Archive for November, 2014

November 30, 2014

What happens when the fighters come home?

ovember 20, 2014 12:00 am JST
Islamic State in Asia

SIMON ROUGHNEEN and JENNIFER PAK, Contributing writers

Imprisoned Jemaah Islamiyah leader Abu Bakar Bashir and other Indonesians linked to terrorist attacks have pledged their allegiance to Islamic State. © Reuters

JAKARTA/KUALA LUMPUR — A total of at least 100 Indonesians and Malaysians are believed to be fighting for the Islamic State group in Syria and Iraq. Several volunteers have died this year as suicide bombers or in combat.

Officials from the Southeast Asian nations are growing increasingly concerned that the survivors could return from combat to lead attacks on behalf of the militant group at home. Such a scenario played out in the late 1990s and early 2000s, when veterans of the fighting in Afghanistan helped propel the rise of violent groups such as Jemaah Islamiyah, known for its bombing of nightclubs in Bali in 2002 that killed 202 people.

Already, some key figures from that period, such as imprisoned Jemaah Islamiyah leader Abu Bakar Bashir, have pledged their allegiance to Islamic State.

Taken by surprise

Indonesia and neighboring Malaysia are home to about 90% of Southeast Asia’s approximately 250 million Muslims. While communal tensions between Sunni Muslims and other groups have long been a problem in both countries, lethal violence has been muted over the past decade due to the efforts of such agencies as Indonesian counterterrorism squad Detachment 88, formed after the Bali bombings.

But as elsewhere, the sudden rise of Islamic State to prominence as the de facto government of large swaths of Syria and Iraq has caught Indonesia and Malaysia off guard. Malaysians have been surprised to find that a number of volunteers inspired to join the Islamic State came from middle-class backgrounds, including an architect, a businessman and a drummer in a rock band. Indonesia has found it lacks a legal framework to block the flow of volunteers heading to the Middle East.

With volunteers now in Iraq and Syria issuing calls on social media for more compatriots to join them and preparing to form a special fighting unit based on their shared spoken language, Malaysia and Indonesia have belatedly recognized the threat Islamic State could pose.

“The government strongly rejects the propagation of the misguided teaching of the Islamic State of Iraq and Syria in Indonesia because it is completely against, and even detrimental to, our identity,” Susilo Bambang Yudhoyono said in August in his final state of the nation address as Indonesia’s outgoing president. Malaysian Prime Minister Najib Razak similarly criticized the group in a speech to the U.N. General Assembly the following month. “They call our youth with the siren song of illegitimate jihad,” he said.

The two governments have arrested around 50 people for alleged activities involving the militant group. Malaysian officials claim a group of 19 people was preparing to bomb a Carlsberg brewery in the state of Selangor. Others have been detained for recruiting and raising funds to benefit Islamic State or seeking to volunteer themselves.

Both Najib and Joko Widodo, inaugurated as Indonesia’s new president last month, are stepping-up efforts to rally established Islamic organizations to take a stand against Islamic State. In August, the Brotherhood Forum of the Indonesian Council of Religious Scholars said the militant group “does not put forward the compassionate and merciful aspects of Islam.” It asked Muslims to “not be incited by the agitation and provocations of [Islamic State] that is trying to impose its teachings in Indonesia and the rest of the world.”

Fighting back

Indonesian Religious Affairs Minister Lukman Hakim Saifuddin has suggested he may scrutinize his country’s vast network of Islamic schools. “If there is an Islamic boarding school that teaches radicalism and violence, then to me that is not an Islamic boarding school,” he said Nov. 4. Police earlier arrested a teacher at an Islamic school founded by Abu Bakar Bashir.

The Institute for Policy Analysis of Conflict, a research center in Jakarta, said in a Sept. 24 report that Indonesia could readily take further steps to combat the spread of Islamic State’s messaging in the country. “It is cause for concern that inmates of high-security prisons continue to be among the most active propagators of [Islamic State’s] views and teachings,” it said. The report suggested that prison officials deny convicts access to cellphones.

