Membangun dengan Berdagang


Senin,
22 Oktober 2012

NV HADJI KALLA 60 TAHUN

Dalam acara peringatan 60 tahun Hadji Kalla Group di Makassar, Sabtu (20/10) malam, Jusuf Kalla mengisahkan awal dari kelompok usaha yang bernama Naamloze Vennootschap Hadji Kalla Trading Company tahun 1952. Perusahaan itu didirikan ayahnya, Hadji Kalla, yang hanya tamatan sekolah dasar.

”Dia bahkan tidak tahu kepanjangan NV (naamloze vennootschap),” kata Jusuf Kalla disambut tawa tamu yang memenuhi Trans Studio Makassar.

Bersama istri, Athirah, Hadji Kalla membesarkan usaha dengan ekspor dan impor hingga kemudian diserahkan kepada Jusuf Kalla tahun 1967. Kerja sama dengan Toyota membuat Kalla Group sebagai penguasa distribusi kendaraan Toyota untuk Sulawesi ataupun Indonesia sebelah timur sampai sekarang.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan menyebut bahwa penjualan mobil Toyota di Sulawesi menyumbang 56,8 persen dari total penjualan di wilayah timur sebanyak 16.415 unit periode Januari-Agustus 2012.

”Dalam waktu empat tahun, Kalla Group mampu mendongkrak penjualan dari 5.000 unit menjadi hampir 20.000 unit,” kata Johnny.

Hingga tahun ini, mereka terus agresif membangun gerai penjualan Toyota di Indonesia timur. Salah satunya, cabang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (20/10). Fatimah Kalla yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur Kalla Group menuturkan, mereka sudah ancang-ancang membangun tiga gerai lagi pada 2013 dengan investasi Rp 200 miliar.

Menyejahterakan

Menurut Jusuf Kalla, salah satu alasan yang membuat grup usaha itu bertahan sampai 60 tahun adalah nilai yang diwariskan dari sang ayah, Hadji Kalla. Nilai itu adalah bekerja sebagai bagian ibadah karena bisa memberi nafkah, membayar zakat, hingga membangun masjid. Selain itu, juga memegang tradisi Bugis, yakni pantang menyerah, kerja keras, hingga siri atau rasa malu bila belum berhasil.

Satu-satunya cara agar perusahaan makmur, lanjut Jusuf Kalla, adalah dengan menyejahterakan masyarakat terlebih dahulu. Itulah sebabnya dia bersama Pemprov Sulsel aktif dalam pengembangan komoditas lokal daerah, seperti cokelat atau udang.

Kalla Group memiliki skala prioritas terhadap kebutuhan dasar yang harus dicukupi terlebih dahulu. Pada 1990-an, mereka bergerak di sektor telekomunikasi karena beranggapan, telekomunikasi bisa mendongkrak produktivitas masyarakat.

Kini, prioritas Kalla Group bergeser ke bidang energi. Mereka membangun pembangkit tenaga listrik di sejumlah wilayah di Indonesia timur, salah satunya PLTA Poso. Jusuf Kalla menjelaskan, dengan tercukupinya kebutuhan listrik, pembangunan apa pun dimungkinkan.

”Dalam lima tahun ke depan, direncanakan kapasitas daya terpasang di Indonesia timur capai 1.000 megawatt,” ujarnya.

Pada usia 60 tahun, tantangan terbesar bagi Kalla Group adalah beradaptasi dengan zaman. Tidak lagi cukup berbentuk usaha keluarga, manajemen modern pun diterapkan.

Putra bungsu Jusuf Kalla, yakni Solihin Kalla, sudah dipersiapkan. Dia kini menjabat Direktur Pengembangan Bisnis.

Ditanya generasi ke berapa mengendalikan Kalla Group saat ini, Jusuf Kalla dengan berseloroh menjawab generasi 2.5. ”Generasi kedua dan ketiga bersama menangani,” ujarnya.

Dengan perjalanan perusahaan hingga enam dasawarsa seperti ini, Jusuf Kalla mengharapkan filosofi Hadji Kalla terus dibawa di masa mendatang, yakni mendahulukan masyarakat.

(Didit Putra Erlangga Rahardjo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: