SBY mewariskan fondasi yang kuat buat Indonesia


28_03_2014_013_001-705876

FIRMANZAH : 10 Tahun menata fondasi ekonomi

10 Tahun menata fondasi ekonomi 
Senin, 7 April 2014 − 07:56 WIB 

TAHUN ini adalah tahun yang akan menentukan sejarah Indonesia untuk lima 
tahun ke depan, 2014–2019. 

Landscape baru konfigurasi anggota parlemen serta transisi kepemimpinan 
nasional dari Presiden SBY ke presiden baru akan menentukan arah 
pembangunan ekonomi ke depan. Masing-masing tim sukses, terutama tim 
sukses tiap-tiap calon presiden, perlu merumuskan visi Indonesia 
kemudian mengomunikasikan agar rakyat memahami komitmen politik serta 
arah kebijakan pembangunan lima tahun berikutnya. Mengingat pembangunan 
adalah sebuah proses, pijakan rumusan ini perlu melihat perjalanan 
pembangunan ekonomi selama 10 tahun terakhir, 2004-2014. 

Terdapat sejumlahcapaian sekaligus tantangan di bidang ekonomi dan 
pembangunan di Tanah Air yang perlu menjadi perhatian siapa pun yang 
akan melanjutkan tongkat kepemimpinan nasional. Dapat dikatakan, selama 
kurun waktu 10 tahun terakhir pembangunan ekonomi Indonesia mendapatkan 
momentumnya kembali pasca krisis multi dimensi pada 1998. 

Pada awal masa transisi yang dipimpin Presiden Habibie, Presiden 
Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarnoputri, Indonesia 
melakukan banyak sekali perombakan dan penataan kelembagaan ekonomi. 

Sejumlah undang-undang (UU) dilahirkan misalnya UU Otonomi Daerah, 
UUKetenagakerjaan, UU BI, UU tentang Lembaga Penjaminan Simpanan, dan UU 
Keuangan Negara. Penataan kelembagaan tidak hanya dilakukan untuk 
kelembagaan ekonomi, tetapi juga kelembagaan politik dan mekanisme 
bernegara. Stabilitas mulai menemukan bentuknya pasca-Pemilu 2004 di 
mana untuk pertama kalinya sejak era Orde Baru pemilihan presiden 
dilakukan secara langsung dan demokratis. 

Pada awal periode kepemimpinan Presiden SBY, sejumlah kondisi dan 
situasi masih belum kondusif untuk mengakselerasi pembangunan nasional. 
APBNP 2004 tercatat masih terbatas yaitu Rp430 triliun, penerimaan 
sektor perpajakan hanya Rp279,2 triliun, kita masih terikat pada letter 
of intent (LOI) IMF, BUMN dan swasta nasional masih belum pulih akibat 
krisis 1998, porsi utang/PDB mencapai 56,6%, PDB nasional tercatat hanya 
USD257 miliar, PDB/kapita sebesar USD1.179, cadangan devisa sebesar 
USD36,3 miliar, dan angka kemiskinan mencapai 16,6%. 

Bencana tsunami di Aceh akhir 2004 juga menambah fokus yang harus 
ditangani Kabinet Indonesia Bersatu I. Di bidang ekonomi, beberapa 
kebijakan dan strategi pembangunan dilakukan untuk menata kembali 
perekonomian nasional yang terpuruk akibat krisis ekonomi 1998. Langkah 
pertama yang dilakukan adalah menjamin tata kelembagaan baru (KPK, MK, 
KY, KPPU, otonomi daerah, BI, LPS, dan sebagainya) berjalan sesuai peran 
dan fungsi seperti yang diamanatkan UU. 

Kedua, memberikan sinyal positif membaiknya ekonomi Indonesia dengan 
dilunasi sisa utang RI dari IMF pada 2006 dan dibubarkan CGI pada awal 
2007. Ketiga, penguatan ekonomi domestik dari sisi demand side melalui 
serangkaian kebijakan keep-buying strategy. 

Keempat, pemberdayaan ekonomi rakyat di sektor mikro, kecil, dan 
menengah melalui akses finansial dalam skema KUR. Kelima, penguatan 
fiskal dan menjaga defisit anggaran dalam rentan yang aman melalui 
kebijakan konversi minyak tanah ke gas, penyesuaian harga BBM 
bersubsidi, dan menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% dari PDB. 

Meskipun ekonomi Indonesia diuji oleh krisis ekonomi dunia yang 
bersumber dari krisis Subprime-Mortgage di Amerika Serikat pada 2008 
menjelang Pemilu 2009, langkah-langkah penguatan fundamental ekonomi 
yang ditempuh selama lima tahun (2004-2009) membuahkan hasil positif. 

PDB Indonesia meningkat 110% pada 2009 mencapai USD539 miliar, 
PDB/kapita meningkat 99% mencapai USD2.350, cadangan devisa meningkat 
82% mencapai USD110,1 miliar, belanja negara pada APBN-P 2009 meningkat 
118% mencapai Rp937 triliun, realisasi pendapatan sektor perpajakan 
meningkat 121% dan mencapai Rp619,9 triliun, serta rasio utang/PDB 
berhasil diturunkan signifikan dan menjadi 28,4%. 

Tantangan ekonomi dalam periode 2009-2014 memiliki karakteristik yang 
berbeda dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, 
sejumlah guncangan akibat krisis seperti krisis Subprime-Mortgage, 
krisis utang Eropa, dan tekanan capital-outflow akibat rencana 
tapering-off program stimulus moneter The Fed. Dari sisi internal, 
tekanan lonjakan besaran subsidi BBM berpotensi membahayakan kesehatan 
fiskal dan ketidakseimbangan (imbalance) antara tingginya konsumsi dan 
produksi nasional membuat neraca perdagangan serta neraca pembayaran 
terganggu. 

Selain itu juga ekonomi Indonesia seperti negara emerging lain 
dihadapkan pada depresiasi nilai mata uang, peningkatan suku bunga 
acuan, tekanan inflasi, dan penurunan pasar ekspor dunia. Dihadapkan 
pada sejumlah tantangan, pemerintahan melakukan serangkaian 
langkah-langkah. Pertama, meluncurkan MP3EI sebagai blueprint akselerasi 
pembangunan infrastruktur dan sektor riil untuk lebih mendorong 
supply-side dalam mengimbangi tingginya permintaan domestik. 

Kedua, melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi pada 2013. Ketiga, 
mengefektifkan FKSSK sebagai sarana koordinasi, harmonisasi, dan 
konsultasi kebijakan antara pemerintah, BI,OJK, dan LPS. Keempat, tetap 
melakukan kebijakan pemberdayaan ekonomi rakyat dan pengentasan 
kemiskinan. Kelima, menerbitkan paket kebijakan sebagai respons terhadap 
tekanan ekonomi dunia. 

Keenam, melakukan proses industrialisasi dan hilirisasi. Hasilnya pada 
akhir 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,68%, inflasi di 
bawah prediksi sebelumnya dan mencapai 8,38%, realisasi investasi 
tertinggi dalam sejarah dan mencapai Rp398,6 triliun, cadangan devisa 
menguat, defisit anggaran di bawah 3% dan mencapai 2,24%. Dengan begitu, 
modal kembali masuk ke Indonesia dan akhir-akhir ini kita melihat tren 
kenaikan IHSG dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika 
Serikat. 

Selain itu juga stabilitas keamanan sepanjang kampanye legislatif 
berlangsung aman, tertib, dan damai. Ihwal ini modal penting untuk masuk 
ke fase berikutnya yaitu perancangan pembangunan ekonomi nasional 
2014-2019. Penguatan kembali fundamental ekonomi selama 10 tahun 
terakhir merupakan modal penting untuk menghadapi guncangan (shock) 
sepanjang 2014-2019 baik yang bersumber dari dalam maupun luar. 

Sejumlah potensi ketidakpastian ekonomi global diprediksi bersumber dari 
berakhirnya program Quantitative Easing III, berakhirnya suku bunga 
ultra rendah di negara maju, perlambatan ekonomi global, risiko konflik 
di sejumlah kawasan yang berpotensi meningkatkan harga minyak mentah 
dunia, perubahan iklim, dan gejolak pasar keuangan dunia. Selain itu 
juga pasar bebas ASEAN 2015 akan dimulai akhir 2015. Sementara dari 
dalam negeri, sejumlah agenda masih membutuhkan perhatian serius dalam 
kurun waktu 2014-2019. 

Pertama, pembangunan infrastrukturdanindustrialisasiyang tengah berjalan 
membutuhkan keberlanjutan. Kedua, programprogram pemberdayaan ekonomi 
kerakyatan dan UMKM perlu terus ditingkatkan. 

Ketiga, program peningkatan kualitas tenaga kerja dan SDM untuk lebih 
siap bersaing di kawasan juga perlu ditingkatkan. Keempat, reformasi 
birokrasi yang efisien dan efektif juga perlu ditingkatkan. Kelima, 
optimalisasi ekonomi kelautan dan sektor pertanian yang menyerap tenaga 
kerja terbesar juga membutuhkan perhatian khusus bagi pemerintahan 
mendatang. 

Keenam, penguasaan dan pemanfaatan teknologi perlu terus ditingkatkan 
untuk mendorong daya saing nasional. Ketujuh, tetap menjalankan macro 
prudential dengan terus menjaga keseimbangan bergeraknya sektor riil dan 
daya beli masyarakat. 

PROF FIRMANZAH PhD 
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: