SYAMSUDDIN HARIS : Sulitnya mencari parpol bersih


Sulitnya mencari parpol bersih

Koran SINDO
Rabu, 15 Mei 2013 – 19:27 WIB
Sulitnya mencari parpol bersih
Partai politik peserta Pemilu 2014. (Sindonews)

SEJUMLAH kasus dugaan suap dan korupsi yang melibatkan hampir semua
parpol di negeri ini tidak hanya benar-benar mengecewakan publik, tetapi
juga menimbulkan pertanyaan, masih adakah parpol yang bersih dan layak
dipilih? Jika tidak, masih perlukah Pemilu 2014 digelar?

Pertanyaan ekstrem di atas wajar-wajar saja muncul jika dua parpol yang
selama ini terdepan menepuk dada sebagai partai bersih, Partai Demokrat
dan Partai Keadilan Sejahtera, ternyata dirundung dugaan skandal suap
dan korupsi.

Belum reda keterkejutan kita atas nasib sejumlah pimpinan teras Demokrat
yang ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi, tiba-tiba publik dikagetkan oleh penangkapan
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Seperti ramai diwartakan, Luthfi
dijadikan tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan suap impor daging sapi
yang otoritasnya berada di tangan Menteri Pertanian Suswono, kader PKS
lainnya.

Skandal suap dan korupsi impor daging sapi semakin ramai bukan hanya
lantaran tersangka Ahmad Fathanah, sahabat sekaligus “broker” Luthfi
dengan otoritas Kementerian Pertanian, diduga mengalirkan rezeki haram
ke sejumlah perempuan sosialita, tetapi juga turut menyeret PKS. Sebagai
parpol yang mengusung semboyan “bersih dan peduli”, skandal suap daging
sapi yang menyeret Luthfi jelas mencoreng citra bersih PKS.
424913_10151283937153884_760994566_n
Terlepas dari soal bahwa skandal ini hanya melibatkan Luthfi secara
personal, namun jelas mustahil bagi Luthfi mempunyai akses untuk
memperoleh kuota impor daging sapi dari Menteri Pertanian jika dia bukan
dalam posisi sebagai pemimpin tertinggi PKS. Dengan kata lain, citra
buruk partai adalah risiko yang harus diterima setiap parpol jika
petinggi parpol yang bersangkutan tersangkut kasus hukum.


Nila setitik Kasus Demokrat dan PKS semakin membuka mata kita betapa
sulitnya menemukan parpol yang benar-benar bersih dari skandal korupsi
di negeri ini. Ironisnya, kasus suap dan korupsi bukan hanya dilakukan
politisi parpol berlatar belakang sekuler-nasionalis, melainkan juga
partai-partai agama dan berbasis agama.

Dari segi posisi terhadap kekuasaan, politisi korup bukan hanya berasal
dari parpol koalisi, melainkan juga dari oposisi. Sementara dari segi
klaim subjektif, hampir tidak ada perbedaan antara parpol yang mengusung
haluan sebagai parpol bersih, dan parpol yang sejak awal memang tidak
berani gegabah menepuk dada seperti itu.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tingkat kepercayaan publik
terhadap parpol-parpol kita cenderung terus merosot dari waktu ke waktu.
Di luar musim pemilu (dan juga pemilihan kepala daerah), publik hanya
disuguhi perilaku korup politisi parpol yang ironisnya tidak kunjung
berkurang kendati intensitas pemberantasan korupsi oleh KPK, kepolisian,
dan kejaksaan juga cukup meningkat. Sudah tentu tidak semua politisi
berperilaku demikian, namun ibarat kata pepatah, “(karena) nila setitik
maka rusaklah susu sebelanga”.

Barangkali inilah problem besar bangsa kita di balik euforia parpol dan
politisi menyongsong Pemilu 2014. Pemilu adalah momentum bagi publik
untuk “menghukum” parpol dan politisi yang tidak bertanggung jawab.
Namun jika perilaku oportunistis dan koruptif parpol dan politisi tidak
berkurang, dan sebagian besar anggota parlemen diajukan kembali sebagai
calon anggota legislatif dalam pemilu mendatang, lalu siapa lagi yang
harus dipilih?

Standar etika
Fakta bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara parpol
nasionalis-sekuler dan partai agama (Islam) dalam soal korupsi
benar-benar mencengangkan publik. Realitas ini membongkar asumsi umum
yang berlaku, seolah-olah partai Islam dan berbasis Islam memiliki
standar moralitas lebih baik atau lebih “tinggi” dibandingkan partai
nasionalis-sekuler.

Berbagai kasus suap dan korupsi yang melibatkan hampir semua parpol
selama ini justru memperlihatkan, parpol atas nama apa pun di negeri ini
tidak memiliki standar etika yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
Konsekuensi logis dari kenyataan tersebut adalah berlangsungnya
perebutan kue kesempatan untuk melakukan tindak pidana korupsi oleh para
politisi hampir tanpa kecuali.

Belum begitu jelas bagi kita, berapa besar bagian atau persentase yang
diterima parpol dari dana-dana haram hasil suap dan korupsi ini, berapa
pula yang masuk ke kantong pribadi. Yang jelas adalah, parpol dan para
politisi busuk yang melakukannya saling melindungi selama tindak pidana
korupsi itu tidak tercium oleh KPK dan aparat penegak hukum lainnya.

Akan tetapi begitu skandal korupsi terungkap, para petinggi parpol
secara berapi-api membela parpol mereka, seolah-olah partai secara
institusi tidak terkait, seakan-akan korupsi bisa berlangsung tanpa
fasilitas, dukungan, infrastruktur, dan kedudukan strategis sebagai
pengurus parpol. Juga seakan-akan parpol bisa membiayai diri tanpa
dana-dana haram yang dicuri dari anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) dan anggaran daerah (APBD).

Itulah sekilas potret buruk parpol dan politisi kita menjelang Pemilu
2014, yakni parpol-parpol dan para politisi yang hanya siap berkuasa
namun tidak siap bertanggung jawab, apalagi berkorban bagi bangsa dan
negaranya. Mereka menebar pesona dan menabur janji-janji surga demi
dukungan dan mandat politik melalui pemilu, namun kemudian mencampakkan
nasib rakyat dan bangsanya hanya sebagai alas kaki syahwat kekuasaan.
Barangkali di sinilah urgensi reformasi perundang-undangan pemilu dan
keparlemenan kita ke depan, yakni bagaimana melembagakan mekanisme
akuntabilitas yang lebih langsung antara para wakil dan konstituennya.

Salah satu instrumen yang diperlukan adalah adanya mekanisme
institusional bagi publik untuk menggugat para wakil yang korup dan
tidak bertanggung jawab tanpa harus menunggu pemilu berikutnya. Kalau
tidak, pemilu pada akhirnya hanya menjadi “pesta” bagi parpol dan
politisi, sementara rakyat kita mencuci piringnya.

SYAMSUDDIN HARIS
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI

http://nasional.sindonews.com/read/2013/05/15/18/749192/sulitnya-mencari-parpol-bersih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: