Kris Taenar Wiluan


Kris Taenar Wiluan
Diposting Oleh : editor pada Tanggal : Apr 4 2012.
Melalui Grup Citramas, Kris Taenar Wiluan menancapkan bisnisnya di Batam, bahkan mancanegara. Bagaimana salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes Asia ini membangun imperium bisnisnya?
Udara panas yang menyelimuti Kota Batam siang itu seperti sirna saat saya melihat pembuatan pipa baja raksasa yang diproduksi PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) di Kawasan Industri Kabil. Rasa kagum pun menyeruak karena orang Indonesia yang dikenal pandai membuat kerajinan ternyata bisa juga membuat pipa segede itu.
Pipa pesanan sebuah perusahaan Belanda itu akan digunakan untuk menyangga rig atau anjungan pengeboran minyak di lepas pantai. Tampak para pekerjanya yang terlihat kecil dibanding pipanya bergelayutan untuk merampungkan pipa yang terbuat dari lempengan baja supertebal itu.
DSAW adalah salah satu dari sederet perusahaan milik Kris Taenar Wiluan di bawah PT Citra Tubindo Tbk. (CT), perusahaan penyedia alat perminyakan dan gas yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau. Sejak 1989 CT tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang telah dimerger menjadi Bursa Efek Indonesia). Kini, setelah berkiprah selama 25 tahun, CT telah beranak pinak: memiliki 16 anak perusahaan yang tersebar di dalam dan luar negeri.
Nah, CT sendiri merupakan anak usaha PT Citra Agramasinti Nusantara atau Grup Citramas selaku induk perusahaan yang juga milik Kris. Citramas menjadi kendaraan Kris untuk mengembangkan bisnisnya. Di CT, Citramas memiliki 27,75% saham — selebihnya, 41,83% saham CT milik publik, 25% kepunyaan Vallourec & Mannesmann Tubes, dan 5,42% milik Sumitomo Metal Indutries Ltd.
Citramas saat ini memiliki 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan mancanegara. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta pariwisata seperti resor, lapangan golf, plus terminal feri dan yacth. Tak ketinggalan, bisnis yang baru dibesutnya, animasi film dan periklanan, yang digawangi anak keduanya, Michael Wiluan.
Selain menjabat sebagai presdir di CT dan Citramas, Kris sejak 2005 juga menjadi Chairman dan CEO SSH Corp., perusahaan publik di bursa Singapura. SSH merupakan salah satu distributor produk baja terbesar di Negeri Singa dengan kantor cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Lalu, sejak 2006, ia menduduki posisi Chairman dan CEO Aqua Terra Corp. — perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun lalu Kris didapuk sebagai Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan Amerika Serikat. Perusahaan ini meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion”. Di ketiga perusahaan ini pun, Kris tercatat sebagai salah seorang pemilik.
Di luar itu, lulusan Ilmu Matematika dan Komputer Universitas London ini pun menjadi nakhoda perusahaan keluarga yang dirintis ayahnya: Grup Citra Bonang. Kelompok usaha ini bergerak di industri pembuatan ragi untuk roti dan bahan kimia zinc oksid untuk campuran ban dan bahan obat-obatan. Perusahaan ini berbasis di Jakarta dengan cabang di Medan dan Surabaya.
Dengan sejumlah usahanya itu, pria berperawakan tinggi besar ini pun menyandang sejumlah predikat, antara lain, CEO of The Year versi Bisnis Indonesia (2007) dan salah satu orang terkaya 2007 versi Majalah Forbes Asia yang menaksir total kekayaan Kris di Citramas sebesar US$ 185 juta. Terakhir, ia masuk lima besar dalam survei The Best CEO versi Majalah SWA (bekerja sama dengan Synovate dan Dunamis) tahun 2008.
Membangun kerajaan bisnis sebesar itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Kelahiran Jakarta, 1948, ini merintis bisnisnya dari bawah. Setelah jadi profesional di sebuah perusahaan Inggris dan Singapura, Kris mulai menjalankan bisnisnya sendiri. Di tahun 1977, ia mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan (perusahaan logistik), pemasok dan operator logistik untuk berbagai perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia. Tak hanya itu, pada 1983 ia mulai membangun pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dengan mendirikan CT. Ia tak sendiri dalam mendirikan perusahaan itu; Dali Sofari yang pernah jadi Dirut CT adalah mitra utamanya.
Mantan Asisten Khusus Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1999 ini menceritakan jerih payahnya terjun ke bisnis peralatan perminyakan. Menurutnya, Indonesia saat itu kaya sumber minyak. Namun, anehnya, untuk menyimpan pipa-pipa pengeboran saja, harus ke Singapura. Perusahaan minyak yang akan melakukan pengeboran di Indonesia pun harus mendatangkan pipa dari negeri pulau tersebut. “Masak nyimpen pipa aja meski di Singapura,” ujar Kris.
Semenjak itu, ia tergugah untuk mengembangkan Batam sebagai tempat yang strategis buat menyimpan pipa-pipa untuk pengeboran minyak karena posisinya yang tak jauh dari Singapura, kendati saat itu pulau ini masih hutan belantara dan belum ada infrastruktur yang memadai. Kris yang ketika itu sudah memiliki perusahaan logistik mempunyai jaringan ke Pertamina — saat itu, dirutnya adalah A.R. Ramly — mengungkapkan gagasannya ke BUMN ini. Pihak Pertamina pun setuju membuat basecamp kecil tempat menyimpan alat peminyakan di Batu Ampar, Batam.
Pemerintah pun saat itu memiliki kebijakan bahwa perusahaan minyak, termasuk penyedia perlengkapannya, diberi insentif. Sebagai contoh, jika perlengkapan perminyakan dibuat di Batam, pemerintah memberikan sejumlah kemudahan. Sementara jika dikerjakan di Singapura, tidak ada insentif apa pun. Sejak saat itu, pelan-pelan penyimpanan alat perminyakan dipindahkan ke Batam.
Hanya saja, meski ada insentif, belum banyak yang tertarik karena Batam bukan pulau yang menarik. “Saat itu belum ada telepon dan listrik,” ia mengenang. Malah ia tak jarang terjun langsung membongkar-muat pipa-pipa yang baru datang dari luar negeri atau yang akan didistribusikan karena keterbatasan SDM. Untuk tempat tinggal, Kris bersama anak buahnya bertahun-tahun berada di dalam kontainer karena saat itu belum ada hotel atau tempat penginapan komersial di Batam. Hingga akhirnya ia mampu mendirikan kawasan perumahaan sendiri (Citramas Indah) untuk karyawannya.
Menghadirkan pipa ke Batam – biasanya ke Singapura — bukan tanpa risiko. Banyak pipa yang rusak dan dikomplain pelanggan. Akhirnya, Kris memberanikan diri mendirikan CT, pabrik perbaikan pipa minyak di Batam, dengan investasi sekitar US$ 4 juta. Itu pun hasil pinjaman bank. Tak hanya itu, ia mengungkapkan, “Waktu itu kami belum paham pembuatan pipa karena berteknologi tinggi.” Namun, Kris tak kehilangan akal. Ia dan timnya belajar keras tentang teknik pembuatan pipa minyak. Kris pergi ke Sumitomo untuk melihat pabrik pembuatan pipanya di Jepang. Tak hanya itu, ia pun memboyong tenaga ahli dari AS untuk mentransfer pengetahuan kepada karyawan CT.
Mantan General Manager UMW Corp., perusahaan mesin dan alat berat di Singapura, ini mengaku merasa diuntungkan dengan kebijakan pemerintah tentang peningkatan penggunaan produk dalam negeri. “Saat itu penggunaan produk dalam negeri, khususnya untuk industri perminyakan, akan mendapat prioritas,” katanya. Order pertama CT saat itu datang dari Huffco Indonesia (sekarang bernama Vico).
Meski ada perlindungan pemerintah, tetap saja bermain di bidang pipa perminyakan itu bukan hal yang gampang. Apalagi, banyak produk Indonesia yang diragukan karena umumnya perusahaan pertambangan lebih suka mengambil produk dari luar negeri. Terkadang perusahaan perminyakan itu merasa terpaksa. Sebagai contoh, tahun 1987 Exxon Mobile akan mengebor minyak di Arun. Perusahaan ini seolah-olah terpaksa harus membeli pipanya dari CT. Saking tidak percayanya, Exxon ini juga membeli pipa dari luar negeri.
Namun, Exxon yang dulu mencampakkan CT kini berbalik menjadi pelanggan setia. Bahkan pada 2007, CT dinobatkan sebagai pemasok terbaik di dunia dari Exxon Mobile. “Puas sekali yang tiada taranya selama dalam karier saya,” katanya terharu. Kini, CT memiliki sejumlah pelanggan kakap. Pelanggannya yang beroperasi di dalam negeri, antara lain, Pertamina, Arco, Caltex, Shell, Unocal, Conoco, Santos, BP, Vico dan British Gas. Adapun pelanggannya di luar negeri meliputi perusahaan minyak yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Selatan, juga Rusia, Kanada dan AS.
Perjalanan Kris membesarkan bisnisnya bisa dibagi menjadi dua fase. Pertama, 1983-89, masa penuh perjuangan agar produknya bisa diterima pasar. “Mulai awal 1990, CT sudah diterima perusahaan perminyakan karena mampu membuktikan produk yang dipasoknya bisa memenuhi keinginan pelanggan, “ujar Kris mengenang. Pada fase ini, ia mengaku bangga karena orang Indonesia bisa berkiprah di dunia yang padat modal dan teknologi ini. Terlebih, saat itu pemainnya lebih banyak asing. “Memang, keinginan saya harus masuk, di mana saya bisa berperan atau membuat industri yang orang lain belum bikin. Jadi, ada challenge,” katanya.
Tahap kedua, 1990-2000, CT mulai merambah pasar luar negeri. Langkah awalnya, mendirikan pabrik di Malaysia. Di negeri jiran ini ia bekerja sama dengan Petronas. Setelah itu, 1992, merambah Vietnam. Di negeri ini, perusahaan yang didirikan Kris bersama mitra lokalnya menjadi langganan mendapatkan penghargaan. Kini Kris melebarkan sayap ke Timur Tengah.
CT bisa dibilang menjadi tulang punggung bisnis Kris. Lewat kesuksesan CT inilah ia bisa membangun imperium bisnisnya melaui induk perusahaan: Citramas. Tengok saja, tahun 2006, omset CT mencapai US$ 273,18 juta atau meningkat 124% dibanding 2005 (US$ 121,82 juta). Sementara laba bersihnya US$ 23,4 juta atau naik dari US$ 7,47 juta di 2005. Kemudian, berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit hingga September 2007, CT mampu membukukan omset US$ 210,7 juta dengan laba bersih US$ 21,63 juta. “Omset CT hingga akhir 2007 diperkirakan tak beda jauh dari tahun 2006,” ujar Harsono, Sekretaris Korporat CT.
Bidang lain yang menarik dari bisnis anggota Dewan Pertimbangan Kadin Batam ini adalah Kawasan Industri Kabil seluas 500 hektare. Peters Vincen, Direktur Citramas, menjelaskan, Kabil dikembangkan untuk kawasan industri perminyakan dan gas. CT bersama beberapa anak perusahaan pindah ke Kabil sejak 1990 yang awalnya berada di kawasan Batu Ampar, Batam, yang saat itu dianggap kurang memadai lagi untuk industri karena sudah penuh sesak. Saat ini ada 26 perusahaan (tenant), nasional dan asing, yang memakai lahan di Kabil.
Fasilitas Kabil tergolong lengkap. Salah satu yang terus dikembangkan adalah pelabuhan yang dibangun sejak 2002 dan telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006.“Investasi pelabuhan sekitar US$ 15 juta untuk pembangunan selama dua tahun,” ujar Agus P. Hidajat, Direktur Operasional PT Sarana Citranusa Kabil, anak usaha Citramas. Dengan adanya pelabuhan ini, pengiriman barang yang diproduksi di Kabil akan lebih cepat dan biayanya pun lebih kecil.
Bicara soal bisnis pariwisata Citramas di bawah PT Tirta Utama Riani Indah (Grup Turi), Presiden Asosiasi ASEAN Tae Kwon Do ini mengakui, awalnya sekadar untuk kepuasan pribadi. “Itu hanya hobi, katanya menandaskan. Juga, untuk penginapan tamunya yang berkunjung ke Batam. Awalnya, ia hanya mendirikan vila di tepi pantai di wilayah Nongsa. “Semula hanya kecil-kecilan karena untuk dipakai sendiri, tapi akhirnya jadi besar, ungkap pehobi berlayar, main golf dan menyelam ini.
Ditambahkan Urmy Sungkar, direkturnya, karena skalanya semakin besar, Grup Turi bisa dijadikan sebagai ujung tombak pariwisata, tidak hanya di Batam, tapi juga Indonesia, karena lokasi Batam dekat dengan negara tetangga. Fakta menunjukkan, karena kecilnya wilayah Singapura, warga negeri itu cenderung memilih tempat lain sebagai tempat rekreasi. Johor, Malaysia, sering dijadikan sebagai daerah tujuan. Nah, sekarang Batam pun jadi destinasi wisata mereka.
Karena potensinya yang besar, Grup Turi memiliki sejumlah fasilitas yang dibangun secara bertahap dengan total luas lahan yang sudah dikembangkan mencapai 132 ha. Di dalamnya ada Turi Beach Resort, resor yang menjadi cikap bakal grup ini yang dibuka pada 1989. Resor kategori bintang empat ini tarifnya dipatok Rp 580 ribu-1,5 juta per malam. Lalu, pada 1992 dibuka Nongsa Village dan lapangan golf. Vila dijual dan pembelinya kebanyakan orang asing.
Pada 1994 dibuka Nongsa Poin Marina, salah satu tempat parkir yacth di Batam. Tahun 1995 dibuka Nongsa Pura Terminal, terminal feri untuk penyeberangan ke Singapura. Total investasinya di atas US$ 100 juta dan juga menggandeng investor dari luar negeri,” ujar Urmy. Ke depan, Turi akan terus dikembangkan dengan membangun IT park serta pusat belanja dan olah raga.
Resor milik Kris ini pernah dikunjungi tokoh-tokoh penting. Bahkan, tak jarang digunakan sebagai tempat pertemuan para pemimpin negara. Presiden Soeharto pernah melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew di sini. Yang terakhir, Presiden SBY bersama ibu negara juga sempat menginap di resor ini saat meresmikan pelabuhan di Kawasan Industri Kabil.
Kendali Grup Turi sekarang dipegang generasi kedua. Michael Wiluan menjadi presdirnya. Bahkan, kelahiran Singapura, 1976, ini juga mengembangkan bisnis sendiri di bidang multimedia dan animasi untuk film atau media visual lainnya dengan mengibarkan bendera PT Kinema Systrans Multimedia di Batam pada 2005. Markasnya di kawasan resor Turi. Michael juga mendirikan Infinite Frameworks Pte. Ltd. di Singapura.
“Ini bisnis masa depan dengan investasi berkisar US$ 1-3 juta, lulusan bidang perfilman dari Kean University, Inggris, itu membeberkan. Pelanggannya pun tersebar di pelbagai negara, antara lain Kanada, Singapura, AS, negara-negara Timur Tengah dan Afrika, serta Inggris dengan omset rata-rata US$ 5 juta/tahun dan pertumbuhan 10%.
Soal alih generasi ini, Kris mengaku tidak menjadi fokus utamanya. Sebab, ia memberikan kebebasan kepada tiga anaknya: Elizabeth Angeline, Michael dan Richard Wiluan untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Elizabeth tidak bergabung dengan Citramas, sementara Richard kabarnya ikut terjun mengembangkan bisnis peralatan perminyakan di Singapura.
Kini, setelah 31 tahun membangun bisnis, Kris tinggal menikmati hasilnya sekaligus terus mengembangkan sayapnya. Saat ini, “Yang penting, Citra Tubindo terus berjalan, meski saya tidak ada lagi. Dan namanya terus berkibar, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara, ia mengungkap obsesinya. Sang istri pun sudah memintanya pensiun. Maka sekarang, ia lebih suka membesut usaha-usaha yang disenanginya, seperti bisnis animasi yang digawangi anaknya.
Riset: Leni Siskawati
BOKS:
Perjalanan Karier dan Bisnis
Kris
Tahun 1971, selulus kuliah dengan meraih gelar BSc. (Honours) dalam terapan ilmu matematika dan komputer dari Universitas London, Kris bekerja untuk Guest, Keen and Nettlefold (GKN Group) di Inggris sebagai programer komputer/analis.
Tahun 1973, bekerja sebagai General Manager UMW Corp., perusahaan publik di Singapura dan Malaysia yang memasarkan mesin dan alat berat. Ia bertanggung jawab atas penjualan dan perkembangan bisnis di Indonesia melalui PT Unimas Motor Wasta.
Tahun 1977, mengembangkan bisnis pribadi dengan mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan, pemasok dan operator logistik untuk perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Tahun 1983, bisnis yang dirintisnya pada sektor perminyakan digabungkan ke dalam PT Citra Tubindo (CT), sebagai pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dan gas di Batam. Beberapa usaha gabungan juga telah dibangun di Labuan (Malaysia), Vung Tao (Vietnam), Songkla dan Sathahib (Thailand). Kini, pelanggannya tak hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara, di antaranya negara-negara Timur Tengah dan Amerika Selatan, Rusia serta AS. Sejak 1989, CT mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surbaya (keduanya kini melebur menjadi Bursa Efek Indonesia).
Tahun 1984, mendirikan Grup Citramas (PT Citra Agramasinti Nusantara) sebagai induk seluruh bisnisnya. Saat ini Citramas membawahkan 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan luar negeri. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta industri pariwisata atau resor terpadu di bawah Grup Turi.
Tahun 1986, membangun resor terpadu di Nongsa, Batam, dengan lapangan golf (dirancang Jack Nicklaus dan Pete Dye), marina yang bertaraf internasional, plus tempat parkir yacth, sarana wisata bahari, vila serta resor hotel. Letak resor ini hanya sekitar 25 menit dari Bandar Udara Changi, Singapura, dengan menggunakan feri dan hanya 10 menit dari Bandara Hang Nadim, Batam. Bisnis pariwisata Kris ini tergabung dalam Grup Turi sebagai induk perusahaan.
Tahun 2005, menjadi Chairman dan CEO SSH Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, salah satu distributor produk baja yang terbesar di Negeri Singa dengan cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
Tahun 2006, menjabat sebagai Chairman dan CEO Aqua Terra Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun 2007, menjadi Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan AS. Dia meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion. (Swa)
Short URL: http://www.batamposentrepreneurship.com/?p=391

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: