Korea Selatan dan Singapura Bantah Sadap Indonesia


Namanya juga dunia intel.. mana ada mengaku..

Yang ada harus tertangkap basah, macam maling atau copet. Badan Intelijen Nasional dipegang oleh Jendral yang levelnya mirip Satpam, memang karena latarbelakangnya juga SATPAM PRESIDEN.    Hanya di negeri yandg dipegang oleh seorang diktator macam si Saddam Husain saja yang akan menempatkan mantan pengawalnya sebagai BOS Intel.  Di negeri demokratis bos intelijen dipilih dari kelompok warganegara yang jelas punya kemampuan OTAK yang mumpuni.  Karena tugas Bos Intel   harus memiliki kemampuan selain menyaring, mengumpulkan dan mengolah data intelijen adalah  menangkal operasi sadap menyadap dari “negera sahabat ” seperti  Aussie, Korea Selatan, Singapore dll.  

Nah, Sekarang Presiden SBY memilih seorang KABIN   yang mantan SATPAM PRESIDEN.  Apa kata DUNIA ??? Tidak heran tingkah polah KABIN yang sekarang ini  juga mirip satpam.    Jika presiden ( Lurah Besar)  hendak berkunjung ke luar negeri, bisasanya KABIN langsung turun sebagai tim advance, mengecek situasi dan kondisi di negera yang akan dikunjungi presiden. Hal ini terekspos dengan jelas ketika SBY hendak berkunjung ke London.   Setahu saya mungkin juga sudah jadi pengetahuan umum jika Presiden OBAMA ke luar negeri bos CIA  tidak pernnah turun langsung mengecek lapangan, hal itu sudah didelegasikan ke Secret Service atau Paspampress. Jadi NGAPAIN   KABIN kelayapan ikut tim advance,  ??? Sptnya bos BIN kurang kerjaan .. Karena kasus penyadapan yang memalukan macam begini mbok ya KABIN yang mantan satpam Presiden ini mengundurkan diri saja. 

RABU, 27 NOVEMBER 2013 | 20:06 WIB

 

Korea Selatan dan Singapura Bantah Sadap Indonesia

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene. rri.co.id

 

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri sudah memanggil Duta Besar Korea Selatan dan Duta Besar Singapura dalam kaitan dengan kabar yang menyebut bahwa kedua negara itu membantu Australia dan Amerika Serikat dalam memata-matai Indonesia. Kedua duta besar ditemui oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Wardhana.

“Kemlu sudah memanggil Duta Besar Korea Selatan dan Singapura, dan  ditemui Wakil Menteri Luar Negeri,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Michael  Tene, kepada Tempo, Rabu, 27 November 2013.

Pada intinya, Indonesia meminta klarifikasi dari kedua pemerintah itu terkait dengan laporan tersebut.

Menurut Tene, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Andri Hadi, juga menghadap Kementerian Luar Negeri Singapura.

“Kepada dubes kita di Singapura, mereka menyatakan tuduhan pemberitaan itu tidak berdasar dan spekulatif. Intinya mereka membantah,” kata Tene.

Hal serupa juga akan dilakukan oleh Duta Besar Indonesia di Korea Selatan. Namun, menurut Tene, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam berbagai pemberitaan juga membantah tuduhan tersebut.

“Saya mengetahui sudah ada pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan terhadap pemberitaan itu,” kata Tene.

Senin lalu, media massa Australia melansir berita dari koran Belanda, NRC Handesblad, yang mengatakan bahwa intelijen Australia dan Singapura telah bekerja sama sejak 1970-an untuk memata-matai Indonesia dan Malaysia.

NATALIA SANTI

++++++++++++++++++

 

SELASA, 26 NOVEMBER 2013 | 12:08 WIB

Indonesia Bantu Cina Mata-matai Australia

Indonesia Bantu Cina Mata-matai Australia

TEMPO/ Imam Yunni

 

TEMPO.COCanberra – Media massa Australia memberitakan bahwa intelijen militer Indonesia telah menggunakan peralatan pengintaian buatan Cina untuk memata-matai pejabat Australia. Situs berita news.com.au, misalnya, mengutip sumber yang tidak disebut namanya mengatakan bahwa Jakarta dan Beijing melakukan sejumlah operasi bersama untuk mengintai Australia.

Dituliskan juga, telepon-telepon genggam milik warga Australia disadap dengan imbalan antara US$ 300-1.000 oleh perusahaan yang terkait langsung dengan militer Indonesia. Kabarnya, telepon tersebut dikirim ke otoritas militer Cina melalui Badan Intelijen Strategis (BAIS).

Penyadapan telepon itu hanya elemen kecil saja dari operasi intelijen yang menggunakan peralatan penyadapan bergerak maupun yang terpasang untuk mematai-matai warga negara, perusahaan, dan diplomat Australia. Termasuk pula peralatan penyadapan tercanggih buatan Cina.

Sebagian besar peralatan tersebut dibuat berdasarkan desain Barat, yang dicuri Cina dan diberikan kepada Indonesia oleh Departemen ke-3 Tentara Pembebasan Rakyat (PLA),  militer Cina. BAIS diduga bekerja sama erat dengan Departemen ke-3 yang bertanggung jawab untuk seluruh sinyal dan intelijen cyber Cina. Sedangkan Departemen ke-4 bertanggung jawab untuk perang cyber.

Menurut jurnal Intelligence Online kesepakatan antara badan-badan intelijen dimulai sejak kunjungan Kepala Angkatan Udara Cina Jenderal Ma Xiaotian ke Jakarta pada Maret 2011, untuk menghadiri Pameran Pertahanan dan Keamanan Asia Pasifik. Jenderal Ma adalah mantan Deputi Kepala Staf Jenderal yang bertanggung jawab terhadap Departemen ke-3.

Dengan mengutip sumber intelijen, News Corp mengatakan bahwa hubungan Indonesia-Cina sangat dekat, dan Cina sangat tertarik menggunakan kedekatan itu untuk memata-matai Australia dan negara-negara Barat. “Jelas ada upaya terkoordinasi oleh Cina dan Indonesia untuk memeras apa yang bisa mereka dapatkan dari kami,” kata sumber tersebut. “Cina tertarik pada masalah birokrasi, desas-desus kontrak bisnis, dan aktivitas militer. Ada banyak isu.”

Tidak seperti Australia dan Amerika Serikat, aksi pengintaian Cina berdasarkan model agen mata-mata bekas Uni Soviet, KGB, dengan metode saturasi yang digunakan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari sasaran.

Mantan mata-mata Australia, Warren Reed, mengatakan pengintaian elektronik sulit dilawan. “Langkah pertama mengakui dan memahami masalah,” katanya.

Sementara itu, dalam jurnal online Jane’s Defence Weekly dikatakan bahwa Cina menawarkan untuk membangun jaringan radar di sepanjang pesisir pantai Indonesia, dan sejumlah garis pantai yang strategis di seluruh dunia.

Detail sistem tersebut belum diketahui, namun diyakini akan ditempatkan di Lombok, Selat Sunda, Kalimantan Barat, serta sepanjang pantai barat daya Sulawesi. Penawaran tersebut diajukan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Beijing pada bulan Maret. Presiden Cina Xi Jinping membalas kunjungan tersebut pada bulan Oktober lalu.

President Xi dianggap paham mengenai Indonesia karena pernah menjadi Ketua Partai di Fujian, tempat asal banyak konglomerat Indonesia keturunan Cina. Cina adalah mitra dagang terbesar kedua Indonesia dengan nilai perdagangan sebesar US$ 66 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Australia US$ 15 miliar.

NEWS.COM.AU | NATALIA SANTI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: