Kasus penyerangan umat agama di Jogja


Selama 10 tahun rejim SBY, penyerangan terhadap umat agama minoritas meningkat tajam dan tidak pernah diusut tuntas. Mengapa ??
Karena banyak petinggi rejim SBY memang termasuk ekstrimis, macam Surya dharma Ali, Sudi Silalahi dll..

Jum’at, 30 Mei 2014 | 14:41 WIB
Umat Katolik Diserang, Ahmadiyah Ikut Khawatir

Foto Terkait
Kekerasan Mengatas Namakan Agama, Kembali Terjadi di India

Kekerasan Mengatas Namakan Agama, Kembali Terjadi di India
Topik

#Kekerasan atas Nama Agama

Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Yogyakarta – Suasana aman dan tenang yang selama ini dirasakan warga Ahmadiyah di Kota Yogyakarta terusik dengan peristiwa penyerangan sekelompok massa berjubah gamis terhadap jemaat Katolik yang tengah menggelar doa rosario bersama di Kabupaten Sleman pada Kamis petang, 29 Mei 2014.

Peristiwa penyerangan tanpa alasan jelas di rumah Julius Felicianus, Direktur Galang Press itu, mengakibatkan sejumlah orang terluka, termasuk pemilik rumah dan seorang wartawan elektronik dari Kompas TV, Michael Aryawan.

“Di Yogya, penyerangan itu seperti sebuah gerakan yang makin berani dan nekat jika benar itu dari organisasi radikal keagamaan. Lama-lama ini semakin mengkhawatirkan,” kata Sekretaris Gerakan Ahmadiyah Indonesia Kota Yogyakarta, Mulyono, kepada Tempo, Jumat, 30 Mei 2014.

Mulyono menuturkan penyerangan kelompok radikal ke tempat peribadatan selama ini bisa dikatakan jarang terjadi di Kota Yogyakarta, termasuk yang pernah dialami Ahmadiyah. “Karena Kanjeng Nabi pun selalu berpesan pada pasukannya, jangan pernah menyerang orang yang sedang berdoa sekali pun mereka tidak menyembah Allah,” kata dia.

Namun, dengan peristiwa semalam, Mulyono menyatakan bukan kalangan minoritas atau terpinggir seperti Ahmadiyah saja yang seharusnya khawatir. Umat mayoritas selayaknya juga merasa cemas lantaran aksi itu sudah brutal dan jauh dari nilai dan ajaran agama mana pun lantaran berani menyerang umat yang sedang beribadah.

“Yang dipertaruhkan adalah sisi keamanan Yogyakarta dengan nilai keberagamannya. Hal itu akan ternoda jika peristiwa tersebut dibiarkan tanpa proses hukum,” kata dia.

Ahmadiyah di Yogyakarta sempat beberapa kali mengalami tekanan dari kelompok organisasi keagamaan garis keras, seperti Front Pembela Islam, dan lainnya. Namun, sejauh ini Mulyono menilai aksi itu tidak sampai mengancam atau berlarut-larut, apalagi sampai menganggu ibadah.

Warga Ahamdiyah berharap keberagaman Yogya dapat terjaga. Pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya serta dapat diproses secara hukum. “Kami pun berharap keraton sebagai penjaga dalam aspek tata nilai kehidupan masyarakat DIY dapat turun tangan mengatasi persoalan agar tak berlarut-larut,” kata dia.

PRIBADI WICAKSONO

++++

Bocah ‎Disetrum Saat Warga Katolik Sleman Diserang

TEMPO.CO, Sleman Saat penyerangan terhadap belasan umat Katolik yang sedang beribadat Rosario di rumah Julius Felicianus, Direktur Galangpress, di Perumahan YKPN, Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Kamis malam, 29 Mei 2014, ada anak kecil yang disetrum.

Anak berusia delapan tahun berinisial T itu saat ini sangat trauma dan masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. “Saat penyerangan, T disetrum di tangannya,” kata Siti Noor Laila, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jumat malam, 30 Mei 2014.

Laila yang sudah menjenguk para korban penyerangan itu menyatakan saat penyerangan pertama oleh sekelompok orang berjubah dan bercelana congklang itu, T dilindungi oleh bapaknya yang bernama Nur Wahid. 

Alat setrum yang digunakan penyerang adalah alat setrum portabel yang saat ini sudah banyak dijual bebas di pasaran. Saat peribadatan, Nur Wahid dan T sedang menunggu istri/ibunya yang sedang beribadah. Penyerang melempari korban dan rumah dengan batu dan pot bunga.

Nur Wahid luka di hidung, kepala bagian belakang bocor, dan tangan luka lecet-lecet. “Secara psikis dia paling parah,” kata Laila.

Sebab, saat itu ia pertama kali yang diserang dan berusaha melindungi anaknya serta jemaat lain supaya masuk ke gudang rumah Julius. Nur Wahid juga minta kepada Komnas HAM untuk melindungi keluarganya karena mereka sangat ketakutan akibat kasus itu.

Julius yang diserang juga mengalami luka berat. Yaitu luka robek di kepala dan tulang punggung sebelah kiri patah. Ia juga dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Karena menyangkut anak di bawah umur, Laila akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk menyikapi kasus ini. Selain itu untuk perlindungan saksi dan korban ia akan menggandeng Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Orang berkeyakinan dan beribadah itu dilindungi konstitusi,” kata Laila.

Ia menambahkan cara kekerasan yang dilakukan sekelompok massa itulah yang melanggar hak asasi manusia. Sehingga kasus ini harus dituntaskan oleh penegak hukum, siapa pun pelakunya dan dari organisasi apa pun.

AJI Yogya Minta Polisi Tuntaskan Kasus Intoleransi

AJI Yogya Minta Polisi Tuntaskan Kasus Intoleransi

Para aktivis melakukan aksi damai memperingati Hari Toleransi Internasional di Jakarta, Sabtu (16/11). Mereka menyerukan kepada masyarakat untuk menghormati segala perbedaaan, menghindari tindak kekerasan dan menghapus segala bentuk kecurigaan dan kebencian. ANTARA/Widodo S. Jusuf

 

TEMPO.COJakarta – Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta mengecam kekerasan berbasis agama terhadap umat yang memanjatkan rosario, doa renungan umat Katolik, di rumah Direktur Penerbitan Buku Galang Press, Julius Felicianus, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam peristiwa itu, jurnalis Kompas TV Michael Aryawan yang tengah meliput ikut menjadi korban kekerasan. Mika, panggilan akrabnya, dihajar dan kameranya dirampas . Mika telah menyampaikan dia adalah jurnalis. Namun, pelaku kekerasan yang sebagian berpakaian gamis tak menggubrisnya.

AJI mendesak polisi serius menuntaskan kasus kekerasan itu. Catatan AJI menunjukkan selama ini banyak kasus kekerasan berbasis agama dan kekerasan terhadap jurnalis tak terselesaikan. ”Polisi harus serius dan tidak pandang bulu terhadap seluruh pelaku kekerasan,” kata Ketua AJI Yogyakarta Hendrawan Setiawan, Jumat, 30 Mei 2014.

Hendrawan mengatakan kekerasan itu menunjukkan kasus intoleransi tumbuh subur di Yogyakarta. Ini berbahaya bagi kebebasan umat beragama. Selain itu, pekerja pers juga rentan mengalami kekerasan ketika meliput.

Sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi, AJI Yogyakarta melawan semua bentuk kekerasan. “Ini ancaman kebebasan pers, termasuk yang dilakukan oleh masyarakat sipil dengan mengatasnamakan agama,” kata Hendrawan.

Catatan AJI Indonesia menunjukkan setiap tahun jumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis yang menjalankan profesinya meningkat. Pada Mei 2013 hingga April 2014 ada 43 kasus kekerasan.

Anggota Divisi Advokasi Yogyakarta Bhekti Suryani mengatakan AJI Yogyakarta telah berkomunikasi dengan Pemimpin Redaksi Kompas TV Yogi Arif Nugraha dan Kepala Biro Kompas TV Daeng Tanto. Komunikasi berkaitan dengan langkah hukum yang akan ditempuh Mika. AJI Yogyakarta juga meminta agar pelaku kekerasan bertanggung jawab mengembalikan kamera milik Mika secara utuh beserta isi rekaman di dalamnya.

UU Pers menyebutkan pekerja pers mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Selain itu, jurnalis yang menjalankan profesinya juga mendapatkan perlindungan hukum.

Aksi penyerangan terjadi pada Kamis malam, 29 Mei 2014 di rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus. Penyerang diduga berasal dari organisasi masyarakat. Julius Felicianus dan sejumlah perempuan yang memanjatkan doa rosario terluka akibat penyerangan itu.

SHINTA MAHARANI

 

++++

 

Massa Berjubah Kembali Datangi Rumah Julius

Massa Berjubah Kembali Datangi Rumah Julius  

Petugas Kepolisian berjaga-jaga di rumah Julius Felicianus yang dirusak oleh sejumlah orang di Sleman, Jogjakarta, (29/5). ANTARA/Tirta Prameswara

TEMPO.CO, Sleman – Sekitar 50 orang berjubah mendatangi rumah Direktur Galangpres, Julius Felicianus, di komplek perumahan STIE YKPN, Tanjungsari, Sukoharjo, Sleman. Puluhan orang itu datang dengan mengendarai mobil bak terbuka dan sepeda motor.

Mereka sempat dihentikan oleh puluhan tentara dan polisi yang berjaga di perumahan itu pascaterjadi penyerangan peribatan umat Katolik di rumah Julius Felicianus sebelumnya. Awalnya puluhan orang berjubah itu menanyakan apakah ada orang di rumah Julius. Namun kala ditanya apa tujuannya, mereka menyatakan hanya hendak mengambil burung dalam 15 sangkar di rumah Asep Hasanuddin dan Ami Bahtiar yang tepat berada di depan rumah Julius. “Mereka mengambil burung dengan 15 sangkar di rumah depan lokasi,” kata salah satu tentara yang sedang jaga Sersan Kepala Wahono, Sabtu, 31 Mei 2014. Asep dan Ami diduga ikut serta dalam penyerangan terhadap misa Rosario, Kamis malam lalu.

Anehnya, meskipun mereka beralasan akan mengambil burung, puluhan orang itu membawa pentungan dan terlihat kurang bersahabat. Sebagian dari mereka menutupi muka dengan surban. Bahkan salah satu orang berjubah itu sempat mengeluarkan ancaman. “Kami tidak akan bereaksi kalau tidak dipanas-panasi.”

Puluhan orang itu kemudian pergi setelah membawa belasan sangkar berikut burung di dalamnya. Meski tidak ada kerusuhan namun kedatangan mereka sempat membuat cemas warga. “Warga jelas resah, terutama anak-anak,” kata Ketua RT setempat Isyanto.

Pascapenyerangan beberapa waktu lalu yang mengakibatkan beberapa orang luka, rumah Julius kosong tidak ditempati keluarga. Namun ada kerabat yang ikut berjaga di rumah itu. Kini Julius masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta karena luka di kepala bagian belakang dan patah tulang di pundak kirinya. Satu lagi korban yang masih dirawat di rumah sakit itu adalah Nur Wahid yang luka di hidung, kepala dan tangan. Ia sangat trauma atas kejadian itu karena dihajar dan dilempari batu.

Sedangkan anaknya yang masih berusia 8 tahun yang juga jadi korban sudah diperbolehkan pulang. Ia diungsikan di suatu tempat untuk menghilangkan trauma yang dialami.

MUH SYAIFULLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: