Komoditas Data Pribadi


Senin,
29 April 2013
 

TEKNOLOGI INFORMASI

 

 

 
 

 

Ketika Anda mengisi formulir, absensi, atau memasukkan data di dalam akun seharusnya sejak awal Anda menyadari bahwa Anda menyerahkan data Anda kepada pihak lain. Pada saat yang sama, Anda harus memastikan adanya kebijakan perlindungan terhadap data yang Anda berikan. Hal ini menjadi penting karena data pribadi telah menjadi komoditas.

Pertengahan Februari lalu harian ini mengangkat topik mengenai minimnya upaya perlindungan data pribadi sehingga data pribadi mudah berpindah tangan tanpa diketahui oleh pemiliknya. Situasi yang ada sudah dikategorikan gawat karena sejumlah kasus pembocoran data pribadi telah merugikan si pemilik data baik dari segi finansial maupun privasi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika merespons situasi ini. Mereka tengah mengadakan sejumlah rembuk dengan target membuat Undang-Undang Perlindungan Pribadi. Wacana yang dikembangkan di beberapa kesempatan pun sangat menarik karena melibatkan sejumlah ahli, baik ahli hukum, kesehatan, finansial, pers, maupun perlindungan konsumen.

Sebenarnya persoalan perdagangan data pribadi ini sudah lama menjadi persoalan, tetapi di Indonesia sepertinya belum diangkat ke permukaan. Hingga sekarang hanya keluhan-keluhan dari masyarakat yang muncul. Namun pada 2005 di Amerika Serikat sejumlah perusahaan seperti Time Warner, DSW, dan Ameritrade, heboh dengan bocornya sejumlah data karyawan dan pelanggannya.

Salah satu pakar keamanan data pribadi menyebutkan, pembocoran tersebut merupakan bagian dari bisnis data pribadi. Di Amerika Serikat ternyata ada sejumlah pialang data seperti ChoicePoint, Acxiom, dan Lexis. Mereka membeli data dari sejumlah sumber, seperti lembaga pemerintah, lembaga bisnis, penyidik, pengacara, dan lain-lain. Pialang itu kemudian mengemas ulang data-data pribadi yang diterima dan dijual kembali kepada pihak yang memerlukan.

Bila kasus-kasus di Indonesia masih sekitar pembocoran nomor telepon seluler, alamat surat elektronik, alamat rumah, dan sejenisnya, di sejumlah negara penjualan data pribadi sudah melampaui jenis-jenis itu. Pembocoran dan perdagangan data telah meliputi data tagihan telepon seluler, data pembelian di sejumlah pasar swalayan oleh pelanggan setia, catatan kesehatan seseorang, dan data rekening bank.

Akan tetapi, harus diakui data pribadi tersebut tidak sedikit yang didapat secara legal karena merupakan data publik atau data yang dipublikasikan secara sadar atau tidak diamankan oleh pemiliknya. Data tagihan telepon, data pembelian barang, bahkan absensi rapat atau pertemuan kerap kali dibiarkan dibuang hingga bisa dimanfaatkan oleh orang lain.

Pada saat belum ada undang-undang mengenai privasi perlindungan data pribadi di Indonesia maka kita harus menyadari bahwa data pribadi adalah sesuatu yang penting. Data pribadi dalam konteks zaman teknologi informasi telah menjadi sumber uang, sumber kekayaan, dan juga memiliki nilai strategis. Kesadaran untuk memastikan adanya kebijakan perlindungan data juga harus muncul ketika kita menyerahkan data kepada pihak lain. (ANDREAS MARYOTO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: