JAKARTA, KOMPAS  Stabilitas politik dan keamanan merupakan harga mati bagi wisatawan. Ratusan ribu wisatawan, khususnya dari Tiongkok, membatalkan perjalanan wisata mereka ke Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik para wisatawan itu.Thailand, yang selama ini menjadi primadona tujuan wisata turis mancanegara, sedang mengalami ketidakstabilan politik antara kubu pemerintah dan oposisi. Perkembangan terakhir, militer Thailand melakukan kudeta dan menerapkan jam malam terutama di Bangkok. Tentara dengan senjata lengkap hadir di setiap sudut Bangkok.

Setelah kudeta militer 22 Mei, agen-agen perjalanan langsung berhenti menjual paket perjalanan ke Bangkok. Sudah 50 negara, termasuk Indonesia, mengeluarkan peringatan berupa travel warning kepada warga negaranya yang akan berkunjung ke Thailand.

Memburuknya hubungan Vietnam dan Tiongkok menyusul aksi penyerangan terhadap warga dan berbagai kepentingan Tiongkok di Vietnam membuat banyak perjalanan turis Tiongkok ke negara itu dibatalkan. Pemerintah Tiongkok mengeluarkan saran bagi warganya untuk tidak bepergian ke Vietnam. Pembatalan perjalanan ke Vietnam diperkirakan mencapai 100.000 orang.

”Padahal, Tiongkok selama ini pasar wisata terbesar bagi Vietnam,” ujar Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kepada Kompas, di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (24/5).

Ctrip dan China International Travel Service (CITS), yang merupakan biro perjalanan terbesar di Tiongkok, telah menarik kembali paket yang sudah mereka jual. Di Huai An, Jiangsu, perjalanan ke Vietnam turun 40 persen sejak awal tahun ini. Kondisi itu terus memburuk. Sementara biro perjalanan di Guangzhou terpaksa mengganti tur Vietnam ke destinasi lain.

Pembatalan perjalanan ke Malaysia dilakukan sejak hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) bernomor penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur ke Beijing, Tiongkok. Menurut data yang diolah dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, satu bulan sejak hilangnya pesawat MH370 pada awal Maret, industri pariwisata Malaysia mengestimasi pembatalan kunjungan dari Tiongkok sebesar 40.000 orang. Saat ini, pembatalan diperkirakan sudah 80.000 orang.

Pembatalan wisatawan asal Tiongkok diperkirakan sudah lebih dari 200.000 orang untuk kunjungan ke tiga negara anggota ASEAN itu. Belum lagi pembatalan wisatawan dari negara atau wilayah lain.

Mari menambahkan, pemerintah administratif Hongkong juga mengeluarkan peringatan kepada warganya untuk tidak berkunjung ke Vietnam seiring dengan serangan yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok di Vietnam. Periode 16-26 Mei 2014 saja sudah 1.000 warga Hongkong yang tergabung dalam 45 kelompok wisata membatalkan kunjungan ke Vietnam.

Peluang menguasai pasarMenurut Mari, kondisi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menguasai pasar wisata ASEAN. Pertumbuhan wisatawan asing ke Indonesia pada Januari-April 2014 sebesar 10 persen atau 2,2 juta orang dibandingkan dengan 2 juta orang pada periode yang sama tahun lalu.

Ia menargetkan kunjungan wisata pada 2014 sebanyak 9,3 juta- 9,5 juta orang dengan pertumbuhan 6-8 persen dibanding 8,8 juta orang pada 2013. ”Namun, dengan tren kenaikan 10 persen, target bisa terlampaui dan mencapai 9,7 juta orang,” ujarnya.

Pertumbuhan wisatawan Tiongkok pada Januari-April lalu naik 32,2 persen. Pihaknya optimistis kunjungan dari Tiongkok bisa mencapai lebih dari 1 juta orang sepanjang tahun ini, atau naik dari 750.000 orang pada 2013. Saat ini, Tiongkok merupakan pasar wisatawan asing terbesar di dunia. Pada 2013, lebih dari 90 juta kunjungan dari Tiongkok menghabiskan pengeluaran 106 miliar dollar AS ke banyak negara.

Sejauh ini, tercatat 10 juta turis asal Tiongkok yang berkunjung ke 10 negara ASEAN. Thailand menjadi tujuan utama mereka. Tercatat 3,6 juta warga Tiongkok berkunjung ke Thailand. Adapun 1,8 juta warga Tiongkok memilih ke Singapura dan 1,8 juta warga Tiongkok berkunjung ke Malaysia.

Turis Tiongkok ke Indonesia yang hanya 750.000 orang masih kalah dibandingkan 1,5 juta turis Tiongkok yang ke Vietnam. Indonesia hanya lebih baik daripada Filipina yang hanya dikunjungi 430.000 turis Tiongkok. Laos, Kamboja, Myanmar, dan Brunei hanya didatangi 250.000 turis Tiongkok.

Sebagian besar turis Tiongkok memilih Bali sebagai tempat wisata mereka di Indonesia. Dari data Dinas Pariwisata Bali, wisatawan asal Tiongkok tahun 2013 tercatat 387.533 orang, naik dari 2012 sebesar 310.904 orang. Wisatawan Tiongkok ke Bali menduduki peringkat kedua setelah Australia.

Melihat besarnya potensi itu, lanjut Mari, ini menjadi momentum bagi pemerintah serta pelaku dan masyarakat pariwisata untuk berbenah. Pihaknya sejak tahun lalu sepakat bekerja sama dengan Pemerintah Tiongkok untuk mendatangkan kunjungan 1 juta wisatawan.

Kerja sama itu telah ditindaklanjuti dengan mengemas paket- paket perjalanan, menambah kapasitas penerbangan dan hotel, serta dukungan pengembangan di daerah. Pihaknya juga menggelar promosi ke enam provinsi di Tiongkok dan memperkenalkan pariwisata Indonesia lewat situs berbahasa Mandarin.

Mari menambahkan, yang masih perlu dibenahi saat ini adalah layanan di lokasi-lokasi wisata. ”Kita masih kekurangan pemandu berbahasa Mandarin,” ujarnya, seraya menambahkan, upaya jangka pendek mengatasi masalah itu dengan mengajak siswa pariwisata di Tiongkok untuk magang di Indonesia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto ketika dihubungi, Minggu, sependapat bahwa kondisi di beberapa negara ASEAN itu menjadi peluang bagi Indonesia. ”Kita harus siap dan tanggap untuk menerima limpahan potensi masuknya investasi sebagai dampak krisis di sana,” ujarnya.(Ays/ita/cas/nit)