2 BUMN Bayar “Fee” kepada Nazaruddin


KASUS WISMA ATLET

2 BUMN Bayar “Fee” kepada Nazaruddin
KOMPAS/RIZA FATHONI
Saksi Oktarina Furi, pegawai bagian keuangan di Grup Permai, diperiksa dalam persidangan kasus suap wisma atlet di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (27/1).

Jakarta, Kompas – Badan usaha milik negara di bidang konstruksi, PT Adhi Karya dan Pembangunan Perumahan, tercatat menjadi salah satu pembayar commitment fee kepada Grup Permai, perusahaan milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Fee tersebut diberikan karena Grup Permai telah membantu kedua BUMN itu mendapatkan proyek pemerintah.

Hal itu diungkapkan mantan staf keuangan Grup Permai, Oktarina Furi, ketika menjadi saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi wisma atlet dengan terdakwa Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (27/1).

Oktarina mengatakan, perusahaannya juga pernah menerima beberapa kali cek dari PT Duta Graha Indah (DGI) sebagai fee sehubungan dengan proyek pembangunan wisma atlet yang mereka bangun. ”Saya wajib melaporkan kepada Bu Yulianis (Wakil Direktur Keuangan Grup Permai). Setiap uang dari PP (Pembangunan Perumahan), Adhi Karya, dan PT DGI masuk ke brankas x (eksternal, di kantor Grup Permai) dan dibukukan di buku manual,” kata Oktarina.

Dalam persidangan sebelumnya, Yulianis bersaksi, tenaga pemasar di anak perusahaan Grup Permai biasa mendapatkan proyek pemerintah yang dibahas di DPR dengan cara memberikan sejumlah uang ke anggota DPR.

Oktarina menyebut, anggota Badan Anggaran dari Fraksi PDI-P, I Wayan Koster, menerima uang dalam bentuk dollar Amerika Serikat (AS) terkait proyek universitas.

Saat jaksa KPK bertanya apakah ada pemberian uang kepada Wayan Koster, Oktarina menjawab, ”Pernah, tetapi itu bukan wisma atlet, proyek lain. Permintaan pemberian itu atas pengajuan Bu Rosa (Mindo Rosalina Manulang, Direktur Marketing PT Anak Negeri, salah satu anak perusahaan Grup Permai) yang disetujui Pak Nazar.”

Oktarina juga membenarkan kata sandi untuk uang rupiah, yakni ”apel malang” dan ”apel washinton” untuk uang dollar AS. Kata sandi ini digunakan dalam pembicaraan Blackberry Messenger antara Mindo dan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh. Dia juga membenarkan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum beberapa kali terlihat di kantor Grup Permai.

Dalam persidangan juga terungkap, Nazaruddin menggunakan beberapa nama alias dalam pembukuan perusahaan untuk kepentingan pemberian uang kepada anggota DPR. Beberapa nama alias Nazaruddin yang tercatat di pembukuan Grup Permai adalah Amin R, Mister Mercy, dan Mister Lucky.

Jaksa Anang Supriatna menunjukkan bukti catatan pengeluaran untuk Amin R sebesar 300.000 dollar AS dan anggota DPR sebesar 400.000 dollar AS. ”Amin R itu maksudnya Pak Nazaruddin,” kata Oktarina. (BIL)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: