Bangkitkan Percaya Diri!


Jumat,
30 September 2011
BERAS
Bangkitkan Percaya Diri!

Dua sampai lima kali menanam dan terus gagal panen telah meruntuhkan rasa percaya diri petani di sentra-sentra produksi beras di Jawa.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas hama wereng batang coklat dalam dua tahun terakhir ini. Upaya itu mulai dari menyemprotkan pestisida, mengganti benih varietas unggul, hingga menunda musim tanam satu dua bulan.

Pengamatan Kompas dua pekan di Jawa menunjukkan, semua anjuran petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) sudah diikuti. Hasilnya setali tiga uang. Di sentra yang lain, PPL bahkan sampai tak berani datang dan memberi saran kepada petani karena putus asa dan hilang akal.

Petani makin gelap mata. Mereka sudah tidak mampu berpikir rasional lagi. Langkah-langkah ekstrem memberantas wereng dilakukan, sekalipun tidak lazim dan membahayakan keselamatan jiwa dan lingkungan.

Kabar burung pun berembus ke sana kemari. Sebagian petani termakan. Begitu ada kabar wereng bisa mati disemprot autan, obat nyamuk, petani melakukannya.

Lain waktu mereka mengusir wereng dengan bahan bakar solar. Segala cara yang dilakukan petani hanya bermuara pada satu keinginan, bagaimana caranya mereka bisa panen.

Wereng itu jahat. Dia datang dan meluluhlantakkan tanaman padi petani saat bulir padi muncul. Pada saat lebih dari 75 persen biaya produksi petani dikeluarkan.

Bagi petani, wereng setara dengan teroris dan koruptor. Hewan kecil itu telah menghancurkan hidup mereka. Mengakibatkan mereka berutang ke sana kemari, menjual harta benda untuk mengulang modal tanam dan kembali mengulang kegagalan.

Di kalangan petani, jamak terdengar istilah wereng ”makan” kambing, gelang, dan banyak lagi harta benda lain yang terpaksa dijual untuk modal tanam, lalu habis untuk pesta wereng.

Yang membuat hati petani tercabik-cabik, di tengah lelah berperang kalah melawan wereng, pemerintah pusat dan daerah seperti tidak peduli. Para pejabat justru sibuk bicara soal surplus produksi beras.

Makin kesal lagi petani, ketika para pejabat itu tidak menjenguk mereka yang sedang kesusahan, tetapi justru datang ke desa tetangga dan melakukan panen padi di sepetak lahan yang kebetulan tidak terserang wereng. Sementara di sekelilingnya ludes. Petani merasa sendiri.

Sekalipun pemerintah absen saat petani kesusahan, pemerintah tahun 2011 memutuskan mengganti biaya gagal panen Rp 3,7 juta per hektar. Dana dialokasikan Rp 370 miliar untuk 100.000 hektar areal tanaman padi yang puso.

Jangankan tahu prosedur mendapatkannya, informasi soal penggantian biaya gagal panen pun tidak sampai ke telinga petani.

Namun, tak ada pilihan. Hidup harus terus berjalan. Kita menyaksikan harga beras terus melambung. (HERMAS E PRABOWO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: