Produksi Beras Terus Berkurang


urusan pangan, pemerintah harus bekerja ektra keras !
Senin,
29 Oktober 2012

TANAMAN PANGAN

Produksi Beras Terus Berkurang

 

AMBON, KOMPAS – Produksi beras dari lumbung beras di Kabupaten Buru, Pulau Buru, Provinsi Maluku, terus menurun sejak dua tahun lalu. Pemicunya adalah rusaknya bendungan dan maraknya petani beralih menjadi penambang emas tradisional.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Buru, Wara, mengatakan, Minggu (28/10), penurunan luas area sawah terjadi sejak dua tahun lalu ketika banjir dari luapan Sungai Waeapo menerjang Kecamatan Waeapo. Saat itu, Bendungan Waelata rusak berat dan belum diperbaiki. Bendungan itu mengairi 1.000 hektar sawah.

”Ratusan petani akhirnya tidak bisa mengolah sawahnya karena tidak ada pengairan untuk sawah mereka,” ujarnya.

Luas area sawah di Kabupaten Buru semula 6.648 hektar, kini hanya 4.075 hektar. Berkurangnya area sawah kian parah ketika emas ditemukan di kawasan perbukitan di Waeapo, sejak awal tahun 2012. Banyak petani beralih menjadi penambang emas dan meninggalkan ribuan hektar area sawah.

Kini, dengan sawah tersisa seluas 4.075 hektar dan dalam setahun dua kali panen, produksi beras tahun 2012 diperkirakan tidak lebih dari 16.000 ton. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan tahun lalu yang produksinya mencapai 21.933 ton.

Madiun surplus

Produksi gabah di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, tahun 2012 kembali mengalami surplus walaupun terancam kekeringan akibat kurangnya air pada musim kemarau. Bupati Madiun Muhtarom mengatakan, selama Januari hingga Agustus 2012, produksi gabah kering giling 534.902 ton. Jumlah itu melampaui target produksi yang ditetapkan pemda sebesar 483.914 ton.

”Meski terjadi kekeringan di sejumlah wilayah, realisasi produksi padi secara total sudah di atas 100 persen,” ujarnya.

Muhtarom mengatakan, surplus beras kali ini merupakan kali keempat. Selama empat tahun berturut-turut, Kabupaten Madiun selalu mengalami surplus produksi sehingga memperkuat ketahanan pangan Jawa Timur.

Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur Desa Klitik, Kecamatan Wonoasri, Mukson mengatakan, salah satu faktor keberhasilan petani tahun ini adalah meningkatnya hasil panen. Sebagai gambaran, di desanya ada 50 hektar tanaman padi yang menghasilkan 11,7 ton gabah per hektar.

Hasil panen itu jauh di atas rata-rata petani di Kabupaten Madiun yang hanya 6,4 ton per hektar. Tingginya volume produksi berkat benih varietas unggul Sidenuk. Petani di Desa Klitik terpilih menjadi demplot atau percontohan tanaman.

Kini, sejumlah petani di pantai utara Jawa Barat mulai menyiapkan lahan. Beberapa di antaranya mulai menanam benih di lahan mereka. Di Desa Lengkongkulon, Kecamatan Sindangwangi, sejumlah petani setempat mulai menanam benih saat hujan baru sepekan turun di daerah tersebut. (APA/NIK/REK)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: