Jangan Tunda Kalibaru


Kebiasaan menerima “pelicin” project, jadi sulit bekerja sesuai prosedur dan bersih !

Minggu, 30 Oktober 2011
PELABUHAN
Jangan Tunda Kalibaru
Beberapa bulan silam, sejumlah pejabat eselon II di Kementerian Pekerjaan Umum mengisahkan lawatan mereka ke Jepang, negara yang selama ini dikenal acap kali memberi pinjaman lunak.

Ada inovasi dan terobosan yang dapat dipelajari. Kemampuan teknik sipil untuk pekerjaan konstruksi praktis sudah dikuasai bangsa ini. Tidak hanya para kontraktor. Sebagian besar birokrat kita juga bicara ”satu bahasa” dengan ahli teknik Jepang. Maklum, banyak birokrat kita menyandang gelar master teknik dari sejumlah universitas kelas dunia.

Hanya saja, ketika berkeliling ke banyak kantor dan markas pimpinan proyek di Jepang, ditemukan kejanggalan umum. ”Tidak ada tabel progres proyek” gugat para pejabat PU itu.

”Tak perlu tabel. Kalau ditentukan tender bulan September, maka tender pasti bulan itu. Bila bulan Desember ada ground- breaking, maka pekerjaan dimulai juga bulan Desember,” jawab pihak Jepang.

Konsistensi dan keberanian mengeksekusi proyek yang tak dimiliki di negeri ini. Akibatnya, infrastruktur kita bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Jepang.

Ketiadaan infrastruktur pula yang menyebabkan kita ”gagap” saat harus merebut porsi industri dari Thailand, yang kini dilanda banjir. Pelabuhan kumuh dan minim alat kerja.

Pada 26 April, ditunda tender kereta ekspres Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga kuartal I-2012. Pada awal Oktober 2011, tender ulang jalur rel double-double track (DDT) Manggarai hingga Cikarang (32 kilometer).

Memang ada prosedur. Ada kehati-hatian supaya tak berujung di bui. Namun, apakah sepadan sikap tadi dengan tidak terbangunnya infrastruktur yang membuat begitu beratnya perjalanan menuju Soekarno-Hatta?

Pekan ini, kembali ditundanya jadwal tender Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok. Diusulkan ekstra 4-6 bulan supaya investor sanggup menyiapkan dokumen tender.

Padahal, perluasan Priok sangat mendesak. Dengan 6 juta twenty foot equivalent units (TEU) per tahun, misalnya, Tanjung Priok hanya seruas kuku Pelabuhan Singapura dengan 25 juta TEU per tahun.

Sudah bukan masanya menunggu kesiapan investor. Kalibaru juga sudah didengungkan bertahun-tahun. Jenuhnya kapasitas Tanjung Priok juga sudah diprediksi lama. Studi dari Jepang pun dapat diunduh dari internet.

Kementerian Koordinator Perekonomian, sebagai agen percepatan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), perlu paham, negara ini dalam kondisi darurat infrastruktur. Jangan menunda-nunda lagi.

Tegasnya, bila ada investor seperti PT Pelindo II yang siap membangun pada akhir tahun, maka terbitkan peraturan presiden tersendiri. Terlebih bila ada indikasi kebuntuan tender.

Belum lagi, RJ Lino, Direktur Utama Pelindo II, menegaskan, sudah ada uang di tangan. Lalu menunggu apa? Buat apa berlari-lari di tempat? Capek! (HARYO DAMARDONO)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: