IIF Siap Danai Proyek Tol Mangkrak


investor daily 29 September 2011

JAKARTA – PT Indonesia Infrastructure Finance
(PT IIF) siap mendanai pembangunan proyek-proyek
tol mangkrak di Tanah Air. Saat ini, terdapat tiga
proyek jalan tol yang masih terkendala pendanaan
dari total 24 proyek tol mangkrak, yakni Cikampek-
Palimanan, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu,
dan Pasuruan-Probolinggo.
“Setidaknya ada satu yang sudah
siap PT IIF danai. Kami belum bisa
sebut ruas mana. Sedangkan yang
lain akan dilihat kelayakannya,” kata
Presiden Direktur PT Sarana Multi
Infrastruktur (PT SMI) Emma Sri
Martini, usai rapat dengar pendapat
(RDP) dengan Komisi XI DPR di
Gedung DPR Jakarta, Rabu (28/9).
Sementara itu, Kepala Badan
Pengatur Jalan Tol (BPJT) mengatakan,
dari 24 proyek tol mangkrak
yang terkendala pendanaan ada
tiga proyek tol dengan total nilai investasi
Rp 21,8 triliun. Rinciannya,
Cikampek-Palimanan panjang 116
kilometer (km) dan investasi Rp
11,3 triliun, Bekasi-Cawang-Kampung
Melayu (Becakayu) panjang
21,04 km dengan investasi Rp 7,2
triliun, dan Pasuruan-Probolinggo
panjang 45,32 km dengan total investasi
Rp 3,3 triliun.
Emma mengatakan, saat ini PT IIF
memiliki dana hampir Rp 3,5 triliun
yang siap dikucurkan untuk pembiayaan
proyek-proyek infrastruktur
di Tanah Air, termasuk proyek jalan
tol. PT IIF hingga kini memang sama
sekali belum melakukan pembiayaan
proyek infrastruktur. PT IIF
baru dalam tahap melakukan identifikasi
proyek.
“PT IIF masih terus identifikasi
proyek, termasuk 24 proyek tol
mangkrak. Meski PT IIF siap masuk
di salah satu tol yang terkendala
dana, belum bisa disebutkan nama
ruas tolnya, karena ini sangat tergantung
kesiapan proyek tol itu
sendiri,” kata dia.
PT IIF didirikan pada 15 Januari
2010 dengan ditandatanganinya
akta pendirian dan shareholders agreement
antara PT SMI, Asia Development
Bank (ADB), Wolr Bank,
dan International Finance Corporation
(IFC). PT IIF didirikan karena
saat ini lembaga pembiayaan yang
ada, termasuk perbankan, tidak sepenuhnya
dapat memberikan pendanaan
untuk proyek infrastruktur
yang memiliki karakteristik pembiayaan
dengan tenor jangka panjang
dan memiliki risiko tinggi.
Emma mengatakan, keterlibatan
PT IIF untuk membiayai 24 tol
mangkrak sangat memungkinkan.
Karena dalam analisis PT IIF, kesenjangan
(gap) atau kekurangan
pembiayaan oleh badan usaha jalan
tol (BUJT) maupun lembaga keuangan
atau perbankan masih cukup
tinggi. PT IIF mungkin akan
masuk dengan berkolaborasi dengan
para lender financial atau
pemberi pinjaman yang sebelumnya
sudah digandeng oleh BUJT
bersangkutan.
“Kalau soal modal PT IIF tak masalah,
sebab kini PT IIF sudah memiliki
modal dari ekuitas sebesar Rp
1,6 triliun dan dari pinjaman (loan)
US$ 200 juta. Jika modal ini sudah
terserap untuk pembiayaan, pemegang
saham PT IIF, baik PT SMI,
ADB, World Bank, maupun IFC siap
menambah modal lagi,” ungkap dia.
Menurut Emma, selain membiayai
proyek tol, PT IIF juga membiayai
proyek infrastruktur lain, seperti rel
kereta api (KA), pelabuhan, bandara,
pembangkit listrik, hingga proyek
perpipaan. PT IIF tak hanya fokus
pada pembiayaan proyek-proyek
swasta, namun juga proyek-proyek
lain yang juga dikerjakan oleh badan
usaha milik negara (BUMN).
Terganjal Pendanaan
Kepala BPJT Ahmad Ghani Gazali
mengatakan, saat ini sedikitnya terdapat
tujuh proyek tol mangkrak
yang belum mengamendemen perjanjian
pengusahaan jalan tol
(PPJT) sebagai bukti awal tol mangkrak
siap dilanjutkan. BPJT telah
mengevaluasi 24 proyek tol mangkrak,
dan 17 di antaranya siap dilanjutkan
dengan ditandatanganinya
amendemen PPJT antara BUJT
dan pemerintah melalui BUJT.
Tujuh tol mangkrak yang hingga
kini belum memasuki proses amendemen
PPJT adalah Cikampek-Palimanan
(PT Lintas Marga Sedaya),
Batang-Semarang (PT Marga Setiapuritama),
Semarang-Solo (PT
Trans Marga Jateng), Bekasi-Cawang-
Kampung Melayu (PT Kresna
Kusuma Dyandra Marga), Waru
Wonokromo-Tanjung Perak (PT Margaraya
Jawa Tol), Pasuruan-Probolinggo
(PT Trans Jawa Pas Pro), dan
Ciawi-Sukabumi (PT Trans Jabar Tol).
Ghani menuturkan, dari tujuh
ruas tol tersebut tiga di antaranya
memang terkendala pendanaan,
yakni tol Bekasi-Cawang-Kampung
Melayu, Cikampek-Palimanan, dan
Pasuruan-Probolinggo. Sedangkan
tol Batang-Semarang karena persoalan
kepemilikan saham, tol Semarang-
Solo karena proses dukungan
pemerintah Rp 1,9 triliun
yang belum disetujui Kementerian
Keuangan, dan tol Waru Wonokromo-
Tanjung Perak yang masih
bermasalah dengan persoalan tata
ruang setempat. Sedangkan tol Ciawi-
Sukabumi terkendala dengan
persoalan internal dengan salah
satu pemegang saham.
“Beberapa di antaranya memang
ada persoalan pendanaan, misalnya
tol Cikampek-Palimanan belum ada
kesepakatan antara pemerintah,
BUJT, dan perbankan. Kami berharap
semuanya segera diamendemen,”
ungkap dia. (imm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: