Ini Alasan Dahlan Sebut Produsen Film ‘Si Unyil’ Sudah Mati


detikFinance » Ekonomi Bisnis
Senin, 30/04/2012 20:24 WIB
Ini Alasan Dahlan Sebut Produsen Film ‘Si Unyil’ Sudah Mati
Rista Rama Dhany – detikFinance

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menganggap Perum Produksi Film Negara (PFN) sudah ‘mati’. Sejatinya Dahlan tidak ingin perusahaan BUMN yang sehat mengakusisi produsen film ‘si Unyil’ tersebut.

Ia menyebutkan setidaknya ada tiga alasan, mengapa ia sebut PFN sudah mati. Alasan Pertama, Dahlan tidak ingin menghidupkan kembali PFN karena industri film pada dasarnya harus kreatif.

“Industri film harus ada kompetensi, dimana harus kreatif, namun jika masuk dalam BUMN tidak bisa, karena di BUMN semuanya terkungkung,” ujar Dahlan di hadapan Alumni Prasetya Mulya di acara Inspiring talk with Dahlan Iskan di Financial Hall, Graha CIMB Niaga Jl. Sudirman kav 58, Senin (30/4/2012).

Alasan kedua, Industri film harus bebas, tidak mungkin terkungkung di dalam sistem negara yang ada didalam BUMN. “Dan ketiga, tentunya industri film harus independen, jadi tidak mungkin diambil alih ke perusahaan BUMN hanya untuk menyelamatkan PFN,” ujar Dahlan.

Menurut Dahlan, kecuali industri film bisa dikuasai negara atau ada di perusahaan negara apabila di negara tersebut menganut sistem komunis.

“Kalau di komunis, dimana semua sistem diatur dan dikuasi negara itu baru bisa. Nah di sistem kita, ketiga hal kreatif, bebas dan independen tidak akan bisa dimiliki kalau industri film ada didalam BUMN,” jelasnya.

Terkait, nasib karya seni bersejarah yang dimiliki PFN setelah diakusisi. Dahlan menyebut bahwa karya bersejarah yang ada telah dititipkan di Lembaga Arsip Nasional.

“Begini heritage akan kita serahkan ke arsip nasional, kebutulan sekarang barang-barangnya sudah ada disana di arsip nasional, cuma sifatnya baru dititipkan disana nah nanti akan kita serahkan sepenuhnya disana, dengan demikian PFN tidak punya lagi kekayaan yang dalam pengertian heritage atau kekayaan kebudayaan itu,” tutup Dahlan.

Dahlan sebelumnya pernah menegaskan PFN merupakan perusahaan yang sudah ‘almarhum’ atau tiada atau dalam arti sebenarnya sudah pailit. Dahlan menilai, PFN sudah ‘meninggal’ karena sudah tidak produktif dan tidak bersaing dengan swasta bahkan menimbulkan persoalan.

“Mau dikubur, sebenarnya sudah mati tapi belum dikubur saja,” ungkap Dahlan ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (30/4/2012).

(rrd/hen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: