Yusuf Supendi: Kok, Kaget PKS Terlibat Suap?


Yusuf Supendi: Kok, Kaget PKS Terlibat Suap?

Yusuf Supendi. TEMPO/Aditia Noviansyah

KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 11:19 WIB

TEMPO.COJakarta – Bekas Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Yusuf Supendi, mengaku tidak terlalu kaget dengan penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka dalam kasus suap impor daging. Apalagi, kekisruhan impor daging sapisudah dua kali diangkat oleh majalah Tempo.

“Kenapa harus kaget?” kata Yusuf saat dihubungi Tempo, Kamis, 31 Januari 2013. Dia bertanya-tanya kenapa Luthfi Hasan terlibat. Apakah karena motivasi pribadi atau urusan partai. “Saya menduga dua-duanya,” kata dia.

Menurut Yusuf, Luthfi memiliki tiga istri yang harus dinafkahi. Ini bisa menjadi alasan pribadi kenapa yang bersangkutan akhirnya menerima suap impor daging. Alasan kedua, menurut Yusuf, adalah untuk mendanai partai.

Sebelumnya, KPK menetapkan Luthfi sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor daging sapi senilai Rp 1 miliar. Komisi antirasuah sudah mendapatkan dua alat bukti yang cukup untuk menjerat anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat itu.

Kasus ini bermula dari ditangkapnya Ahmad Fathanah, yang diduga staf pribadi Luthfi, di Hotel Le Meridien di Jakarta. Saat penangkapan, ditemukan uang Rp 1 miliar yang ditengarai berasal dari Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi, dua pengusaha PT Indoguna Utama, importir daging sapi.

Dia meminta ada pendalaman, mengenai berapa persen yang disetorkan ke kas partai. Selain itu, KPK diminta menyelidiki berapa persen uang suap ini yang masuk ke bos besar partai. Namun, Yusuf enggan menyebutkan nama bos besar partai. “Anda sudah tahu, kan?”
424913_10151283937153884_760994566_n
Yusuf Supendi adalah salah satu pendiri PKS. Dialah yang pada Maret tahun lalu menuding para pentolan PKS terlibat dalam sejumlah perkara rasuah. Yusuf antara lain mengungkapkan bahwa Luthfi menerima dana dari Jusuf Kalla sebesar Rp 34 miliar saat pemilihan presiden pada 2004. Tudingan ini sudah dibantah Luthfi, yang ketika itu sebagai bendahara umum.

Kedua, Yusuf mengatakan mengenai penggelapan dana Rp 10 miliar rupiah oleh Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta saat Pilkada DKI 2007. Ketiga, Yusuf mengungkapkan Ketua Majelis Syuro PKS, pejabat tertinggi di PKS, Hilmi Aminuddin, sangat gesit mengumpulkan setoran untuk memperkaya diri sendiri. Anis dan Hilmi sudah membantah tudingan tersebut.

WAYAN AGUS PURNOMO

++++++++++++++++++++

KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 11:57 WIB

Skandal Suap PKS, Hilmi Aminudin Diminta Mundur

TEMPO.COJakarta – Pendiri Partai Keadilan, cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera, Yusuf Supendi, meminta Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminudin mundur dari jabatannya. Pengunduran diri sebagai bentuk tanggungjawab atas kasus suap yang menerpa Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.

“Harus ada sikap radikal,” kata Yusuf kepadaTempo, Kamis, 31 Januari 2013. Dia menyebutkan, petinggi partai dakwah harus legowo meninggalkan jabatannya. Pengunduran diri sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kondisi partai. “Kecuali sudah siap menanggung segala risiko.”

Sebelumnya, KPK menetapkan Luthfi sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor daging sapi senilai Rp 1 miliar. Komisi antirasuah sudah mendapatkan dua alat bukti yang cukup untuk menjerat anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat itu.

Kasus ini bermula dari ditangkapnya Ahmad Fathanah, yang diduga staf pribadi Luthfi, di Hotel Le Meridien di Jakarta. Saat penangkapan, ditemukan uang Rp 1 miliar yang ditengarai berasal dari Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi, dua pengusaha PT Indoguna Utama, importir daging sapi.

Yusuf menyebutkan sejumlah orang yang mesti legowo mundur dari partai. Misalnya, Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminudin, Presiden Luthfi Hasan Ishaaq, Sekretaris Jenderal Anis Matta, Ketua Dewan Syariah Pusat Surrahman Hidayat, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Untung Wahono, dan Bendahara Umum Mahfudz Abdurrahman.

Dia meminta kader PKS berani bersuara lebih kritis. Selama ini banyak kader yang rela berkorban agar petinggi PKS bisa duduk sebagai anggota Dewan. Tetapi begitu menjabat, kata Yusuf, kader-kader yang sudah berjuang ini dilupakan. “Kader harus kritis, jangan takut dipecat,” ucap Yusuf.

Dia sebenarnya tidak terlalu kaget dengan tertangkapnya Luthfi Hasan. Sebab, isu suap di Kementerian Pertanian sudah lama bergulir. Termasuk ketika diangkat Majalah Tempo pada 2011 dan 2012. Dia juga mendesak Menteri Pertanian Suswono mengundurkan diri dari jabatannya. “Tirulah Andi Malarangeng.”

Yusuf berharap KPK menelusuri aliran uang suap ini. Suap ini kemungkinan besar tidak hanya mengalir untuk kepentingan pribadi Luthfi, yang memiliki tiga istri sehingga perlu uang banyak untuk nafkah. Tapi tidak menutup kemungkinan ada dana yang mengalir ke partai. “Juga berapa persen ke ‘Big Boss’.”

Yusuf Supendi adalah salah satu pendiri PK. Dialah yang pada Maret tahun lalu menuding para pentolan PKS terlibat dalam sejumlah perkara rasuah. Yusuf antara lain mengungkapkan bahwa Luthfi menerima dana dari Jusuf Kalla sebesar Rp 34 miliar saat pemilihan presiden pada 2004. Tudingan ini sudah dibantah Luthfi, yang ketika itu sebagai bendahara umum.

Kedua, Yusuf menyebutkan penggelapan dana Rp 10 miliar rupiah oleh Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta saat Pilkada DKI 2007. Ketiga, Yusuf mengungkapkan Ketua Majelis Syuro PKS, jabatan tertinggi di PKS, Hilmi Aminuddin, sangat gesit mengumpulkan setoran untuk memperkaya diri sendiri. Baik Anis maupun Hilmi sudah membantah tudingan tersebut.

WAYAN AGUS PURNOMO | BOBBY CHANDRA

+++++++++++++++++++

KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 11:55 WIB

Suap Daging, Nama Suripto dan Hilmi Ikut Terseret

TEMPO.COJakarta – Kasus suap terkait izin impor daging sapi Kementerian Pertanian tak hanya menyandung Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaq. Laporan Majalah Tempo pada Maret 2011 dan  Juni 2011menemukan keterlibatan dua petinggi PKS lain, yakni Suripto dan Hilmi Aminuddin.

Suripto adalah bekas Sekjen Kementerian Kehutanan yang juga orang dekat Hilmi Aminuddin. Sedangkan Hilmi adalah Ketua Dewan Syuro PKS. Dalam laporan Majalah Tempo, edisi Maret 2011, disebutkan mengenai sepak terjang seorang pengusaha impor daging sapi bernama Basuki Hariman. Dia mengimpor daging dengan bendera CV Sumber Laut Perkasa dan PT Impexindo Pratama.

Menurut sumber Tempo, Basuki sering menekan pejabat Kementerian Pertanian untuk memberikan kuota impor daging sapi untuk perusahaannya. Dia memanfaatkan kedekatannya dengan Suripto, yang pernah menjadi anggota Majelis Syuro PKS.

Dalam laporan utama Tempo itu, Suripto mengaku kenal dengan Basuki, namun membantah membukakan pintu untuk pengusaha itu. Basuki juga membantah tudingan kalau dia berperan sebagai makelar kuota impor daging di Kementerian Pertanian.

Pada edisi Juni 2011, Tempo kembali menurunkan laporan utama mengenai skandal impor daging sapi di Kementerian Pertanian. Kali ini, ada pemain baru dalam impor daging sapi yakni Sengman Tjahja. Dia mengimpor daging untuk kepentingan PT Indoguna Utama, perusahaan yang kini dua direkturnya ditangkap KPK.

Masuknya Sengman ke Kementerian Pertanian dibawa oleh Ridwan Hakim, anak keempat Hilmi Aminuddin. Ini dibenarkan mantan Dirjen Peternakan Prabowo Respatiyo. “Iya, Sengman dibawa Iwan (begitu Ridwan Hakim biasa disapa–),” kata Prabowo. Hilmi sendiri membantah tuduhan ini. Demikian juga dengan Sengman Tjahja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: