Industri Baja Nasional Masih Tertinggal


Rabu,
29 Februari 2012
INDUSTRI
Industri Baja Nasional Masih Tertinggal
Jakarta, Kompas – Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan, pemerintah akan mengembangkan industri baja nasional menjadi industri baja yang modern. Selama ini, industri baja nasional cukup tertinggal.

Hidayat mengungkapkan hal ini di Kompleks PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, di Cilegon, Serang, Selasa (28/2), saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kesempatan itu, Presiden antara lain mendengarkan penjelasan kesiapan PT Krakatau Steel mendukung Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

Acara itu juga dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Pada kesempatan itu, Hidayat menegaskan, pelat baja yang diproduksi industri baja nasional guna keperluan di bidang perkapalan, mesin, dan otomotif belum mampu bersaing dengan produk asing.

Konsumsi baja nasional pun masih rendah, yakni 30-an kilogram per kapita. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan dengan konsumsi baja di Malaysia (256 kilogram per kapita), Singapura (115 kilogram per kapita), dan China (470 kilogram per kapita).

Melihat itu semua, menurut Hidayat, pemerintah sangat mendorong para investor untuk ikut memproduksi baja khusus yang diperlukan di bidang otomotif serta perkapalan.

Dalam rangka mendukung perkembangan industri baja nasional menjadi lebih maju, PT Krakatau Steel menjalin kerja sama dengan Pohang Iron and Steel Company (Korea Selatan). Kedua perusahaan itu membentuk proyek patungan lewat PT Krakatau Posco.

”Hasil produksi PT Krakatau Posco akan digunakan untuk bidang-bidang khusus tersebut,” tutur Hidayat.

Namun, ia juga menyampaikan, ada sejumlah kendala untuk memajukan baja nasional, antara lain, ekspor bijih besi dan batubara berkalori tinggi yang tidak terkendali. Solusinya, diperlukan perubahan regulasi agar kedua material itu tidak mudah dijual ke negara lain.

Peran penting

Presiden Yudhoyono menyatakan, industri baja memegang peranan sangat penting di sebuah negara. Kemajuan industri baja akan memacu pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

”Industri baja penting karena bisa masuk ke berbagai sektor. Mengembangkan industri baja akan memperluas pertumbuhan ekonomi kita. Ini adalah salah satu pilar perekonomian nasional,” kata Yudhoyono menjelaskan.

Menurut Yudhoyono, lewat Rencana Induk, Indonesia ingin memiliki perekonomian yang tumbuh lebih tinggi lagi pada 15 tahun mendatang. Untuk itu, dibutuhkan pembangunan infrastruktur dan manufaktur besar-besaran.

”Semua ini memerlukan baja sebagai pilar utama. Ini merupakan investasi jangka panjang menuju negara industri tangguh,” kata Yudhoyono. (ATO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: