Penerimaan Tangguh Rp 2,75 Triliun


Sabtu,
31 Maret 2012
GAS ALAM CAIR
Penerimaan Tangguh Rp 2,75 Triliun
Jakarta, Kompas – Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi menargetkan, penerimaan negara dari unit (train) 1 dan 2 proyek Kilang LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat, pada tahun 2013 mencapai 300 juta dollar AS atau setara dengan Rp 2,75 triliun. Penerimaan negara ini akan diperoleh setelah pembiayaan proyek tersebut balik modal pada tahun ini.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R Priyono menyampaikan hal itu di sela acara diskusi bertema ”Industri Hulu Migas sebagai Unsur Utama Ketahanan Energi Nasional”, Jumat (30/3), di Jakarta.

Penerimaan negara dari Tangguh diperkirakan 300 juta dollar AS tahun 2013 karena sudah tidak ada lagi pembiayaan untuk pembangunan proyek Tangguh train 1 dan 2 serta kenaikan harga minyak mentah sangat tinggi. ”Jadi sudah balik modal. Kami menduga sudah dapat 300 juta dollar AS dari Tangguh 1 dan 2. Daerah juga akan mulai mendapat dana bagi hasil,” kata dia.

Menurut Priyono, penerimaan negara dari Tangguh itu belum memperhitungkan renegosiasi kontrak penjualan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Tangguh ke Fujiyan, China, dan pengalihan jatah LNG untuk Sempra Energy, perusahaan asal Amerika Serikat. ”Jika renegosiasi kedua kontrak penjualan gas itu berhasil, maka penerimaan negara dari Tangguh akan lebih besar lagi,” ujarnya.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana menyatakan, rencana renegosiasi kontrak penjualan gas dari proyek itu ke pembeli di Fujian, China, sedang dibahas di lingkungan intern pemerintah. Harga LNG Tangguh ke Fujian, China, saat ini dipatok tetap pada angka 3,35 dollar AS per juta satuan panas inggris (million metric british thermal unit/MMBTU). Harga gas ke China itu memakai batas atas harga minyak sesuai patokan Japan Cocktail Crude 38 dollar AS per barrel.

BP Migas tengah merenegosiasi kontrak dengan perusahaan pembeli dari China secara informal. Akan tetapi, keputusan akhir harga LNG itu tidak dapat lewat negosiasi bisnis, tetapi harus memakai skema renegosiasi antara Pemerintah Indonesia dan China. ”Saya dengar, dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China, ada lampu hijau dari pemerintah sana untuk memulai renegosiasi,” kata Priyono.

Selain itu, negosiasi dengan perusahaan berbasis di Amerika Serikat, Sempra Energy LNG, untuk mengalihkan jatah pasokan LNG bagi perusahaan tersebut direncanakan akan selesai pada awal Mei nanti. Manajemen Sempra bersedia jika jatah gas miliknya dari Kilang Tangguh dikurangi karena harga LNG di Amerika Utara terus menurun hingga mencapai 3 dollar AS per MMBTU, bahkan ada kecenderungan harganya turun lagi menjadi 2 dollar AS per MMBTU.

Priyono menjelaskan, jika hasil produksi LNG dari Tangguh dijual ke Sempra, kemungkinan harganya hanya berkisar 4-6 dollar AS per MMBTU. (EVY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: