Archive for October, 2012

October 28, 2012

Kelompok teror baru : HASMI

Habis Jamaah Islamiyah, kemudian Jamaah Ansharut Tauhid, sekarang muncul  HASMI ( Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia).. Kelompok teroris ini sdh berkembang menjadi sel kecil, muda, tak berstruktur, dan sangat radikal.  Kelihatannya   program DERADIKALISASI yang sudah dicanangkan masih belum mencapai sasaran yang. diharapkan.

Ada benernya juga Ansyaad : soal HATE SPEECH , belum pernah ditindak secara serius. Mengapa ? Karena yang melakukan ajakan atau hasutan dengan menyebar kebencian dan permusuhan biasanya dari kaum elit politik / masyarakat. Lihat kasus Ahmadyah, Menteri Agama saja mengumbar ajakan kebencian.. mengerikan negeri ini,.

 

Jaringan “teroris kurcaci ” atau teroris muda itu  akan terus muncul selama  “agen provokator” yang menyebar ajaran/hasutan kebencian tidak ditindak keras !

 

 

Pemerintah harus tegas menindak mereka yang menyebarkan ideologi radikal, baik melalui dunia maya maupun dengan menebar kebencian dan permusuhan kepada orang lain. Jika tidak, jangan heran jika muncul kelompok baru terorisme seperti Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia.

 

SABTU, 27 OKTOBER 2012 | 19:25 WIB

Abu Hanifa Ditangkap di Solo

TEMPO.COJakarta -Polri menyatakan pemimpin kelompok HASMI Abu Hanifa ditangkap saat berboncengan dengan Budianto di Jalan Sumpah Pemuda, Bondowoso, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Dentasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri menangkap tiga orang di kota ini.

“Ini kelompok baru, pertama kami tangkap di Madiun kemarin sekitar pukul 20.00 WIB, tiga tempat lainnya dilakukan serentak sekitar pukul 11.00 WIB hari ini,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Suhardi Alius di kantornya, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Total Detasemen Khusus Anti Teror 88 Markas Besar Kepolisian RI menangkap 11 tersangka teroris kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (HASMI). Mereka ditangkap di Madiun, Solo, Palmerah, dan Bogor.

Pada 26 Oktober 2012 sekitar pukul 20.00 WIB, Densus 88 menangkap dua orang di Puri Amarta Residen, Madiun yaitu Agus Anton alias Thorik dan Warso alias Kurniawan. Di Solo, Densus menangkap tiga orang termasuk Abu Hanifa. Dua orang lainnya adalah Budianto alias Ari alias Mahdun yang ditangkap saat berboncengan dengan Abu, dan Harun di Jalan Sumpah Pemuda, Bondowoso, Jebres, Solo.

Di Leuwiliang dan Cikaret Bogor, tiga orang ditangkap yaitu Emir alias Emirat dan Zainudin serta Usman. Di Jakarta, Azhar dan Herman serta Narto.

FRANSISCO ROSARIANS

MINGGU, 28 OKTOBER 2012 | 04:16 WIB

Bagaimana Densus 88 Mengedus ”Teroris” Madiun?

TEMPO.CO Madiun:Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror mengamankan enam detonator, satu tabung gas elpiji, dan dua bom rakitan di rumah yang disewa kelompok ”teroris” di Perumahan Puri Amarta, Jalan Cokrobasanto, Kelurahan Josenan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu, 27 Oktober 2012.

Penggeledahan dilakukan sejak Sabtu siang hingga petang. Tabung gas elpiji yang diduga berisi bahan peledak akhirnya diledakkan di sekitar lokasi kejadian.  Rumah di Perumahan Puri Amartha tersebut diketahui disewa oleh David Kurniawan, seorang yang ditangkap Detasemen Khusus. Polisi menyebut mereka yang ditangkap ini sebagai tersangka teroris.

Temuan rumah tempat penyimpanan bahan peledak dan bom rakitan itu bermula dari penangkapan Agus Anton Figianto, 32 tahun, warga asal Jember, Jawa Timur. Agus ditangkap di sekitar rumah mertuanya di Desa Sewulan Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jum”at malam, sekitar pukul 23.00 WIB.

Informasi yang diperoleh Tempo, Agus merupakan alumni jurusan Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Jember (Unej) Angkatan 1998. Sejak 2004, ia tinggal bersama isterinya, Rahayu Ningsih, di Madiun. Agus yang selama ini dikenal bergelut di usaha jual beli kayu dan mebel diduga sebagai penyandang dana dan punya keahlian merakit bom.

Setelah menangkap Agus, Densus menangkap terduga teroris asal Solo, Warso, di Terminal Purabaya, Kota Madiun, Jum”at malam. Dari penangkapan dua orang ini diketahui ada rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan peledak dan bom rakitan.

Malam itu juga sekitar pukul 23.30 WIB, Densus menyasar ke sebuah rumah di Perumahan Puri Amartha, Kota Madiun. Di rumah ini, Densus menangkap penyewa rumah, David Kurniawan, sedangkan tiga orang lainnya berhasil kabur.

Sabtu siang hingga petang tadi, petugas Densus dan tim Gegana Kepolisian Daerah Jawa Timur melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengamankan sejumlah barang bukti. “Petang tadi ada bahan yang di-disposal (diledakkan),” kata Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Madiun Kota Komisaris Eddy Poerwanto. Satu kompi gabungan dari Kepolisian Resor Madiun Kota dibantu dengan TNI ikut melakukan pengamanan.

ISHOMUDDIN

_______________

CARI BERITA :
TEMPO.CO
TEMPO.CO - Politik
foto

Petugas menjaga ketat rumah kontrakan terduga teroris Agus Anton Figian di Perumahan Puri Amarta Kelurahan Josenan, Kota Madiun, Jatim, (27/10). ANTARA/Siswowidodo

SABTU, 27 OKTOBER 2012 | 18:02 WIB

Militer Bantu Penggrebekan Rumah ”Teroris” Madiun

TEMPO.COJakarta -Hingga Sabtu, 27 Oktober 2012, sore tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri masih memeriksa dan menggeledah sebuah rumah di Perumahan Puri Amarta, Jalan Cokrobasanto, Kelurahan Josenen, Kecamatan Taman, Kota Madiun, yang diduga sebagai tempat penyimpanan bahan peledak.

Rumah tersebut diduga disewa terduga teroris, Agus Anton Figian, 31 tahun. Informasi yang didapat Tempo dari sumber intelijen di Madiun, Agus ditangkap terlebih dahulu, Jum”at malam, 26 Oktober 2012, sekitar pukul 23.00 WIB.

Agus, diduga warga asal Jember, tinggal bersama isterinya, Rahayu Ningsih, di rumah mertuanya di Desa Sewulan Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Dia tinggal di Madiun sejak 2004.

“Saya memang mendengar informasi itu tapi belum ada laporannya,” kata Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Madiun Komisaris Bambang Setyawan menanggapi penangkapan Agus di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Madiun Kota Komisaris Eddy Poerwanto membenarkan Densus 88 sedang menggeledah rumah di Perumahan Puri Amarta. “Satu kompi gabungan sudah siaga sejak siang sampai sore ini di Josenan,” katanya saat dihubungi Tempo. 

Selain polisi, sejumlah anggota Komando Rayon Militer dan Komando Distrik Militer setempat juga disiagakan untuk membantu pengamanan. “Petang ini barang yang diduga bahan peledak akan di-disposal (diledakkan),” ucapnya.

Eddy membenarkan penggeledahan rumah di perumahan pinggir Kota Madiun itu pengembangan dari penangkapan terduga teroris, Agus, di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. “Pengembangan dari yang ditangkap di Dagangan, diduga mereka melakukan kegiatan yang terkait terorisme,” ujar Eddy.

Namun Eddy tak bisa memastikan apakah hanya Agus yang ditangkap atau ada satu orang lagi yang ditangkap di Madiun.

ISHOMUDDIN

 

+++++++++++++++++

 

Kelompok Baru Mudah Terbentuk

Polisi Tangkap 11 Terduga Teroris

KOMPAS/RIZA FATHONI

Anggota Gegana Polri mengeluarkan tas dari lokasi penggerebekan terduga teroris di Palmerah Barat, Jakarta, Sabtu (27/10). Penangkapan terduga teroris oleh tim Densus 88 tersebut merupakan rangkaian penangkapan terduga teroris kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi).

Jakarta, Kompas – Pemerintah harus tegas menindak mereka yang menyebarkan ideologi radikal, baik melalui dunia maya maupun dengan menebar kebencian dan permusuhan kepada orang lain. Jika tidak, jangan heran jika muncul kelompok baru terorisme seperti Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia.

Demikian dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai di Jakarta, Sabtu (27/10). Ansyaad mengatakan hal tersebut menanggapi penangkapan 11 terduga teroris anggota kelompok Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi) oleh polisi antiteror di Madiun, Solo, Bogor, dan Jakarta, pada Jumat dan Sabtu kemarin.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara RI Irjen Suhardi Alius, didampingi Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu petang, mengatakan, Hasmi merupakan kelompok baru terorisme. Mereka memiliki kemampuan merakit bom dengan kekuatan ledak tinggi.

”Polisi antiteror masih mendalami alasan berbagai sasaran yang sudah dipersiapkan oleh para terduga ini,” kata Suhardi.

Dari hasil pendalaman sementara, menurut Suhardi, sasaran kelompok Hasmi adalah Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jalan Citra Raya Niaga 2, Surabaya, Jawa Timur. Sasaran selanjutnya adalah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Plaza 89, yang di depannya terdapat Kedutaan Besar Australia dan kantor PT Freeport Indonesia, serta Markas Komando Brimob Srondol, Semarang, Jawa Tengah.

Suhardi mengatakan, polisi masih mendalami keterkaitan kelompok ini dengan jaringan teroris sebelumnya, sasaran, termasuk rencana eksekusi peledakan bom.

Mudah terbentuk

Ansyaad mengatakan, jaringan kelompok baru terorisme selalu memiliki keterkaitan dengan kelompok sebelumnya. Jaringan baru ini mudah terbentuk serta merencanakan dan melaksanakan aksi teror. Penyebabnya, penyebaran ideologi radikal yang belum tersentuh hukum.

Negara-negara lain, seperti Singapura atau Malaysia, memiliki aturan yang ketat untuk mengurangi penyebaran ideologi radikal dan terorisme. ”Kita sebenarnya tahu apa masalahnya. Namun, tidak banyak yang mau peduli,” tuturnya.

Penyebaran ideologi radikal tersebut, termasuk cara-cara melakukan aksi teror, banyak beredar di dunia maya. Ansyaad mengatakan, belum ada mekanisme pengawasan dan penindakan terhadap penyebaran ideologi radikal di berbagai situs.

Selain itu, menurut dia, ajakan atau hasutan dengan menyebar kebencian dan permusuhan kepada orang lain (hate speech) belum dianggap sebagai bagian dari kejahatan terorisme. ”Alasannya, itu dianggap sebagai kebebasan berekspresi. Namun, tidak ada aturan,” katanya.

Karena itu, menurut Ansyaad, salah satu upaya mengurangi penyebaran ideologi radikal adalah merevisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

”Harus ada ketentuan bahwa penyebaran ideologi atau paham radikal melalui internet, buku, atau dalam pertemuan-pertemuan tertentu merupakan kejahatan terorisme,” katanya.

Pemberantasan terorisme saat ini, lanjut Ansyaad, seakan-akan hanya tugas kepolisian dan BNPT. Aksi terorisme baru menjadi perhatian kalau ada penangkapan atau ledakan bom. ”Padahal, terorisme itu musuh negara. Semua pihak harus terlibat, termasuk pembuatan produk undang-undang yang lebih tegas,” katanya.

Tanpa ketentuan hukum yang tegas, khususnya terkait sanksi hukum terhadap upaya-upaya awal melakukan terorisme, seperti menyebar kebencian serta permusuhan dan pelatihan kemiliteran, kelompok-kelompok baru akan terus terbentuk.

Oleh karena itu, menurut Ansyaad, dukungan lembaga politik, seperti DPR dan pemerintah, termasuk kementerian terkait, sangat penting untuk membuat kebijakan dan program, khususnya mengurangi penyebaran ideologi radikal melalui berbagai situs dan pembuatan produk perundang- undangan yang lebih tegas.

Barang bukti

Suhardi menambahkan, 11 terduga teroris ditangkap serentak beserta sejumlah barang bukti. Dalam penangkapan di Madiun, polisi antiteror menyita sejumlah bom yang siap ledak, bahan baku pembuatan bom yang dalam proses perakitan, serta buku panduan pembuatan bom. Suhardi mengatakan, buku panduan itu bisa diunduh dari internet.

Sambil menunjukkan sebuah foto yang tercetak di buku, Suhardi mengatakan, ”Ada tabung gas 3 kilogram yang di dalamnya sudah diisi bahan peledak kategori high explosive.”

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan, terduga teroris Agus Anton berperan sebagai perakit bahan peledak, penghimpun relawan, dan penyandang dana kegiatan terorisme di Tanah Air. Sarjana strata satu Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember, ini sehari-hari menjalankan usaha perkayuan di rumahnya.

Dalam penangkapan di Solo, polisi antiteror menyita peledak baik yang sudah siap maupun sedang proses perakitan. Polisi memusnahkan dua detonator rakitan yang ditemukan di salah satu rumah di Mojosongo. Ledakan dua detonator tersebut mengagetkan warga.

Saat penangkapan di Bogor, polisi antiteror menyita bahan- bahan untuk perakitan bom, sejumlah amunisi dengan berbagai kaliber, serta detonator. Dalam penangkapan di Jakarta, polisi antiteror menyita bahan-bahan pembuatan dan perakitan bom.

Suhardi mengatakan, munculnya kelompok baru yang memiliki kemampuan merakit bom dengan kekuatan ledak tinggi ini menunjukkan semakin perlunya kewaspadaan bangsa ini terhadap aksi-aksi teror. Masyarakat pun diminta peduli terhadap kedatangan warga yang melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak wajar di lingkungan mereka.

Namun, tidak selalu terduga teroris melakukan kegiatan mencurigakan di lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya, Zainudin yang ditangkap di Bogor, oleh tetangganya dikenal sebagai guru di salah satu madrasah ibtidaiyah di Leuwiliang.

Para terduga teroris juga belum tentu pendatang baru di lingkungan tempat tinggalnya. Terduga teroris yang ditangkap di Palmerah Barat, Jakarta, Herman, menurut Udiyanto, Ketua RT 003 RW 009, Kelurahan Palmerah, sudah lama tinggal di wilayahnya. Bahkan, Herman menempati rumah milik orangtuanya.

(fer/OSA/eki/nik/gal/bro/ art/sir)++++++++++++++++++

 

 

Klarifikasi Terorisme, HASMI akan Datangi Mabes Polri
Minggu, 28 Oktober 2012 | 20:52 WIB
Dibaca: 4333
|
Share:
KOMPAS.com/M WISMABRATAIlustrasi: Densus. Anggota Densus 88 menggeledah rumah salah satu tersangka teroris, di Solo.

BOGOR, KOMPAS.com – Organisasi Masyarakat Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islam (HASMI) berencana akan mendatangi Markas Besar Polri untuk mengklarifikasi kaitan nama Hasmi dalampenangkapan 11 teroris yang dilakukan Sabtu kemarin (27/10/2012).

“Besok Senin, kami seluruh pengurus HASMI akan mendatangi Mabes Polri. Kami akan menyampaikan klarifikasi penyebutan nama Hasmi dalam penangkapan terduga teroris di sejumlah kota kemarin,” kata Syaifudin, juru bicara HASMI di Bogor, Minggu (28/10/2012).

Syaifudin mengatakan, organisasi HASMI yang ada di Bogor tidaklah sama dengan HASMI yang disebutkan oleh Mabes Polri. Ia menyebutkan, dari segi penyebutan namanya, HASMI yang disebutkan oleh Mabes Polri adalah Harakah Suni untuk Masyarakat Indonesia.

“Sementara organisasi kami adalah Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islam. Bukan untuk Masyarakat Indonesia,” katanya.

Selain itu, lanjut Syaifudin, HASMI merupakan organisasi masyarakat yang telah terdaftar di Ditjen Kesbangpol Kemendagri dengan nomor registrasi 01-00-00/0064/6:III:IV/III/2012.

Secara nasional, lanjut Syaifudin, HASMI terdaftar 2012, namun organisasi yang memiliki anggota sekitar 10.000 dan berpusat di Cimanglid, Kabupaten Bogor ini telah terbentuk dan berdiri pada tahun 2005.

Organisasi HASMI bergerak dalam bidang dakwah, sosial dan pendidikan umum serta formal. HASMI juga pernah membuat gerakan mendukung Peraturan Daerah nomor 12 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) serta pernah ikut berjuang bersama FORKAMI dalam persilisihan GKI Yasmin.

“Terkait pemberitaan ini, HASMI merasakan adanya kesimpangsiuran informasi sehingga membuat anggota HASMI menjadi merasa terpojokkan. Oleh karena itu kami akan melakukan klarifikasi terkaitpenangkapan teroris ini ke Mabes Polri,” katanya.

Saat ditanyakan, apakah mengenal ketiga terduga teroris yang ditangkap di wilayah Bogor, Syaifudin menyebutkan, tidak mengenal ketiganya. “Sama sekali tidak kenal. Dari namanya pun tidak ada di daftar anggota. Karena setiap kami melakukan pengajian, selalu mengisi daftar hadir. Dan nama-nama yang disebutkan tidak ada di daftar HASMI,” katanya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Sabtu (27/10) anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri, menangkan tiga orang terduga teroris yang merupakan jaringan Solo dengan nama Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia (HASMI).

Ketiga terduga teroris tersebut ditangkap di dua tempat berbeda. Dua orang ditangkap di Kampung Neglasari, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dengan nama EBN (22) dan Z (23). Dan satu orang lagi berinisial U (34) di sebuah kosan yang terletak di Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Advertisements
October 26, 2012

Tak Punya Uang, Lima Tol Bakrie Terlantar

Proyek infrastruktur jangan sampai jatuh ke group lokal macam Bakrie., kelihatannya mereka hanya mau jadi broker proyek saja.

Tak Punya Uang, Lima Tol Bakrie Terlantar
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah memberi waktu hingga 2014 kepada Grup Bakrie untuk menyelesaikan sejumlah proyek jalan tol yang terbengkalai. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum Ahmad Ghani Gazali mengatakan, jika dalam jangka waktu dua tahun ke depan proyek ini tak rampung, pemerintah akan menggelar tender ulang. “Kami akan melihat dulu apa alasan proyek itu tidak berjalan,” katanya Rabu 26 September 2012.

Lima ruas jalan tol yang hendak digarap PT Bakrie Toll Road terancam mangkrak. Kepala Sub-Bidang Pembebasan Lahan pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Herry Marzuki, mengatakan ruas tersebut meliputi Pejagan-Pemalang serta Batang-Semarang 1 dan 2.

Tiga ruas lainnya adalah Ciawi-Sukabumi, Pasuruan-Probolinggo, dan Cimanggis-Cibitung. Proyek ini termasuk bagian dari ruas jalan tol Trans Jawa, yang panjangnya mencapai 650 kilometer.

Herry melanjutkan, pembangunan jalan tol terhenti karena perusahaan tak memiliki cukup dana untuk operasionalisasi dan pembebasan lahan. Pada ruas Pejagan-Pemalang dan Batang-Semarang, misalnya, sebagian besar lahan belum dibebaskan.

Pada ruas Pejagan-Pemalang, tanah yang dibebaskan baru sepertiga. Sedangkan untuk ruas Batang-Semarang, “Pembebasan lahan baru 3,34 persen. Pembangunan ruas ini bahkan sudah terhenti sejak Juni 2011,” katanya.

Tersendatnya pembangunan jalan tol milik kelompok usaha Bakrie tersebut, menurut analis PT BNI Securities, Thendra Crisnanda, antara lain karena perusahaan tak punya dana. Bakrie setidaknya harus memiliki uang sekitar Rp 30 triliun untuk menyelesaikan lima ruas yang terbengkalai. “Bakrie Toll Road masih memiliki utang Rp 1,8 triliun,” katanya.

Ia menyarankan agar manajemen Bakrie Toll Road melelang sebagian sahamnya. “Jika biaya operasional yang dikeluarkan jauh lebih besar dari pendapatan, memang lebih baik dijual,” ujar Thendra.

Pekan lalu Direktur Utama PT Bakrieland Development, Ambono Januarianto, menyatakan perusahaan yang dipimpinnya berniat melepas kepemilikan sahamnya di PT Bakrie Toll Road. Hasil divestasi akan digunakan untuk mengurangi utang perseroan. Emiten berkode ELTY ini menguasai 69,99 persen saham Bakrie Toll Road melalui anak usahanya, yaitu PT Bakrie Infrastructure.

Laporan selengkapnya di Koran Tempo yang bisa dibaca di sini.

SYAILENDRA | ISTMAN M.P | M. AZHAR

Berita Terpopuler:
DPR Terbelah Jika Kapolri Dipanggil KPK
Ini yang Akan Terjadi Jika Jendela Pesawat Dibuka
PDIP Tak Setuju Protokol Antipenistaan Agama SBY
Bulan Madu PDIP dan Prabowo di Ujung Tanduk
DPR Pertanyakan Konflik Menhan dan Jakarta Post

October 25, 2012

FPI Serukan Ahok Masuk Islam Jika Ingin Jadi Wagub DKI

Kenapa gerombolan bodoh ini masih mendapat tempat di media . Atau sengaja untuk menghasut dan menjelekan Islam ??

 

 

Dari Eramuslim.com

Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok akan menjabat 12 tugas ex officio atau jabatan yang dipegang oleh Wagub. Dalam mengisi jabatan tersebut, Ahok akan berhubungan langsung dengan agama Islam dalam hal ini kaum muslimin di Jakarta.

Seperti Ketua Badan Pembina Lembaga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua Dewan Pembina Badan Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan Umat Beragama.

FPI pun dengan lantangnya menyebut Ahok kafir dan tidak pantas memimpin 12 tugas yang berkaitan langsung dengan umat Islam.

“Ahok tidak boleh mendekati Masjid. Bukan najis secara fisik, tetapi najis secara hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI yang nonmuslim jadi penasihat masjid,” kata Ketua Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib Shahab Anggawi, di depan gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2012).

Dia mengatakan, sangat tidak mungkin dan tidak pantas yang mengisi jabatan tersebut adalah orang nonmuslim. FPI juga memberikan solusi, yaitu Ahok tak menjabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk Islam.

“Dari sebelum Pemilukada, umat Islam diberitahu untuk tidak memilih pemimpin yang tidak seiman. Ada ayat larangan jadikan nonmuslim sebagai pemimpin. Bagaimana orang nonmuslim memimpin masalah zakat? Tidak mungkin mengurusi Dewan Masjid sementara dia orang nonmuslim. Dekat saja tak boleh, apalagi mengurusi Islam,” cetusnya.

“FPI yakin DPRD DKI mendengarkan kami, karena mereka lebih berilmu dibanding kami,” tutupnya.

Dalam melakukan aksinya, massa FPI juga melantunkan salawat dan berorasi untuk meminta Ahok tidak menjabat sebagai Wagub DKI.(fq/okezone)

 
October 25, 2012

Skadron Pesawat Intai Tanpa Awak Juga Akan Ditempatkan di Medan

24 OKTOBER 2012

24 Oktober 2012

Selain menggunakan pesawat tanpa awak/UAV pesanan dari luar negeri, produk UAV buatan dalam negeri juga akan melengkapi skadron UAV TNI (photo : Media Indonesia)
Bandara Polonia Akan Menjadi Pusat Pertahanan
MEDAN – Komandan Lapangan Udara (Lanud) Soewondo Medan, Kolonel (PNB) SM Handoko memastikan, fungsi Bandara Polonia akan diganti menjadi pusat pertahanan udara di wilayah Utara Sumatera, jika fungsi bandara umum telah dipindahkan ke bandara baru di Kuala Namu Deli Serdang.
Menurutnya, penetapan fungsi utama tersebut sesuai dengan amanat baru presiden bahwa Lanud Soewondo tidak ikut dipindahkan seiring dioperasikannya Bandara Kuala Namu.
Handoko menyebutkan, lahan seluas 144 hektare yang menjadi wilayah Bandara Polonia dan Lanud Soewondo sepenuhnya merupakan milik TNI Angkatan Udara (AU). Sehingga jika lahan tersebut tidak lagi dijadikan sebagai bandara umum, maka sudah seharusnya kembali ke TNI AU untuk digunakan sebagai fasilitas pertahanan.
“Sekarang kan memang Bandara Polonia ini Dwifungsi, satu fungsi bandara umum, satu lagi fungsi pertahanan. Kita pun tidak memiliki armada pesawat disini. Hanya sebagai tempat persinggahan pesawat tempur saja. Nah ke depan kita akan dilengkapi dengan satu skuadron pesawat intai dan pesawat tanpa awak. Lokasi kita yang berbatas dengan negara-negara tetangga tentunya sangat vital, sehingga kehadiran pesawat-pesawat itu sangat dibutuhkan,” kata Handoko, di Medan, Selasa (23/10/2012).
Penetapan Lanud Soewondo sebagai pusat pertahanan udara, kata dia, telah mendapatkan persetujuan presiden beserta Kepala Staf TNI AU. Rencananya realisasi penetapan itu akan dilakukan dalam waktu dekat, seiring beroperasinya Bandara Kuala Namu.
“Maret ini targetnya proses peralihan sudah selesai. Disesuaikan dengan target operasional Bandara Kuala Namu lah. Ini akan juga menunjukkan pada negara-negara tetangga kita jika kita memiliki kualitas pertahanan udara yang baik. Sehingga mereka tak lagi memandang sebelah mata kekuatan udara kita. Dengan keberadaan pesawat-pesawat tempur di wilayah ini, tentunya pelanggaran wilayah udara yang dilakukan negara asing ke depannya tak lagi perlu terjadi. Sehingga fungsi TNI sebagai penjaga kedaulatan negara dapat berjalan lebih maksimal,” jelasnya.
Diposkan oleh di 20:28

October 25, 2012

Investasi Rp 500 Triliun

25 oktober 2012
Investasi Rp 500 Triliun
Presiden: MP3EI Bukan Isapan Jempol

Balikpapan, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutarakan, dulu ketika meluncurkan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, banyak orang berkomentar miring. Rencana Induk hanya isapan jempol dan pencitraan.

”Saya tak perlu menanggapi. Saya berpesan pada bupati, wali kota, gubernur, jawablah itu dengan karya nyata dan bukti. MP3EI (Masterplan/Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) itu riil. Masterplan yang kita susun bukan sekadar membikin rencana,” kata Presiden Yudhoyono saat meresmikan tujuh proyek yang termasuk MP3EI untuk Kalimantan Timur, Rabu (24/10), di Balikpapan.

Lewat Rencana Induk, Presiden percaya logistik nasional akan makin efisien. ”Kita tak akan lagi mendengar harga bahan pokok, harga barang dan jasa di luar Jawa, di kawasan timur, lebih mahal dari Jawa. Kita ubah itu sistematis. Saya berkeyakinan ekonomi kita masih akan tumbuh di atas 6 persen tahun ini, dan dengan MP3EI, akan memberi kontribusi sangat tinggi pada pertumbuhan ekonomi utamanya investasi,” kata Presiden.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengutarakan, sejak Rencana Induk diluncurkan Mei 2011, telah banyak proyek investasi yang groundbreaking-nya (pemancangan tiang perdana) telah dilakukan.

Hingga Juli 2012, total investasi sebesar Rp 500 triliun telah pemancangan tiang perdana. Investasi ini di enam koridor ekonomi, terdiri atas 135 proyek. Dari 135 proyek ini, 58 proyek sektor riil di 22 bidang ekonomi yang diprioritaskan dan 77 proyek di sektor infrastruktur.

Investasi Rp 275 triliun, Hatta melanjutkan, berlokasi di koridor ekonomi Jawa, sedangkan Rp 89 triliun di Sumatera, Rp 104,4 triliun di Kalimantan, Rp 10,6 triliun di Sulawesi, Rp 4,6 triliun di Bali dan Nusa Tenggara, serta Rp 82,2 triliun di Papua-Maluku.

Dari total investasi yang telah groundbreaking itu, 20,9 persen merupakan investasi BUMN, sementara 47,9 persen oleh swasta, 15,8 persen investasi pemerintah yang semuanya berupa proyek infrastruktur, serta 15,4 persen investasi campuran (gabungan swasta atau gabungan BUMN dan swasta). (PRA)

Facebook Twitter Email Print

October 25, 2012

Bangkit Dari Keterpurukan, PT Pos Raih Laba Rp 211 Miliar

Bangkit Dari Keterpurukan, PT Pos Raih Laba Rp 211 Miliar
Zainal Effendi – detikfinance
Kamis, 18/10/2012 18:31 WIB

Surabaya – Usai mengalami keterpurukan dan merugi, PT Pos Indonesia (Persero) bangkit dengan melakukan berbagai pengembangan dengan modernisasi. Alhasil, hingga Agustus 2012 PT Pos mendapatkan pendapatan sebesar Rp 2,13 triliun dan laba sebelum pajak sebesar Rp 211,04 miliar.

Bahkan, Direktur Utama PT Pos, I Ketut Mardjana optimis pihaknya akan mencapai target Rp 3,4 triliun hingga akhir tahun 2012.

“Optimis tercapai bahkan bisa terlampaui. Profit kita target Rp 182 miliar juga optimis bisa tercapai,” katanya kepada wartawan saat berkunjung ke Kantor Pos Besar Kebonrojo Surabaya, Kamis (18/10/2012).

Mardjana mengungkapkan, peningkatan pendapatan mulai terlihat sejak 2011 dengan pendapatan naik 14,7 persen dari Rp 2,68 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp 3,07 triliun pada 2011 dengan laba bersih setelah pajak yang meningkat hingga 20 persen.

“2010 kita mendapat laba bersih Rp 45,31 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 144,98 miliar,” ungkapnya.

Sejak 2004-2008 PT Pos terus mengalami kerugian, Mardjana mencontohkan pada tahun 2005, pihaknya mengalami kerugian sebesar Rp 145 persen. kemudian merugi 131 persen tahun 2006 dan 23 persen pada tahun 2007 dan sebanyak 70 persen pada 2008.

“Peningkatan ini tidak lepas dari pengembangan bisnis mulai layanan finansial, properti seperti pembangunan hotel maupun meodernisasi pelayanan,” ujar Mardjana.

Ia juga mengaku jika saat ini pihaknya sedang mengembangkan direct mail, paket dan layanan logistik. Bahkan tahun depan pihaknya akan bersinergi dengan sejumlah BUMN seperti Bank Mandiri untuk mencapai Initial Public Offering (IPO).

(ze/dru)

October 25, 2012

Dahlan Iskan: Gangnam Style Sepanjang Tahun

Manufacturing Hope
Dahlan Iskan: Gangnam Style Sepanjang Tahun
Dahlan Iskan – detikfinance
Senin, 22/10/2012 07:56 WIB

Jakarta – Pantai Losari, Minggu pagi, 21 Oktober 2012. Senam pagi. Keringat pun bercucuran oleh gerak yang kian keras dan matahari Makassar yang kian tinggi. Apalagi setelah lagu Korea dipakai sebagai gerakan penutupnya: semua peserta seperti sedang menunggang kuda liar: gangnam style.

“Selamat ya!” Ujar seorang teman mengajak salaman. “Saya memang sudah latihan Gam Lan Style beberapa hari terakhir ini bersama grup senam saya di Monas,” jawab saya.

Ternyata bukan itu yang dia maksud. “Selamat ulang tahun,” katanya. Saya lupa kalau hari itu genap satu tahun saya menjabat Menteri BUMN. Saya pikir dia menyalami karena gerakan saya di “gangnam style”.

Usai senam itu saya ingin melihat rencana pembangunan pelabuhan baru Makassar. Tapi diam-diam saya ingin belok dulu ke sebuah BUMN yang setahun lalu masih berstatus “mayat”: PT Industri Kapal Indonesia (IKI). Saya ingin tahu begaimana keadaannya sekarang. Setelah hampir setahun manajemen di IKI diperbaiki.

Memang, hampir setahun yang lalu, tengah malam, saya diam-diam ke IKI. Tidak ada yang tahu. Satpam di situ sedang tidur dan pintunya tidak terkunci. Memang tidak ada harta berharga di situ. Sebulan kemudian, tengah hari, saya datang lagi. Meski tidak memberi tahu, rencana itu bocor di menit-menit terakhir.

Karyawan yang sudah lebih dua tahun tidak menerima gaji melakukan demo. Tapi persiapan demonya tidak bisa sempurna. Terburu-buru.

Saya sudah terlanjur masuk ke galangan ketika mereka berkumpul di pintu gerbang. Tapi mereka masih bisa mencegat ketika saya hendak keluar. Saya pun mendatangi mereka. Setidaknya untuk memberitahu bahwa spanduk yang mereka bentangkan terbalik.

Beberapa bulan kemudian saya masih datang lagi ke IKI. Dan kedatangan saya Minggu pagi kemarin itu adalah untuk yang keempat kalinya. Saya pikir, karena hari Minggu, IKI pasti sepi. Tidak mungkin direksinya ada di tempat. Tidak apa-apa. Toh niat saya memang hanya ingin melihat kondisinya yang terkini.

Ternyata dari pintu gerbangnya terlihat banyak sekali manusia: laki-laki, wanita, dan anak-anak. Mereka membukakan pintu gerbang tapi segera kaget ketika melihat pengemudi mobil tersebut adalah saya. Semua berlarian ke arah mobil: bukan untuk demo tapi untuk menyalami.

“Ada apa ini?” Tanya saya.

“Ulang tahun IKI yang ke-35 Pak,” jawab mereka.

Saya pun didaulat untuk turun dari mobil. Tapi saya minta izin untuk bisa melihat-lihat dulu seluruh kawasan galangan kapal itu. Direksi IKI pun, yang ternyata lengkap hadir di acara itu, ikut keliling lokasi. Saya kaget sudah begitu banyak kapal yang diperbaiki di situ. Ada kapal tunda, ada tongkang, ada pula kapal barang. Di graving dok yang dulu seperti kolam tua itu, kini sudah diisi dua kapal.

“Hebat! Sudah banyak kapal ya?” Tanya saya.

“Alhamdulillah, Pak. Sudah banyak sekali pekerjaan. Bahkan kapal yang minta diperbaiki di sini sudah harus antre,” ujar Bandung Bismono, Dirut PT IKI yang baru. “Kami akan terus menambah alat agar lebih banyak lagi kapal yang bisa diperbaiki di sini,” ujar Bandung yang asli Semarang ini.

“Sudah berapa karyawan yang bisa bekerja?” Tanya saya. Saya ingat 200 karyawan PT IKI sudah lama menganggur dan tidak menerima gaji.

“Sudah lebih 200 orang. Semua sudah bekerja kembali. Bahkan kami segera merekrut karyawan baru. Sudah kekurangan karyawan,” tambah Bandung Bismono.

Dalam hati saya memuji kehebatan direksi baru PT IKI ini. Perusahaan ini bisa hidup lagi tanpa disuntik modal sama sekali. Saya hanya menyuntikkan kepercayaan diri. Padahal dulu-dulunya selalu saja muncul ancaman ini: kalau tidak ada suntikan modal tidak mungkin PT IKI bisa hidup lagi. Mereka selalu minta modal dari negara. Nilai yang mereka ajukan pun Rp 200 miliar.

Saya ingat betapa gigih direksi PT IKI yang dulu memperjuangkan modal baru itu. Bahkan, kesan saya, kesibukan direksinya justru lebih banyak untuk mengurus penambahan modal itu daripada untuk bekerja di lapangan. Mereka marah kepada saya karena saya tidak mau meneruskan permintaan itu ke pemerintah dan DPR. Saya pun menunjuk direksi baru yang sanggup menghidupkan PT IKI tanpa sikap yang cengeng. Namanya: Harry Sampurno.

Saya punya prinsip direksi sebuah perusahaan tidak boleh cengeng. Modal besar sekali pun, di tangan sebuah direksi yang cengeng, akan habis begitu saja.

Dalam enam bulan, direksi baru PT IKI sudah menunjukkan hasil yang nyata. Tanda-tanda kehidupan kian jelas. Saya tahu pengorbanan Harry Sampurno sangat besar. Korban lahir dan batin. Karena itu ketika PT IKI sudah kelihatan bisa jalan, saya pun memindahkan Harry Sampurno untuk memegang perusahaan yang lebih besar.

Dia kini menjabat Dirut PT Dahana, yang memproduksi bahan peledak itu. Aslinya dia memang orang PT Dahana. Dia ke IKI untuk sementara, sebagai “Kopassus” yang harus membereskan PT IKI.

Usai meninjau lapangan, saya pun bergabung dengan seluruh karyawan dan keluarganya. Dari dialog di halaman itulah saya baru tahu mengapa ulang tahun ini terasa meriah. “Kami sudah 10 tahun tidak pernah mengadakan ulang tahun,” ujar Sekretaris Perusahaan, Ansyarif.

“Kali ini kami adakan ulang tahun karena kami sangat senang perusahaan ini hidup lagi. Kami ingin terus maju,” katanya.

Salah seorang karyawan kemudian minta salaman sambil minta maaf. “Maafkan kami dulu mendemo bapak,” katanya.

Karyawan bertepuk riuh ketika saya memberitahukan bahwa hari itu saya pun berulang tahun: genap setahun menjadi menteri.

Misteri Modal

Lokasi PT IKI ini tidak terlalu jauh dengan rencana pengembangan pelabuhan peti kemas Makassar yang baru. Inilah pelabuhan baru yang harus bisa dimasuki kapal dengan bobot 3.000 TEUs. Tiga kali lipat dari pelabuhan Makassar yang ada sekarang.

Kini, Dirut Pelindo IV Harry Susanto, sedang mengurus perizinannya di Kementerian Perhubungan. Begitu izin keluar, pembangunan langsung dilakukan. Pelindo IV sendiri yang akan mengusahakan dananya. Tidak perlu APBN.

Pelindo IV kini juga sudah menyelesaikan pembangunan pelabuhan peti kemas baru di Kariangau, Balikpapan. Inilah pelabuhan yang akan diresmikan Presiden SBY hari Rabu lusa.

Pelindo IV juga menghadapi tantangan berat bersama Pelindo II untuk membangun pelabuhan baru yang amat besar di Sorong. Sebesar yang ada di Makassar. Beda dengan IKI tadi, kali ini Pelindo mampu menyediakan modal sendiri.

“Modal,” memang sering seperti misteri. Ada perusahaan yang benar-benar perlu modal. Tapi banyak juga “modal” yang dimaksud hanyalah berupa dukungan kepercayaan. Percaya kepada pemegang sahamnya, percaya kepada direksinya (percaya bahwa direksinya akan mau kerja keras), dan kadang cukup percaya bahwa ada orang lain yang mempercayainya.

Dalam hal PT IKI, dukungan bahwa PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) akan membantunya, bisa menimbulkan kepercayaan. Padahal akhirnya PT DPS tidak perlu benar-benar memberikan dukungan. PT IKI bisa bangkit semata-mata oleh direksi dan karyawannya sendiri!

Demikian juga PT Batantekno yang melakukan pengayaan uranium sistem rendah untuk memproduksi radioisotop. BUMN yang bergerak di kedokteran nuklir ini begitu terseok-seoknya. Dirinya sendiri sudah kehilangan kepercayaan. Apalagi orang luar.

Kepercayaan mulai muncul ketika direksi barunya adalah orang-orang yang tidak hanya ahli di bidang nuklir, tapi juga mau menderita (sampai tinggal di rumah kos-kosan). Dan mau bekerja keras. Bukan direksi yang selalu memikirkan “kalau saya kerja keras” saya akan “dapat apa”.

Memang, setelah itu diperlukan dana. Batantekno tetap tidak bisa berkembang kalau tidak disediakan dana yang besar.

“Berapa besar?” Tanya saya.

“Besar sekali Pak. Bisa Rp 80 miliar,” ujar Dr Yudiutomo Imardjoko, direktur utama PT Batantekno yang ahli nuklir itu. Dialah satu-satunya orang di dunia yang mampu melakukan pengayaan uranium dengan sistem rendah.

“Kalau uang itu saya usahakan, pendapatan perusahaan bisa mencapai berapa setahun?” Tanya saya.

Dia pun menghitung-hitung. Dia melihat negara-negara di Asia ini tidak ada yang mampu memproduksi isotop. Pun tidak, Singapura dan Jepang. Amerika pun, kalau dua tahun lagi peraturan baru diterapkan, tidak akan bisa memproduksinya. Yakni peraturan bahwa uranium tidak boleh lagi dikayakan dengan sistem tinggi. Negara-negara itu, selama ini bisa memproduksi radioisotop dengan cara pengayaan sistem tinggi yang bisa disalahgunakan untuk senjata nuklir.

Pasar radioisotop sangat luas. Semua orang yang sakit, yang memerlukan MRI atau CT scan, pasti memerlukan cairan radioisotop. Cairan inilah yang disuntikkan ke dalam tubuh agar dokter bisa melihat keadaan dalam tubuh kita mengandung penyakit apa saja. Setelah mempertimbangan semua itu, Dr Yudi pun menggoreskan angka.

“Setahun pendapatan perusahaan bisa mencapai Rp 2 triliun, Pak,” kata Dr Yudi sepuluh menit kemudian.

“Ok. Saya carikan dana Rp 80 miliar. Anda laksanakan semua program itu,” tegas saya.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, saya pun berpikir. Bank mana yang bisa memberikan pinjaman modal sebesar itu. Kekayaan PT Batantekno belum memenuhi syarat untuk punya pinjaman sebesar itu.

Akhirnya BRI bisa diyakinkan. Ditandatanganilah perjanjian kredit Rp 80 miliar.

Mendengar PT Batantekno mendapat dukungan dana, muncullah kepercayaan diri para direksi dan karyawannya. Bahkan orang luar pun giliran mempercayai Batantekno. Produksi pun meningkat. Ekspor pun dilakukan. Bahkan sampai ke Tiongkok dan Jepang.

Dari transaksi ekspor itulah PT Batantekno bisa mendapaatkan L/C di depan. Perusahaan menjadi punya uang. Tanpa pinjaman. Termasuk tanpa pinjaman dari BRI yang sudah disetujui tersebut.

Direksi Batantekno juga bukan termasuk direksi yang “mata duitan”. Tidak mau sembarangan mencairkan uang kalau memang tidak sangat diperlukan. Tidak ada sikap mengada-ada untuk sekadar agar uangnya cair.

Sebaliknya BRI tentu merasa dirugikan. Saya pun seperti mendapat teguran ketika hari Minggu kemarin bertemu direktur BRI yang membidangi kredit-kredit untuk BUMN.
“PT Batantekno belum memanfaatkan kreditnya lho Pak,” ujar Asmawi Syam.

Di satu pihak tentu saya memuji direksi Batantekno. Tapi di lain pihak saya memaklumi problem pengaturan dana di BRI. Yang jelas saya tetap mengucapkan terima kasih kepadanya. “Tanpa kesanggupan kredit dari Anda, direksi PT Batantekno tidak akan memiliki kepercayaan diri untuk berkembang,” kata saya.

“Tapi alokasi kreditnya sudah terlanjur ada Pak,” katanya.

Tentu, saya tahu, bank bisa dirugikan kalau kredit yang sudah dialokasikan tidak dicairkan. Saya pun percaya PT Batantekno akan memerlukannya. Suatu saat. Untuk mengembangkan diri lebih besar lagi. Terutama kalau Batantekno jadi ekspansi ke luar negeri tahun depan. Yakni membangun reaktor nuklir di AS dan memproduksi cairan kedokteran nuklir di sana.

Dari dua contoh kasus PT IKI dan PT Batantekno tersebut nyatalah bahwa kepercayaan adalah segala-galanya. Itulah sebabnya program holdingisasi BUMN juga harus dilihat sebagai upaya untuk memperbesar kepercayaan itu. PT Semen Gresik sudah membuktikannya. Demikian juga PT Pupuk Indonesia.

Saya sungguh berharap, sebelum akhir tahun ini holdingisasi BUMN perkebunan dan kehutanan bisa terlaksana.

Mungkin memang masih perlu gerak “gangnam style” di sepanjang tahun kedua saya di BUMN ini.

(ang/ang)

Share:
Baca Juga
Dahlan Iskan Rapat di Dalam Mobil dengan Bos Bulog
Dahlan Iskan Bangga Anak Buahnya Lulus Cum Laude
Lulus Cum Laude, Wakil Dahlan Iskan di BUMN Dapat Gelar Doktor
Dahlan Izinkan Pegawai Perempuan BUMN Bawa Anak Saat Kerja
Dahlan Iskan: Di Perusahaan Saya Usia Pensiun Karyawan 50 Tahun

Forum
Ini dia 10 Miliarder Indonesia 2012 Versi Forbes
Untuk Pelestarian Taman, Milyuner Ini Hibahkan Rp 900 Miliar
Walah, Kepatuhan Bayar Pajak di Indonesia Cuma 30%
Blog
KEPIK – Kelas Pemimpin Kreatif Indonesia
Tips Menjadikan Toko Online Sukses
Alasan Paling Keren Resign Dari Pekerjaan
Komentar (25 Komentar) Kirim Komentar | Lihat Semua Komentar | Disclaimer

sip dehabout 13 hours ago
pencitraan itu kan dasarnya sesuatu yang positif sama dengan brand building, promosi, sosialisasi, jadi gak ada yang negatif sama pencitraan… Selengkapnya »

detikgeek22 Oct 2012 22:23:55 WIB
Si Iskan, siap2 saja bergangnam style di hotel prodeonya KPK. kasus PLN yg merugikan negara puluhan triliun rupiah sewaktu si Iskan menjabat dirut.. Selengkapnya »

detikgeek22 Oct 2012 15:25:11 WIB
Si Iskan tiap hari kerjanya PENCITRAAN di media, mengumbar janji2 surga (dgn tenggat waktu yg lama atas pemenuhan janji2nya biar masayarakt lupa)… Selengkapnya »

Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

BeritaTerbaruIndex »
Kamis, 25/10/2012 09:00 WIB
Erdikha Sekuritas: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan
Kamis, 25/10/2012 08:58 WIB
First Asia Capital: Ekonomi Global Melambat
Kamis, 25/10/2012 08:56 WIB
OSO Securities: Indeks Cenderung Flat Jelang Libur Panjang
Kamis, 25/10/2012 08:35 WIB
Kiwoom Securities: IHSG Masuk Tren Sideway
Kamis, 25/10/2012 08:32 WIB
Dahlan Rela Bangun Pagi Demi Menengok Sapi & Sawit
Most Popular Most Commented
Kamis, 25/10/2012 07:35 WIB
Mengintip Pulau Wisata Tempat Orang Kaya Berlibur
Kamis, 25/10/2012 08:32 WIB
Dahlan Rela Bangun Pagi Demi Menengok Sapi & Sawit
Kamis, 25/10/2012 08:03 WIB
Curhatan Rakyat Papua untuk Pemerintah Pusat
Kamis, 25/10/2012 08:20 WIB
Rekomendasi Saham
IHSG Konsolidasi Jelang Libur Panjang
Kamis, 25/10/2012 07:56 WIB
Buruknya Kinerja Emiten Kembali Menekan Wall Street

Wawancara Portofolio Sosok
Rabu, 24/10/2012 15:00 WIB
Ini 10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Setahun Jadi Menteri BUMN (2)
Dahlan Iskan sudah menjabat posisi Menteri BUMN selama satu tahun. Dalam jangka waktu tersebut, sudah banyak aksi Dahlan yang fenomenal dan membuat heboh tanah air. Apa saja?

detikNews
· Berita
· Internasional
· Kolom
· Wawancara
· Lapsus
· Tokoh
· Pro Kontra
· Profil
· Indeks
detikSport
· Basket
· MotoGP
· F1
· Raket
· Sepakbola
· Sport Lain
· Galeri
· Profil
· Fans Area
· Indeks
Sepakbola
· Italia
· Inggris
· Spanyol
· Jerman
· Indonesia
· Uefa
· Bola Dunia
· Fans Area
· Indeks
detikOto
· Mobil
· Motor
· Modifikasi
· Tips & Trik
· Konsultasi
· Komunitas
· OtoTest
· Galeri
· Video
· Forum
· Indeks
detikHot
· Celebs
· Music
· Movie
· Art
· Gallery
· Profile
· KPOP
· Forum
· Indeks
detikInet
· News
· Gadget
· Games
· Fotostop
· Klinik IT
· Ngopi
· Produk Pilihan
· Forum
· Indeks
detikFinance
· Ekonomi Bisnis
· Finansial
· Properti
· Energi
· Industri
· Sosok
· Peluang Usaha
· Pajak
· Konsultasi
· Foto
· TV
· Indeks
detikHealth
· Health News
· Sexual Health
· Diet
· Ibu & Anak
· Konsultasi
· Health Calculator
· Foto Balita
· Bank Nama Bayi
detikTravel
· Travel News
· Destinations
· Photos
· d’Trips
· Hotels
· Flights
· ACI
· d’Travelers Stories
Wolipop
· Fashion
· Photos
· Beauty
· Love & Sex
· Home & Family
· Wedding
· Entertainment
· Sale & Shop
· Hot Guide
· d’Lounge
· Indeks
detikFood
· Resep
· Tempat Makan
· Kabar Kuliner
· Halal
· Komunitas
· Forum
· Konsultasi
· Galeri
· Indeks
detikSurabaya
· Berita
· Bisnis
· Society
· Foto
· TV
· Indeks
detikBandung
· News
· Sosok
· Info
· Pengalaman Anda
· Lifestyle
· Iklan Baris
· Foto
· TV
· Info Iklan
· Forum
· Indeks
Back to TopKanal Lainnya »
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

October 25, 2012

Bos BUMN Ini Ngaku Pernah ‘Dipalak’ DPR

Maling teriak maling, tukang peras ngaku diperas.

Bos BUMN Ini Ngaku Pernah ‘Dipalak’ DPR
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Rabu, 24/10/2012 18:43 WIB

Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan telah melarang direksi perusahaan plat merah memberikan upeti atau setoran ke DPR, apapun alasannya. Larangan ini terkait adanya dugaan praktik permintaan ‘upeti’ dari oknum anggota DPR kepada BUMN.

Soal fenomena ini, diperkuat dari pernyataan Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Ismed Hasan Putro. BUMN yang salah satu unit usahanya bergerak dibidang produksi kondom ini pernah dimintai sumbangan di DPR.

Ismed mengatakan pernah dimintai sumbangan dana oleh DPR. Namun menurut Ismed, ia dimintai secara tidak langsung melalui mantan anak buahnya.

“Pada awal atau 3 hari saya menjabat, memang mau ada RDP dengan salah satu komisi, saya diminta sekper (sekretaris perusahaan) saya untuk ikut urunan dengan BUMN lain, dia menjelaskan untuk ini untuk dibawa ke DPR yang lain seperti biasa ada urunan,” kata Ismed kepada detikFinance, Rabu (24/10/2012)

Pada saat itu, bos BUMN gula dan sawit ini dengan tegas menolak permintaan mantan sekpernya itu. Namun Ismed tak mau berkometar berapa besar dana yang diminta DPR di Senayan.

“Tapi saya tolak,” tambahnya.

Semetara itu, Dirut PT PLN, Nur Pamudji mengaku pihaknya sama sekali tidak pernah memberi upeti untuk memperlancar urusannya di DPR.
“PLN tidak pernah memberi upeti kepada siapa pun,” tegas Nur.

(feb/hen)

October 25, 2012

Setahun Dahlan Iskan, Anggota DPR: Pencitraan Mulu & Mau Gosok WC

Setahun Dahlan Iskan, Anggota DPR: Pencitraan Mulu & Mau Gosok WC
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Rabu, 24/10/2012 16:30 WIB

Jakarta – Tak terasa sudah setahun Menteri BUMN Dahlan menduduki kursi nomor satu di Kementerian BUMN. Banyak penilaian terhadap menteri fenomenal ini, salah satunya datang dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima.

Politisi PDIP ini menilai selama kepemimpinan Dahlan di BUMN, banyak persoalan di tubuh perusahaan pelat merah yang belum dituntaskan.

“Sekarang Kementerian BUMN tidak punya blue print step by step yang dilakukan untuk IPO, PMN, privatisasi, rights issue, mana blue printnya? Mereka hanya reaktif. Keinginan kita, persoalan BUMN dari yang mendasar dirumuskan,” kata Aria kepada detikFinance, Rabu (24/10/2012).

Tingginya persaingan bisnis dan beban yang harus ditanggung oleh perusahaan pelat merah dalam membangun negeri ini, papar Aria diperlukan pembentukan budaya kerja yang diletakkan oleh Menteri BUMN.

“Ini kerja berat Menteri BUMN merubah corporate culture dari mental pegawai menjadi entrepreneur tapi ini yang tidak dirubah. Holdingisasi itu perlu untuk merubah value sehingga membentuk GCG,” tambahnya.

Aria mengaku sangat bingung tentang aktivitas Dahlan selama 1 tahun yang dinilainya banyak tidak nyambung dengan tugasnya sebagai menteri BUMN.

“Saya nggak mengerti Menteri BUMN mau apa? Pencitraan mulu. Kamar mandi bandara tetap jelek, kereta api yang tetap macet, itu nggak salah. Menteri BUMN mana? Kita butuh menteri BUMN yang baik bukan Dahlan yang baik,” sebutnya.

Komentar kerasnya, tambah Aria, tidak didasarkan pada sentimen pribadi tetapi dirinya memiliki kewajiban menilai dan mengawasi kinerja Menteri BUMN sebagai mitra dari Komisi VI DPR.

“Kinerja setahun dia nggak ada apa, nggak ada success story, Dia baik, menggosok WC bandara, tapi saya liat kinerja Menteri BUMN secara keseluruhan. Telkomsel kalah dan dipailitkan, mana Menterinya?,” pungkasnya.

(feb/dru)

October 25, 2012

Cegah Korupsi, PPATK Ngotot Transaksi Tunai Dibatasi Maksimal Rp 100 Juta

detikFinance Moneter
Cegah Korupsi, PPATK Ngotot Transaksi Tunai Dibatasi Maksimal Rp 100 Juta
Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 24/10/2012 15:36 WIB

Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tetap berharap transaksi tunai bisa dibatasi hingga maksimal Rp 100 juta. PPATK beralasan hal tersebut perlu dilakukan agar tingkat korupsi bisa dikurangi.

“Ini kan untuk menuju less cash society dan efisien karena lebih irit peredaran uangnya. Tapi yang belum ketahuan itu kan dampaknya ke likuiditas uang tunai seperti apa,” ungkap Wakil Ketua PPATK Agus Santoso di Jakarta, Rabu (24/10/2012).

Dijelaskan Agus untuk transaksi di atas Rp 100 juta maka harus melalui fasilitas jasa keuangan seperti transfer bank. Misalnya, untuk pembelian mobil pembayaran tunai tetap bisa dilakukan, hanya tetap maksimal Rp 100 juta, dan sisanya dilakukan melalui transfer.

PPATK sendiri masih menunggu tindak lanjut usulan tersebut dari pihak Bank Indonesia (BI). PPATK sendiri telah memberikan usulan tersebut ke BI secara resmi pada akhir tahun lalu. Dalam surat tersebut, diusulkan jika pembatasan maksimal transaksi tunai Rp 100 juta ini dapat dimasukan dalam amandemen undang-undang BI.

“Bentuk aturan mengenai pembatasan ini juga tidak mesti dimasukan ke UU, tapi dapat dikeluarkan melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) juga sudah cukup. Jika BI mau menerapkannya dengan batasan yang lebih tinggi ya tidak apa-apa. Yang jelas dengan transaksi uang tunai yang saat ini masih no limit kan juga masih bisa terdapat uang palsu. Jadi ini juga untuk menanggulangi hal tersebut,” tegas Agus.

Ia menambahkan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, dimana dari hasil pertemuan tersebut diketahui Kementerian Keuangan tengah melakukan kajian dari upaya pembatasan transaksi tunai.

(dru/dnl)