Proyek Mobil Hybrid Dipercepat


Seberapa cepat ??? Pemerintahan ini tidak pernah berhasil mempercepat proyek, kecuali ada “bancakannya”..

Investor daily 31 Mei 2012

JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) MS
Hidayat dan Menteri Keuangan (Menkeu) Agus D
Martowardojo menyepakati pemberian insentif fiskal
untuk mempercepat proyek mobil hybrid di Tanah Air.
Mobil ini diharapkan bisa diproduksi 1-2 tahun ke depan.
Oleh Damiana N Simanjuntak

JAKARTA – Implementasi pemberian insentif fiskal
untuk investasi sektor tertentu (tax holiday) berjalan
sangat lamban. Pasalnya, sejak penerbitan Peraturan
Menteri Keuangan (PMK) 130/2011 mengenai pemberian
tax holiday pada Agustus 2011, baru satu proposal
yang masuk ke meja menteri keuangan (menkeu).
“Yang masuk itu baru proposal dari Unilever sekitar
Maret 2012, yang diajukan melalui menteri perindustrian.
Jadi, baru dari Kemenperin. Itu pun belum ada
perkembangan,” kata Kepala Badan Pengkajian Kebijakan
Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) Arryanto Sagala di Jakarta,
Rabu (30/5).
Dia melanjutkan, perkembangan proposal tersebut
masih belum terlihat karena belum ada pembahasan
oleh Komite Verifikasi. Dalam alur pengajuan tax holiday,
proposal disampaikan ke menkeu, kemudian
dibahas Tim Teknis Kementerian Keuangan, lalu
dibahas Komite Verifikasi untuk dievaluasi, dan terakhir,
menkeu menyampaikan ke menko perekonomian untuk
dibahas dan diajukan ke presiden.
Arryanto mengaku, dirinya belum mengetahui proses
pembahasan Tim Teknis Kemenkeu atas proposal
Unilever. Padahal berdasarkan aturannya, pembahasan
Tim Teknis seharusnya hanya sekitar 30 hari.
“Saya juga tidak tahu. Kami malu karena dulu kami
yang mendorong perusahaan mengajukan permohonan
pemberian insentif ini. Kalau masih belum juga, saya
akan surati mereka (Kemenkeu) untuk mempertanyakan
kenapa lama sekali?” kata Arryanto.
Seperti diketahui, Unilever akan membangun pabrik
pengolahan fatty alcohol dan surfactant di Sei Mangkei,
Simalungun, Sumatera Utara. Investasi untuk pembangunan
pabrik itu diperkirakan menelan dana hingga
Rp 1,2 triliun.
Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo
mengatakan, pembahasan mengenai tax holiday
siap dilakukan setelah studi oleh BKPM dan Kemenperin
selesai. “Beberapa sudah dilakukan dan sudah ada yang
presentasi rencana (investasinya), itu dari berbagai industri.
Secara detailnya, saya belum bisa jelaskan sekarang.
Berapa proposal yang sudah masuk, saya belum
bisa jawab,” kata Agus, usai bertemu Menteri Perindustrian
MS Hidayat, kemarin.
Sebelumnya, sebanyak 87 jenis produk dari lima sektor
industri, yakni logam dasar, pengilangan miyak bumi dan
atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak
bumi dan gas alam, permesinan, sumber daya terbarukan
dan peralatan komunikasi bisa mendapatkan fasilitas tax
holiday selama kurun waktu 5-10 tahun.
Jenis produk itu terdiri atas 35 di sektor industri logam
dasar, yakni 20-21 jenis di industri pengilangan miyak bumi
dan atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak
bumi dan gas alam, 17 pada industri permesinan, 10 jenis
pada industri bidang sumber daya terbarukan, dan empat
jenis produk pada industri peralatan komunikasi.
Sementara itu, Arryanto juga menyampaikan,
pihaknya baru mengembalikan proposal pembangunan
pabrik butadiene yang diajukan oleh PT Chandra Asri
Petrochemical Tbk. Proposal dikembalikan karena
perseroan memasukkan modal kerja dalam perhitungan
total investasi yang direncanakan.
“Padahal jika sesuai aturan modal kerja tidak termasuk,
hanya nilai investasinya. Jadi, kami kembalikan
proposalnya. Karena percuma diajukan kalau nanti
kurang dari Rp 1 triliun. Mereka akan konfirmasi lagi,”
imbuh Arr yanto. (eme)
Pemerintah pun segera membuat payung
hukumnya, yang disebut dengan
program mobil berteknologi rendah emisi
karbon (low carbon emission). Selain
mobil hybrid, aturan tersebut juga akan
mengatur insentif mobil listrik, mobil murah
dan ramah lingkungan (low cost and
green car/LCGC), dan mobil advance.
“Tadi, kami bicara soal hybrid. Kami
sudah ada kesepakatan mengenai konsep
dasar pemberian insentif fiskal kepada
produsen mobil hybrid,” ujar Hidayat,
seusai dikunjungi Agus di Kementerian
Perindustrian, Jakarta, Rabu (30/5).
Untuk mencari masukan, Menperin pun
akan memanggil produsen atau agen tunggal
pemegang merek (ATPM) yang tertarik
memproduksi mobil hybrid di Tanah
Air pekan depan. Mobil hybrid dikenal
hemat energi karena memiliki mesin ganda,
yakni berbahan bakar listrik dan bahan
bakar minyak (BBM).
Hidayat menambahkan, produsen yang
sudah maju lebih dulu untuk memasarkan
mobil hybrid di Indonesia adalah Toyota,
yang sudah memasarkan Prius dan Camry.

Dua mobil tersebut saat ini masih diimpor
utuh dan diproduksi terbatas, sehingga harganya
di atas Rp 600 juta per unit.
Produsen lain juga terbuka mengajukan
jika sudah mengaplikasi teknologi tersebut.
Dia menjelaskan, berdasarkan kesepakatan
bersama (Menperin dan Menkeu),
insentif fiskal akan diberikan berdasarkan
pada komitmen produsen memproduksi
mobil tersebut di dalam negeri.
“Kemudian, produsen diharapkan
meningkatkan dari manufacturing ke
lokalisasi komponen. Itu (regulasi insentif)
akan selesai pekan ini. Yang jelas,
sudah ada kesepakatan, tinggal menunggu
prosedurnya,” tegas Hidayat.
Menkeu menambahkan, pihaknya
bersedia memberikan insentif fiskal untuk
program mobil berteknologi low
emission carbon, baik LCGC dan hybrid
karena bukan merupakan teknologi
yang sederhana. “Kami ingin menyampaikan
bahwa potensi pasar di sini baik.
Untuk itu, kami mengundang mereka
yang berkomitmen investasi untuk memproduksi
di Indonesia,” tegas Agus.
Mobil hybrid dan LCGC perlu diberikan
insentif agar harganya menjadi lebih murah.
Menurut Agus, ada 4-5 jenis mobil akan dikembangkan
dengan dukungan insentif.
Karena itu, Kementerian Keuangan juga memerlukan
dukungan dari Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) agar mobil-mobil
tersebut bisa diproduksi di dalam negeri.
Butuh Transisi
Agus pun mengakui, produksi mobil
berteknologi low emission carbon memerlukan
masa transisi sebelum dilakukan alih
teknologi dan bisa diproduksi di Tanah Air.
Karena itu, pemerintah akan memberikan
toleransi pemberian insentif kepada produsen
untuk mengimpor mobil hybrid sampai
bisa memproduksinya di Indonesia.
“Insentif untuk itu tetap terbuka.
Setidaknya, masa transisi membutuhkan
waktu 1-2 tahun,” imbuhnya.
Hidayat pernah menyampaikan, prinsipal
mobil asal Jepang, Toyota telah
meminta izin impor sementara mobil hybrid
selama 2-3 tahun sebelum memproduksinya
di Indonesia. Namun, dia
juga menegaskan, izin tersebut hanya
bisa diberikan maksimal 1-1,5 tahun.
“Transisi itu tetap akan kami dukung
dengan insentif fiskal. Tetapi, itu harus
sesuai dengan keseriusan prinsipal untuk
memproduksinya di dalam negeri.
Insentif (untuk impor) dapat dipertimbangkan,”
kata dia.
Program LCGC
Sementara itu, Agus belum bisa memastikan
tentang insentif fiskal untuk mobil
LCGC, apakah tetap memakai skema berupa
cukai. “Jangan tanya itu, tapi tanya rencananya
dulu. Kami sudah mempunyai
jawabannya,” ujar Agus, diplomatis.
Sementara itu, Dirjen Industri Unggulan
Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi
Darmadi menuturkan, dalam pertemuan
tersebut disepakati, pemerintah akan mempercepat
proses aspek legal untuk insentif
fiskal program LCGC. Rencananya, insentif
yang diberikan berupa pemotongan pajak
penjualan atas barang mewah (PPnBM).
“Itu yang akan diberikan karena beberapa
produsen sudah ada yang mau
investasi. Jadi, bagaimana caranya supaya
cepat. Kami pakai tatanan yang lebih
cepat dulu aja,” imbuh Budi.
Dihubungi terpisah, Direktur Pemasaran
dan Layanan Purnajual PT Honda Prospect

Motor (HPM) Jonfis Fandy mengatakan,
pihaknya akan ikut program produksi
LCGC meskipun konsekuensinya mobil
yang diproduksinya akan turun kelas.
“Kami belum tahu, apakah LCGC yang
disiapkan Honda Brio atau yang lain. Yang
pasti, kami harus merambah ke segmen
menengah ke bawah untuk memperbesar
volume penjualan dan semua tergantung
pada regulasi pemerintah,” katanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: