Kerawang si Lumbung Padi yang nyaris punah


Jejak Panjang Si Lumbung Padi

Oleh: Neli Triana 0 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER

Sebelum abad ke-4 Masehi, rawa-rawa luas serta hutan di Karawang, Jawa Barat, diminati banyak pihak. Waktu itu, Karawangm menjadi bagian dari Kerajaan Tarumanegara, yang menjadi lumbung beras pasukan Kerajaan Mataram, yang dipimpin Sultan Agung saat menguasai Batavia abad ke-16 M.

Kini, bentangan sawah sejauh mata memandang, kontras dengan deretan kompleks bangunan kokoh kawasan industri di Karawang. Sawah makin tersekat-sekat seiring menjamurnya pertumbuhan perumahan. Namun, di antara sawah, perumahan, dan kawasan industri, puluhan situs bersejarah, seperti Kompleks Candi Batujaya dari abad ke-6 M, tetap bertahan. Sepertinya, ingin mengingatkan arti pentingnya Karawang.

Namun, kekayaan warna Karawang memang sering tak terlihat. Daerah ini hanya satu dari sekian kawasan di jalur pantai utara (pantura) tempat orang sekadar menumpang lewat. Sebab itu, ketika bicara beras, banyak orang lebih mengidolakan beras Cianjur yang sama-sama dari Jawa Barat.

Situs bersejarah Rengasdengklok di Karawang yang menjadi penentu deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 pun teronggok kurang terurus di tepi Citarum. Mungkin jika masih bisa menyaksikan kondisi Karawang saat ini, Syeikh Quro, ulama besar pada abad ke-15 M yang menyebarkan agama Islam dan menjadi pemimpin di Karawang pun bakal merasa kecewa.

Terimpit masalah”Karawang sekarang hanya menyumbang 15 persen dari total produksi beras nasional. Akibatnya, petani semakin tak punya posisi tawar lagi,” ujar Rohmat Sarman, pengelola Bale Pare yang merupakan salah satu pelopor industri beras organik di Karawang.

Lumbung padi di Karawang tengah memang menghadapi banyak masalah. Ketua Kontak Tani Nasional Andalan Kabupaten Karawang Endjam Djamsir sudah lama galau memikirkan nasib beras Karawang. Alasannya, kawasan lumbung beras ini terancam kelestariannya. Tidak hanya dari luar, tetapi juga dari internal keluarga petani.

Masyarakat Karawang kini lebih memilih menjadi pekerja pabrik atau merantau daripada turun ke sawah. Dari sisi eksternal, ancaman yang dihadapi padi di Karawang ada dua. Pertama, bencana alam, seperti banjir dan hama. Kedua, luas lahan persawahan yang semakin menyempit.

Banjir membuat 40 persen areal persawahan di Karawang rusak akhir tahun 2012. Bencana ini menjadi momok yang menakutkan setiap tahun saat musim hujan datang. Apalagi, kini saat musim hujan dan kemarau tak jelas lagi batasnya.

Bagi Endjam maupun Rohmat, kondisi yang dialami Karawang sekarang dan kesan pembiaran dari pemerintah pusat dianggap aneh. ”Di mana-mana di dunia, isu ketahanan pangan sedang hangat. Kenapa Indonesia yang punya Karawang tidak punya kebijakan khusus untuk melestarikannya? Adopsi teknologi baik dari sisi kualitas bibit maupun peralatan kerja petani masih amat lambat,” tambah Rohmat.

Pasar industri pupukSaat mengelilingi Karawang, kami melihat sebagian sawah sudah memasuki masa panen, dan sebagian lagi tengah dipersiapkan untuk musim tanam baru. Hartoyo, petani setempat, sudah sibuk menyiapkan bibit padi serta berbagai zat kimia untuk pupuk maupun pembasmi hama. Ketergantungan petani Karawang terhadap bahan kimia ternyata amat akut.

Rohmat menyatakan, berbagai zat kimia itu mulai dikenalkan kepada petani Karawang pada awal tahun 1980an. Kala itu, ada semangat baru dan program pemerintah untuk mencapai surplus beras di Indonesia. Peralihan penggarapan sawah secara organik menjadi kimiawi itu terbukti mampu meningkatkan produktivitas. ”Namun, cuma sampai sekitar tahun 1984-an. Habis itu, produksi terus turun. Kalaupun ada peningkatan, itu karena peningkatan penggunaan zat kimia juga, termasuk pupuk,” kata Rohmat.

Penggunaan pupuk kimia maupun obat-obatan pembasmi serangga tak hanya membuat pola tanam berubah, tetapi juga memorakperandakan budaya petani yang serba gotong royong dan selaras dengan alam. Di Karawang, dulu dikenal istilah kalagumarang, yaitu gotong royong basmi tikus sebelum masa panen. Dengan sistem pemilihan dan pemilahan tanaman padi berdasarkan pengetahuan turun temurun, petani dulu bisa menyediakan bibit unggul padi yang memadai.

Kondisi dewasa ini sungguh berbeda, petani harus dihadapkan pada kebutuhan akan ketersediaan uang tunai untuk membeli bibit, pupuk, dan obat antihama. Petani Indonesia seperti di Karawang, hanya menjadi pasar bagi perusahaan kelas dunia penghasil pupuk dan obat pembasmi hama. Di sisi lain, petani sebagai orang pertama penghasil beras juga tak berdaya menentukan harga jual.

Soal air limbah yang disinyalir tak diolah, Rohmat meminta petani tak terlalu khawatir. Ada cara tradisional yaitu dengan eceng gondok. Rohmat memiliki kolam berisi eceng gondok dan ikan yang berfungsi sebagai tempat mengecek kadar polusi air sebelum masuk ke areal persawahan.

Terlepas dari hal itu, dengan segala potensinya, Karawang diharapkan tetap menjadi lumbung padi nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: