JAKARTA, KOMPAS  Kerusakan jalur pantura menghambat operasional industri jasa pengiriman logistik. Saat ini perusahaan harus menambah biaya operasional hingga 15 persen akibat infrastruktur yang buruk itu. Padahal, peluang usaha logistik di Indonesia terus meningkat.Senior Manager Corporate Communication JNE Ridhatullah Hambalillah, Kamis (22/5), di Jakarta, menyampaikan, kerusakan dan kemacetan yang terjadi di jalur pantura menimbulkan kerugian bagi usaha pengiriman logistik JNE karena barang terlambat sampai di tujuan. ”Kerugian terbesar adalah ketika kami gagal memenuhi perjanjian tingkat layanan (SLA) dengan klien,” ucap Ridhatullah.

Jasa pengiriman logistik sangat berbeda dengan jasa pengiriman kilat, bidang usaha utama dari JNE. Dengan jumlah barang lebih banyak dan klien setingkat perusahaan, pengiriman logistik lebih berisiko dan membutuhkan kemampuan khusus daripada pengiriman kilat. ”Kalau kilat, istilahnya cukup ada satu kendaraan, usaha pengiriman bisa berjalan,” kata Ridhatullah.

Ia menuturkan, jika logistik tiba tidak tepat waktu sesuai SLA, perusahaan klien bisa meminta sejumlah uang kepada JNE sebagai denda. ”Ini karena jasa logistik membentuk rantai. Dampak tidak hanya pada JNE dan klien, tetapi bisa juga pada perusahaan lain yang bergantung pada ketepatan waktu logistik.”

Di samping itu, kerugian juga terjadi dalam bentuk kerusakan moda angkutan JNE.

Ridhatullah mengatakan, untuk menyiasati kondisi jalur pantura, JNE memiliki sejumlah lokasi transit. Contohnya, untuk pengiriman dari Jakarta ke Surabaya, pengangkut akan mentransitkan logistik di Cirebon dan Semarang. Dari lokasi transit itu, moda pengangkut bisa berganti dari truk besar ke truk kecil, atau sebaliknya, bergantung pada kondisi kemacetan jalan.

Menurut Ketua Umum Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Eka Sari Lorena, kondisi pantura masih tetap tidak maksimal dan mengakibatkan biaya tetap meningkat. ”Kalau begini, perusahaan-perusahaan logistik berskala kecil bisa mati,” katanya.

Masalah penambahan biaya operasional juga diungkapkan Gita Septian dari Divisi Operasional Dakota Cargo. Ia mengatakan, setiap hari, Dakota memiliki 10 kendaraan yang beroperasi di pantura. Karena kerusakan jalan, kendaraan terpaksa memutar melewati jalur selatan sehingga jumlah bahan bakar yang biasanya hanya memerlukan 100 liter, bertambah menjadi 140 liter. Di samping bertambahnya biaya untuk kendaraan, uang makan untuk sopir dan asisten juga bertambah menjadi Rp 50.000 per orang.

Ahmad Ferwito, Direktur Divisi Operasional Darat Tiki, mengatakan, biaya perawatan kendaraan bertambah sekitar 15 persen karena kendaraan menjadi rusak akibat melewati jalan yang berlubang-lubang. Namun, hal paling penting yang terbuang adalah waktu. Perjalanan yang biasanya ditempuh selama delapan jam, bertambah menjadi 15 jam. Bahkan, di beberapa kasus menjadi 22 jam.

Jalur ganda kereta api efektif untuk mengurangi beban jalan pantura yang sudah terlalu berat. Di wilayah daerah operasional Cirebon, PT KAI secara resmi akan menggunakan jalur itu per Juni 2014. Jika dimanfaatkan secara optimal, penggunaan jalur KA itu akan bisa mengurangi beban jalan raya hingga 40 persen.(A03/REK/GRE/WIE)