Kasus Nazaruddin Akan Seperti Gayus, Tidak Akan Terungkap Semua


Rabu, 27/07/2011 08:29 WIB
Kasus Nazaruddin Akan Seperti Gayus, Tidak Akan Terungkap Semua
Mega Putra Ratya – detikNews

Kasus Nazaruddin Akan Seperti Gayus, Tidak Akan Terungkap Semua

Jakarta – Meski sudah masuk ke pengadilan, penegak hukum masih belum bisa mengungkap kasus Gayus Tambunan secara menyeluruh. Sama dengan kasus Gayus, kasus Nazaruddin juga dinilai tidak akan terungkap semua.

“Bahkan kita mengira kepulangan Gayus ke tanah air akan menumbangkan banyak orang dan mempermalukan para pelaku korupsi serta merontokkan daftar perusahaan penyuap Gayus. Tragisnya, kembalinya Gayus ke tanah air, kita ketahui malah membikin persoalan jadi ruwet dan tidak jelas,” ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B Nahrawardaya kepada detikcom, Selasa (27/7/2011).

Mustofa mengatakan pria PNS golongan III A dengan gaji kisaran antara Rp 1.655.800 – Rp 1.869.300 per bulan ini, sepertinya menjadi ruwet justru akibat terungkapnya nilai kekayaannya yang melimpah mencapai Rp 25 M dan kemudian membengkak menjadi hampir Rp 80 M dalam keterangannya di pengadilan. Sampai saat ini, kejelasan keterlibatan Gayus, maupun 151 perusahaan yang beberapa diantaranya milik pengusaha Abu Rizal Bakrie itu, tidak lagi bisa diketahui.

“Hilang seperti angin. Bahkan, semakin lama proses pengadilan, pengakuan Gayus semakin aneh dan tidak ada yang bisa mengawasi bagaimana akhir milyader itu kaitannya dengan ratusan perusahaan serta dugaan suap yang melibatkannya,” ungkapnya.

Nilai kerugian negara yang dilakukan oleh Gayus, lanjut Mustofa, tidak sampai Rp 100 M. Pihak yang melibatkannya, mungkin hanya pengusaha dan oknum polisi.

“Nazaruddin nilainya berkali lipat. Bendahara Umum Partai Demokrat yang sudah dipecat itu, bahkan menyeret Partai penguasa Republik ini,” jelasnya.

Nazaruddin menyebut Menpora Andi Mallaranggeng, Ketua Umum PD Anas Urbaningrum, beberapa anggota DPR RI dari PD dan anak Presiden RI Edhie Baskoro Yudhoyono juga disebut menerima cipratan uang proyek Wisma Atlet. Tak hanya itu, Nazaruddin juga menyebut hampir seluruh isi KPK menjadi perampok uang negara.

“Anehnya, seseorang yang telah melambungkan namanya, yakni Mahfud MD maupun Sekjen MK Djanedri malah tidak diblow up seperti yang lain oleh Nazaruddin. Puncaknya, ukuran dari besarnya kasus Nazaruddin adalah ketika SBY menggelar jumpa pers meminta pulang Nazaruddin,” paparnya.

Jika dilihat dari perbandingan kedua kasus itu, tampaknya soal Nazaruddin akan lebih rumit. Selain itu kasus ini juga akan melibatkan banyak kepentingan mulai dari Presiden SBY yang juga Ketua Dewan Pembina PD, KPK, Polisi, Kementrian Pemuda dan Olahraga, DPR, Fraksi PD, DPP PD, MK, Anas Urbaningrum, dan sederet rekanan yang tidak mau terbongkar pekerjaan mafia kotornya dalam kasua Nazaruddin.

Ada dua kemugkinan yang terjadi. Pertama, Nazaruddin sebenarnya sudah diketahui keberadaannya, namun dibiarkan berada di tempat terasing. Selama situasi bisa dibuat simpang siur, Nazaruddin akan dibiarkan tetap misterius.

“Kelompok-kelompok yang tidak ingin Nazaruddin pulang, akan berusaha keras agar Nazaruddin terus menerus melakukan testimoni melalui media massa, dengan harapan yang bersangkutan bisa dituduh sebagai pengecut dan tukang bohong yang tidak memiliki sikap ksatria dan tidak gentleman.

“Nazaruddin akan terus disetting sedemikian rupa, sebagai orang yang tidak kosisisten, pembohong, dan tidak bisa dipercaya. Suatu saat jika sudah terjadi perpindahan kekuasaan, Nazaruddin akan ‘dikembalikan’ atau lebih miris lagi, malah dilenyapkan,” tuturnya.

Kedua, lanjut Mustofa, Nazaruddin sebenarnya sedang disembunyikan di suatu tempat. Namun sang sutradara sedang menunggu reaksi masyarakat. Jika reaksi masyarakat sudah pada puncaknya, maka akan disusun skenario seolah-olah ada penangkapan setelah diterbitkannya red notice. Nazaruddin pun dipulangkan.

“Namun sekali lagi, setelah kepulangannya ke tanah air, persoalan akan dibuat sedemikian rumit, dan kasusnya akan menguap begitu saja hingga Pemilu 2014 mendatang. Proses penyidikan dan pengadilan yang bertele-tele, kemudian akan lenyap ditelan kasus lain yang biasanya datang silih berganti untuk dibuat sedemikian rupa agar saling bisa dilupakan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut Mustofa, meskipun Nazaruddin pulang sekalipun, tidak akan banyak manfaat yang bisa diambil oleh masyarakat. Karena, sepertinya penguasa sudah hafal betul dengan sifat masyarakat kita, bahwa kita mudah sekali lupa atas peristiwa yang telah lampau.

“Masyarakat mudah amnesia ketika masalah datang silih berganti dan saling menutupi. Dan, yang paling aman bagi semua pihak yang merasa takut atas ocehan Nazaruddin adalah, apabila Nazaruddin pulang dalam kondisi mati. Setidaknya sebelum menginjakkan kaki di halaman KPK atau kantor polisi,” tegasnya.

(mpr/van)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: