsyah.
Elisa menjelaskan, Garuda mempekerjakan
34 pilot asing berstatus
kontrak semata-mata untuk menjembatani
kebutuhan sebelum para
penerbang muda siap menjadi pilot
sesuai spesifikasi pesawat. Kini, total
pilot Garuda sebanyak 864 orang
yang merupakan karyawan tetap,
sisanya pilot kontrak.
“Jadi, ini hanya sementara. Kami
jamin minimal Oktober 2011 dan
maksimal Februari 2012 tidak ada
lagi pilot asing di maskapai kami,”
tegas Elisa.
Saat ini, Garuda Indonesia mengoperasikan
92 unit pesawat. Rinciannya,
lima Airbus A330-200, enam Airbus
A330-300, 11 Boeing B737-300,
18 Boeing B737-400, lima Boeing
B737-500, 44 Boeing B737-800, dan
tiga Boeing B747-400. Garuda Indonesia
melayani 31 rute domestik dan
19 rute penerbangan internasional,
meliputi Asia, Korea, Jepang, Australia,
Timur Tengah, dan Belanda.
Untuk rute domestik, pada 2010,
Garuda menguasai 19,3% pasar dengan
menangkut 9,99 juta penumpang
atau peringkat dua di bawah
Lion Air yang menguasai 38,05%. Di
rute internasional, Garuda mengangkut
2,444 juta orang atau dengan
pangsa pasar 36,95%, peringkat dua
di bawah Indonesia AirAsia yang menguasai
41,09%. Pada 2014, Garuda
menargetkan bisa mengoperasikan
116 pesawat, dengan frekuensi sebanyak
3 ribu penerbangan per
minggu dan mengangkut 27,6 juta
penumpang dalam setahun.
Pulihkan Citra
Ketua Umum Indonesia National
Air Carrier(Inaca) Bidang Penerbangan
Berjadwal Syafril Nasution
merespons positif kesepakatan antara
APG dan manajemen Garuda.
Aksi mogok itu tidak sampai mengganggu
industri penerbangan nasional.
“Kalau mogok tetap terjadi, ini
menjadi preseden buruk. Citra industri
penerbangan nasional jadi jelek,
karena telah merugikan penumpang,”
jelas Presiden Direktur PT
Indonesia Air Transport Tbk itu.
Menurut dia, Inaca masih sepakat
dengan pemerintah yang menoleransi
penggunaan pilot asing. Saat
ini, penggunaan pilot asing di Tanah
Air masih wajar, karena suplai pilot
nasional terbatas. Kondisi ini tak hanya
terjadi di Indonesia, tapi juga dunia.
Sementara itu, perekrutan juga
butuh waktu sedikitnya satu tahun,
karena penerbang lulusan sekolah
pilot harus di-training ulang. ”Untuk
menjadi pilot, mereka harus memiliki
2-3 ribu jam terbang.
“Jadi, penggunaan pilot asing itu
hanya sementara. Di sisi lain, pilot
asing berstatus kontrak. Kalau pun
gajinya lebih tinggi, tapi mereka
tidak mendapatkan ada fasilitas lain
seperti karyawan tetap,” jelas Syafril.
Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub
Herry Bakti juga merespons
positif kesediaan pilot Garuda
untuk terbang kembali. Kemenhub
menilai alasan para pilot untuk mogok
terbang tidak masuk akal, karena
gaji pilot Garuda saat ini paling
tinggi dibanding maskapai lain. Di
sisi lain, penggunaan pilot asing sebagai
alasan untuk menciptakan kesetaraan
gaji tak layak jadi alasan, karena
maskapai lain juga menggunakan
pilot asing.
“Saat ini memang suplai pilot hanya
200-300 orang per tahun, padahal
kebutuhannya bisa 500 orang per
tahun. Dengan jumlah pesawat saat
ini sebanyak lebih dari 400 unit, rasio
pesawat terhadap pilot di Indonesia
belum terpenuhi, idealnya satu pesawat
6-7 set kru, namun saat ini barus
bisa 3,5 set kru,” ungkap dia.
22 Penerbangan Tertunda
Walau ada aksi mogok, secara
umum penerbangan Garuda tetap
lancar, meski terjadi beberapa keterlambahan
penerbangan (delay).
Selama pukul 00.00-13.00, kemarin,
Garuda melayani 144 penerbangan,
66 penerbangan di antaranya dari
Bandara Soekarno-Hatta. “Dari 144
penerbangan itu, hanya 15% atau 22
penerbangan yang terganggu, namun
tidak sampai dibatalkan,” jelas
Pujobroto, juru bicara Garuda.
Ketika mengetahui ada rencana
mogok, manajemen Garuda menyiapkan
strategi agar aksi pilot itu
tidak memengaruhi pelayanan ke
masyarakat. Kemarin, perseroan
menggabungkan enam penerbangan
karena ada sejumlah pesawat yang
dibatalkan, antara lain rute Jakarta-
Medan, Medan-Jakarta, Jakarta-
Denpasar, dan Denpasar-Jakarta.
“Untuk Jakarta-Medan digunakan
pesawat berbadan lebar Airbus 330
yang berkapasitas 300 penumpang,
dari sebelumnya Boeing 738 berkapasitas
160 penumpang,” jelas
Elisa Lumbantoruan.
Untuk rute Jakarta-Denpasar yang
seharusnya menggunakan Boeing
738 diganti menjadi Boeing 744
berkapasitas 450 penumpang. “Bisa
dikatakan kita bukannya merugi,
malah untung, karena sekali terbang
bisa mengangkut penumpang banyak
dengan menggunakan pesawat
berbadan lebar,” jelas Elisa.
Garuda kemarin terpaksa mengalihkan
penumpang dari Bangkok ke
Jakarta ke maskapai Thai Airways.
“Kami agak bingung dengan aksi
APG. Sebelumnya dikatakan mogok
hanya untuk penerbangan dari Cengkareng
keluar, tetapi kenyataannya
untuk penerbangan dari luar ke
Cengkareng pun ada yang mogok,”
tutur Elisa.
Ketua Masyarakat Transportasi
Indonesia (MTI) Danang Parikesit
menyarankan, kisruh antara manajemen
Garuda dan APG sebaiknya
dilakukan melalui tripartit. “Kemenakertrans
harus menjadi mediator,”
jelas dia.
Danang menyayangkan aksi mogok para pilot Garuda tersebut. Pasalnya,
pilot bertugas sebagai pengabdi masyarakat dan harus melayani
masyarakat. “Pilot dan copilot adalah para pekerja layanan publik tidak
boleh mogok, ini kan yang dirugikan masyarakat, khususnya penumpang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: