LOS ANGELES, KOMPAS — Sejumlah industri kreatif Amerika Serikat berminat berinvestasi dan mencari mitra lokal dari Indonesia. Selain merupakan pasar yang besar, pertumbuhan kelas menengah juga menjadi sumber daya pendukung. Mereka berharap Pemerintah Indonesia memberikan insentif.Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar, di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), Selasa (29/4) waktu setempat atau Rabu waktu Indonesia, mengunjungi beberapa rumah produksi serta produsen permainan dan hiburan berbasis teknologi digital.

Pada saat itu, mereka mengajukan usulan jika Indonesia berminat untuk mengembangkan industri kreatif berbasis teknologi digital. Tempat yang dikunjungi antara lain Reel FX Entertainment, Flashpoint Entertainment, dan Immersive.

Deputi Bidang Promosi Investasi BKPM Himawan Hariyoga kepada Kompas menjelaskan, kedatangan BKPM ke AS untuk mempelajari industri kreatif yang sudah maju. Pihaknya juga bertanya hal-hal yang bisa dilakukan agar mereka mau berinvestasi di Indonesia. BKPM menginformasikan pula bahwa tenaga muda Indonesia di industri kreatif sudah banyak.

”Beberapa mengakui bahwa tenaga-tenaga berbakat asal Indonesia sudah berkomunikasi dengan mereka. Mereka mengenal tenaga berbakat itu. Mereka juga cukup puas dengan pekerjaan tenaga-tenaga muda kita,” kata Himawan.

Kelas menengah besarIa menyebutkan, dari pembicaraan dengan beberapa pemilik rumah produksi dan produsen hiburan berbasis digital, ternyata keberadaan studio bukan faktor utama yang menentukan mereka untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka tertarik karena Indonesia memiliki kelas menengah yang besar dan generasi yang berfokus pada keluarga. Mereka merupakan pasar yang besar untuk industri hiburan modern.

”Dalam istilah mereka, kelas menengah Indonesia bisa menjadi pasar bagi apa yang disebut next generation theme park atau pasar bagi taman hiburan generasi masa depan. Taman hiburan ini menggunakan teknologi digital yang lain dari taman hiburan konvensional,” papar Himawan menjelaskan salah satu konsep yang mereka tawarkan. Salah satu industri kreatif itu telah berinvestasi di Brasil, Selandia Baru, Irlandia, dan Tiongkok.

Salah satu industri kreatif berbasis industri taman hiburan digital di AS tengah melirik mitra lokal di Indonesia. Mereka pernah membicarakan potensi untuk bekerja sama. Meski demikian, mereka berharap mitra dari Indonesia adalah mereka yang memiliki visi mengenai industri kreatif. Jika dalam waktu dekat pengusaha Indonesia berminat, pihaknya akan membatalkan rencana bisnis di sebuah negara Asia lain.

Himawan mengatakan, mereka juga mempertanyakan kesediaan Pemerintah Indonesia untuk memberikan insentif fiskal. Mereka mengakui, industri kreatif sangat sensitif terhadap kebijakan fiskal sebuah negara. Mereka akan melihat daya saing antarnegara sebelum menentukan untuk masuk berinvestasi. Insentif yang juga diharapkan adalah kemudahan perizinan.

”Mereka meyakinkan bahwa Indonesia bukan sebagai pasar. Namun, mereka juga akan melakukan kerja sama dengan mitra lokal. Mereka menawarkan agar dampak ikutan dirasakan oleh industri lain. Maka, bisa dilakukan produksi, semisal produksi serial televisi. Dengan cara ini, suatu tempat akan dikenal. Di sisi lain, mitra lokal juga bisa belajar membuat produksi dalam waktu yang lama,” tutur Himawan.

Menurut dia, melihat keinginan besar itu, Indonesia harus bersiap untuk meningkatkan kemampuan tenaga-tenaga muda dalam industri kreatif. Untuk itu, kualitas pendidikan yang terkait dengan industri kreatif harus segera ditingkatkan. Ia memperkirakan, peran industri kreatif dalam pertumbuhan ekonomi akan makin besar.(Mar)