The Widodo government is considering further measures, according to Ahmad Suaedy, coordinator of the Abdurrahman Wahid Center for Inter-Faith Dialogue and Peace. “The Indonesian government is now looking for the legal basis to prohibit and provide sanctions that deter Muslims from involvement with [Islamic State] and other forms of radicalism and terrorism,” he said.

But Widodo may have difficulty creating new laws to combat the militant group. The country’s parliament is controlled by parties, including Islamist ones, that backed losing presidential candidate Prabowo Subianto and which have been gaining support. Some Subianto supporters tried to undermine Widodo’s campaign by suggesting he was a closet Christian.

There is little worry that Islamic State’s campaign will have wide appeal in Indonesia or Malaysia. Despite growing religious conservatism there, mainstream Islamic organizations retain wide influence. However, the Institute for Policy Analysis of Conflict warned that the group’s calls for attacks on Westerners could lead to a new wave of incidents like the Bali bombing.

But while Indonesia and Malaysia were late to recognize the risks posed by Islamic State, analysts are hopeful that officials are now serious about confronting the danger. “I am encouraged by some of the early statements by the Jokowi government,” said Bonar Tigor Naipospos, deputy chairman of the Setara Institute, which monitors religious freedom in Indonesia. “They are indicating that they will act against jihadism and extremism.”

Advertisements
November 30, 2014

Bareng Tomy Winata, Menteri Gobel Gelar Pasar Murah

Bareng Tomy Winata, Menteri Gobel Gelar Pasar Murah

Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel saat melakukan sidak di Pasar Induk Beras, Cipinang, Jakarta, 6 November 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

  TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menggandeng Artha Graha Grup untuk menyelenggarakan pasar murah di lima daerah di Jakarta. Pasar murah bertajuk Artha Graha Peduli ini dibuka dengan pelepasan 21 truk pengangkut bahan pokok menuju lima daerah di Jakarta pada Ahad, 30 November 2014.

Menurut Rachmat, penjualan bahan pokok ini merupakan bentuk kepedulian dan realisasi komitmen Artha Graha dan pemerintah untuk meringankan beban masyarakat pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. “Kami ingin menyediakan bahan pokok dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat,” ujarnya di lapangan parkir Kementerian Perdagangan di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. (Baca juga: Harga Beras Mulai Naik, Bulog Gelar Operasi Pasar)

Barang yang akan diedarkan adalah 1.300 paket bahan pokok, berisi 2 kilogram beras, 1 liter minyak goreng, 1 kaleng susu kental manis, dan 3 mi instan. Paket itu akan dijual dengan harga yang sudah disubsidi lebih dari 50 persen. Masyarakat dapat memperoleh paket seharga Rp 60 ribu ini dengan hanya membayar Rp 25 ribu. (Baca juga: Di Bojonegoro Harga Cabai Tembus Rp 55 ribu)

Penjualan barang murah tersebut dilakukan di kawasan Hotel Borobudur, Jakarta Pusat; Tanjung Priok, Mal Artha Gading, dan Kelapa Gading, Jakarta Utara; Matraman, Jakarta Timur; kawasan SCBD dan Petogogan, Jakarta Selatan; serta Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pendiri Artha Graha Grup, Tomy Winata, berharap aksi ini dapat membantu mencukupi kebutuhan pokok masyarakat hingga akhir 2014. “Aksi ini merupakan bentuk kepedulian kami dengan sesama. Semoga dapat membantu,” tuturnya.

URSULA FLORENE SONIA

November 30, 2014

2015, Ribuan Tentara Akan Ditransmigrasikan ke Kalimantan

Asal jangan jadi masalah sosial di kemudian hari

Minggu, 30 November 2014 | 15:18 WIB
KOMPAS.COM/ M Wismabrata Marwan Jafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggaldan Transmigrasi, Minggu (30/11/2014).

BOYOLALI, KOMPAS.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar berencana akan mentransmigrasikan anggota Tentara Nasional Indonesia ke wilayah perbatasan RI-Malaysia. Transmigrasi Terpadu atau Kota Terpadu tersebut akan diluncurkan pada tahun 2015 dan diperuntukan untuk anggota TNI.

Informasi tersebut diungkapkan Marwan Jafar kepada wartawan sebelum menghadiri sebuah seminar dan lokakarya di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (30/11/2014).

Jafar menjelaskan, program tersebut akan digulirkan pada Maret atau April tahun depan. Lokasi yang diprioritaskan adalah di wilayah Kalimantan Barat dan Timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Lebih jauh, Jafar menerangkan bahwa anggota TNI akan diminta untuk menghuni tempat tersebut demi menggerakkan sektor ekonomi dan juga menjaga pertahanan.

“Akan kita bentuk transmigrasi terpadu di daerah perbatasan yang akan dihuni oleh tentara kita yang mampu menggerakan sektor ekonomi dan menjaga pertahanan kita, dan keberadaannya akan membuat lebih tenang,” kata Jafar.

Jafar menambahkan, sebagai pilot project, lokasi transmigrasiakan dihuni oleh 4.000 hingga 6.000 kepala keluarga.

“Tentunya kita kerja sama dengan investor untuk membangun tempat ibadah, pendidikan anaknya, kesehatan anaknya, pokoknya semua bidang yang berkaitan dengan kebutuhan dasar atau basic needs akan kita penuhi. Istilahnya, Kota Terpadu kita siapkan,” kata Jafar.

November 30, 2014

Jokowi: Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). Dihapus!

Minggu, 30 November 2014 | 18:05 WIB
KOMPAS Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com
– Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan otoritas terkait untuk menghapus  Kartu yang menjadi identitas bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri ini kerap dijadikan ajang pemerasan. Penghapusan KTKLN tersebut diputuskan Jokowi pada akhir telekonferensinya dengan TKI di beberapa negara, Munggu (30/11/2014).

“Saya ingin sampaikan satu saja, masalah sudah disampaikan semuanya, sudah kita catat, terakhir KTKLN dihapus, dah,” kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta kepada para TKI melalui video telekonferensi.

Melalui telekonferensi, perwakilan TKI di beberapa negara, di antaranya Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Brunei Darusalam, menyampaikan keluhannya kepada Presiden dan menteri terkait. Hampir semua perwakilan TKI dari negara yang diajak telekonferensi hari ini meminta pemerintah untuk menghapus KTKLN.

Perwakilan dari Singapura bahkan membawa spanduk yang mengecam penerapan KTKLN saat melakukan video telekonferensi dengan Presiden. “Kami ingin sampaikan poin KTKLN. Kami sangat berharap pemerintah tindak oknum bandara, kami tidak mau ada diskriminasi di bandara sehingga ada TKI gagal terbang, pungli di bandara, dan apabila pemerintah tidak bisa menindak oknum ini, kami harap hapuskan KTKLN,” kata Yati, perwakilan TKI Singapura.

Keluhan yang sama disampaikan TKI dari Brunei. Mereka menganggap KTKLN membebani para TKI. Ia menilai sistem KTKLN justru menjadi ladang pemerasan bagi TKI. “KTKLN itu dianggap membebani mental dan materi karena dengan adanya KTKLN, kita sebagai pahlawan devisa, mau balik ke negeri sendiri takut, takut diperas. Membebani materi jelas sekali karena KTKLN dijadikan lahan sapi perah kepada TKI, jadi ingat permintaan kami, dihapus, bukan direvisi,” tutur seorang perwakilan TKI Brunei.

Penerapan KTKLN diatur dalam Pasal 62 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Ayat itu berbunyi bahwa setiap TKI yang ditempatkan di luar negeri, wajib memiliki dokumen KTKLN yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

KTKLN menjadi kartu identitas bagi TKI dan sekaligus sebagai bukti bahwa TKI yang bersangkutan telah memenuhi prosedur untuk bekerja ke luar negeri dan berfungsi sebagai instrumen perlindungan baik pada masa penempatan (selama bekerja di luar negeri) maupun pasca penempatan (setelah selesai kontrak dan pulang ke tanah air).

KTKLN berbentuk smartcard chip microprocessor contactless dan menyimpan data digital TKI yang dapat di-update dan dibaca card reader.

November 30, 2014

Dirut Pelni: Saya “Copy-Paste” PT KAI

Jumat, 21 November 2014 | 13:20 WIB
KOMPAS.com/YOGA SUKMANA Dirut Pelni Sulistyo Wimbo Sardjito

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT Pelni (Persero) Sulistyo Wimbo Hardjito mengatakan tidak sungkan menyalin konsep pengembangan perusahaan ala PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Pasalnya, kata dia, PT KAI saat ini bisa jadi role model pengembangan badan usaha milik negara (BUMN).

“Saya copy-paste dari KAI. Kalau KAI butuh tiga sampai empat tahun, saya kira di Pelni bisa setengahnya 1,5 tahun. Kenapa? Karena saya copy-paste,” ujar Wimbo yang merupakan mantan Direktur Keuangan PT KAI saat berbincang dengan wartawan di dek KM Kelud, Jakarta, Jumat (21/11/2014).

Meskipun yakin mampu membenahi Pelni dalam waktu singkat, Wimbo mengakui bahwa ada perbedaan antara KAI dan Pelni. Perbedaan itu mencakup masalah tanggung jawab pelayanan yang luasnya dari Sabang sampai Merauke.

Sementara KAI, kata dia, tanggung jawab pelayanannya hanya sebatas Pulau Jawa dan Sumatera. Akan tetapi, setelah hampir enam bulan kepemimpinannya, Wimbo melihat ada etos kerja yang berbeda dari karyawannya, yaitu ketaatan pada aturan.

Di sisi keuangan, Wimbo yakin Pelni juga akan meraup keuntungan seperti KAI. Namun, untuk mewujudkannya, kata Wimbo, semua karyawan Pelni harus bersama-sama bekerja keras.

November 30, 2014

Tahanan KPK :Kayak Pernah Hidup di Zaman Belanda Saja

Kelakuan tahanan KPK. memang mentalnya korup abis sama dengan para lawyernya

Minggu, 30 November 2014

Gubernur Riau nonaktif Annas Maamun mungkin terinspirasi apa yang dilakukan tokoh Andy Dufresne di film The Shawshank Redemption ketika dia menyimpan ”buku” tebal berjudul A Journey to the memory of Old Greece. Sebenarnya ini bukan buku. Hanya tampilan luarnya yang mirip buku. Di dalamnya ternyata sebuah brankas kecil, lengkap dengan kuncinya.

Namun, jelas Annas tak sekreatif tokoh Andy di The Shawshank Redemption yang melubangi bagian dalam Alkitab untuk menyimpan martil kecil. Martil ini yang digunakan Andy untuk mengorek tembok tebal penjara Shawshank.

”Buku” A Journey to the memory of Old Greece ini hanya brankas kecil yang dibungkus benda mirip buku. Dari luar, tepian halamannya juga terlihat seperti buku biasa. Tebalnya sekitar 10 sentimeter. Jika sampul halamannya tak dibuka, tak akan tampak brankas kecil di dalamnya.

”Buku” semacam ini bisa dibeli dengan mudah. Entah dengan maksud apa Annas membelinya dan membawa ke dalam selnya di Rumah Tahanan KPK yang terletak di Kompleks Pomdam Jaya Guntur, Jakarta Selatan. Tak diketahui pula apa yang hendak disimpan Annas di dalam brankas kecil berbentuk buku itu. Namun, jelas dia ingin mengecoh petugas Rutan KPK.

Teman sekamar Annas di sel nomor 6 Rutan KPK, yakni Bupati Karawang nonaktif Ade Swara, punya cara lain untuk mengecoh petugas Rutan KPK. Tahu bahwa membawa uang ke dalam sel dilarang, Ade mengakalinya dengan menyimpan uang tersebut di dalam rongga tiang penyangga rak plastik. Ini rak plastik yang biasa digunakan untuk menyimpan barang seperti buku atau benda kecil lain.

Setiap tingkatan rak biasa disangga dengan tiang di empat sudutnya. Biasanya tiang penyangga ini berlubang untuk memudahkan pemiliknya memasang atau mencopot rak. Di dalam rongga tiang penyangga rak ini Ade kedapatan menyimpan uang Rp 2,4 juta.

Ponsel dibungkus plastikMasih di Guntur, KPK juga mendapati ponsel pintar milik Ade yang dibungkus plastik dikubur di taman dekat area olahraga. Sementara penghuni Rutan Guntur lainnya, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Budi Susanto, buru-buru membuang ponsel miliknya di saluran pembuangan air karena takut kedapatan menyimpan barang terlarang di dalam sel.

Bukan cuma Ade yang kedapatan menyimpan ponsel saat ditahan di Guntur. Tercatat ada tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten Chaeri Wardana dan tersangka kasus korupsi dermaga Sabang Heru Sulaksono. Heru bahkan tidak hanya menyimpan satu jenis ponsel. Selain Blackberry, ia juga menyimpan ponsel merek Samsung. Ada juga power bank yang dikubur di taman. Entah milik siapa.

Para tahanan ini kedapatan menyimpan barang-barang yang masuk kategori terlarang disimpan di sel setelah KPK menggelar inspeksi mendadak pada 8, 9, 10, dan 15 Oktober.

Tidak hanya di Rutan Guntur, pelanggaran juga dilakukan para tahanan di rutan yang berada di gedung KPK. Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kedapatan menyembunyikan Blackberry dan dua baterainya di plafon kamar mandi. Di rutan ini pula KPK mendapati mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar menyimpan modem Wi-Fi. Sementara tersangka kasus korupsi pembangunan proyek tanggul laut di Biak Teddy Renyut yang ketahuan menyembunyikan ponsel saat sidak tanggal 8 Oktober, dua hari berikutnya juga ketahuan menyimpan ponsel merek Nokia.

Dengan semua pelanggaran tersebut, menurut Juru Bicara KPK Johan Budi SP, tahanan yang kedapatan melanggar aturan rutan, sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dihukum larangan dijenguk oleh kerabatnya selama satu bulan. Namun, mereka masih boleh dijenguk oleh pengacaranya.

Belum lagi hukuman tersebut kelar, enam tahanan di rutan yang berada di gedung KPK, Anas, Akil, Teddy, Mamak, Kwee Cahyadi Kumala, dan Gulat ME Manurung, menandatangani surat berisi keberatan kepada Kepala Rutan KPK dengan tembusan antara lain ke pimpinan KPK, Komisi III, serta Menteri Hukum dan HAM.

Dalam surat keberatan itu dinyatakan, sejumlah larangan KPK terhadap tahanan ini lebih buruk daripada pengelolaan tahanan di zaman penjajahan Belanda.

Bahkan, pengacara Anas, Adnan Buyung Nasution, menyatakan, perlakuan KPK terhadap tahanan melanggar hak asasi manusia. Buyung mengatakan, larangan-larangan yang diberlakukan KPK terhadap tahanannya, seperti tak boleh membaca koran dan buku, lebih kejam daripada tindakan pemerintah Orde Baru terhadap tahanan politik sekalipun. Dia kembali mengatakan, KPK sebaiknya dibubarkan.

Namun, Johan membantah bahwa KPK melarang tahanan membaca buku dan koran. Dia menunjukkan foto bahwa di dalam sel tahanan ada koran yang bisa dibaca. Soal buku, memang tahanan hanya diberi kesempatan membawa lima buku ke dalam sel. Ini karena ada tindakan manipulatif, seperti membawa buku, tetapi sebenarnya brankas kecil.

Dengan semua pelanggaran yang ditemukan ini, Johan yang disinggung isi surat keberatan tahanan hanya mengatakan, ”Kayak pernah hidup di zaman Belanda saja mengatakan perlakuan KPK lebih buruk daripada Belanda terhadap tahanannya.” (KHAERUDIN)

November 30, 2014

Bakrieland Setop Jual Aset Buat Bayar Utang

Apa ada yang masih percaya untuk beli properti Bakrieland ???

Banyak kasus uang sudah disetor pembangunannya kapan kapan…hehehe. Sudahlah supaya bisnis bisa moncer lagi lunasi saja hutang BakrieLife dan hutang korban Lapindo !

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Sabtu, 29/11/2014 14:27 WIB
//images.detik.com/content/2014/11/29/6/142809_elty2.jpg
Jakarta -PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyatakan berhenti menjual aset demi bayar utang.. Kelompok usaha Bakrie ini akan menggenjot proyek berbagai proyek properti yang tersebar di Jawa.

“Kita nggak lagi jual aset. Kita akan fokus ke hunian landed, theme park, hunian vertical,” kata Director and Chief Service Officer Bakrieland Marc Dressler saat acara peluncuran Brown Tower, Sentra Timur Residence, Jakarta Timur, Sabtu (29/11/2014).

Saat ini emiten berkode ELTY itu mengaku masih punya cadangan lahan atau land bank sekitar 2.100 hektar. Lahan-lahan tersebut rencananya bakal dipakai untuk membangun hunian vertikal, hunian tapak, hingga taman bermain (theme park) sehingga Bakrieland bisa mencetak laba.

Pada triwulan III-2014 lalu perseroan mencatat laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp 212 miliar, turun dibandingkan period yang sama tahun sebelumnya Rp 923 miliar.

Penurunan laba ini akibat anjlok omzet perseroan dari Rp 2,6 triliun di sembilan bulan pertama tahun lalu menjadi Rp 1,3 miliar.

Hingga akhir September, perusahaan properti Grup Bakrie itu mencatat kewajiban keuangan sebesar Rp 4,641 triliun. Kewajiban ini terdiri dari berbagai jenis utang.

November 30, 2014

Jumlah Direksi Lama Pertamina ‘Gemuk’ Karena Banyak Titipan

Pantes Pertamina masih kalah jauh dibandingkan Petronas..

Elin Herlina – detikfinance
Sabtu, 29/11/2014 12:30 WIB
//images.detik.com/content/2014/11/29/1034/121047_dwipertamina.jpg
Jakarta -Jumlah direksi PT Pertamina (Persero) dipangkas oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari 9 menjadi hanya 4 termasuk direktur utama (dirut). Jumlah direksi Pertamina selama ini ‘gemuk’ karena banyak titipan.

Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, mengatakan titipan tersebut bisa datang dari internal maupun luar tubuh Pertamina.

“Sebenarnya sudah lama (jumlah) direksi Pertamina gemuk disebabkan adanya orang titipan. Jadi direksi yang dipaksakan oleh komisaris atau pihak tertentu,” ungkapnya saat dihubungi detikfinance, Sabtu (29/11/2014).

Dari empat direksi baru Pertamina, dua di antaranya berasal dari luar perusahaan. Menurut Said, baik orang luar maupun orang dalam sama saja, yang penting dapat membuktikan dan membawa Pertamina menjadi lebih baik.

Said memberi contoh, Karen Agustiawan yang dulunya bukan orang Pertamina ternyata bisa sukses membawa perusahaan migas pelat merah itu ke arah yang lebih baik. Banyak juga orang swasta yang akhirnya bisa membawa BUMN berkembang pesat.

“Contohnya Jonan (Ignasius, mantan Dirut KAI), Lino (Dirut Pelindo), Agus Marto (Gubernur BI, mantan Dirut Bank Mandiri) itu kalau dari luar,” Kata Said.

Selain Dwi, pemerintah juga mengangkat tiga direksi baru Pertamina, mereka adalah Yenni Andayani (sebelumnya SPV Gas & Power Pertamina), Ahmad Bambang (Sebelumnya Direktur PT Pertamina Trans Continental), dan Arief Budiman (sebelumnya dari McKinsey).

Said mengatakan direksi baru ini diharapkan dapat meringankan beban Pertamina dalam merancang sistem operasional yang lebih objektif. Terutama bisa lebih bebas dari intervensi pihak luar.

(ang/ang)

November 29, 2014

Kapal Diusir, Media Jiran Tuding Jokowi Sekutu AS

TEMPO.CO , Jakarta:Media online asal Malaysia, Utusan.com menyebut bahwa Presiden Joko Widodo adalah sekutu Amerika Serikat. Dalam tulisannya berjudul “Maaf Cakap, Inilah Jokowi,” media tersebut menggambarkan mesranya hubungan antara Jokowi dan Amerika Serikat. (Baca : Usir Kapal, Kata Media Malaysia Jokowi Alihkan Isu

Menurut media tersebut, dalam kampanye Presiden sebelumnya, Jokowi sempat membantah kedekatannya dengan Amerika Serikat. Namun kini pemerintah menjalin kerja sama di bidang maritim dengan negeri Abang Sam itu. (Baca : Media Jiran: Jokowi Pakai Jurus ‘Ganyang’ Malaysia)

“Satu lagi yang perlu diketahui tentang Jokowi ialah hubungan dengan Amerika Syarikat (AS). Semasa berkempen dulu pernah tercetus isu bahawa Jokowi adalah proksi AS tetapi dia menafikan. Bagaimanapun Duta AS di Indonesia, Robert Orris Blake mengesahkan AS sedia menjalinkan kerjasama ketenteraan dan maritim pada era Jokowi.”

Hubungan bilateral itu, kata media online tersebut, menyiratkan istimewanya hubungan dengan Indonesia. Pada 1991, hubungan kedua negara sempat memanas karena kasus Timor Leste. “Ini seolah-olah mengiyakan Presiden Indonesia ini ada hubungan istimewa dengan AS kerana sejak 1991 Kongres AS mengharamkan penjualan senjata kepada Indonesia berikutan isu Timor Leste. Kini AS sanggup menyediakan sistem pertahanan dan pemantauan berteknologi tinggi di perairan Indonesia termasuk Selat Melaka.”

Mesranya hubungan Indonesia dan Amerika Serikat, juga disebut tak sehat.
“Pada era Jokowi, AS berpeluang meluaskan penguasaannya di sebelah sini selepas mempunyai pangkalan di Korea Selatan dan Jepun. Ini mungkin mencetuskan konflik dari sudut geopolitik negara yang berjiran dengan Indonesia. Ini suatu yang tidak begitu ‘sihat’ sebenarnya.”

Selain itu, media tersebut menulis juga bahwa Jokowi angkuh dan ingin melakukan kontroversi dengan Malaysia. Langkah pemerintah Indonesia menenggelamkan kapal bot nelayan Malaysia yang menerobos perairan Indonesia, memicu kontroversial.

Presiden Joko Widodo memang bersikap tegas terhadap kapal asing yang menerobos perairan Indonesia tanpa izin. Tak hanya diusir, kapal-kapal tersebut juga terancam ditenggelamkan.

UTUSAN.COM | DEWI

Waspadai Pencurian Ikan, Polisi Jaga Tepi Laut

Waspadai Pencurian Ikan, Polisi Jaga Tepi Laut

Kapal penangkap ikan yang terekam lensa saat Operasi Senyap di perairan Natuna. TEMPO/Ijar Karim

TEMPO.CO , Jakarta:Kepolisian memperketat patroli di wilayah perbatasan Indonesia untuk mencegah pencurian ikan. Menurut Kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Inspektur Jenderal Ronny Frankie Sompie, Kepolisian berpatroli di wilayah tepian laut Indonesia untuk menjaga kelautan Indonesia dari ancaman kapal ilegal. “Karena kami hanya punya kapal berukuran kecil saja, jadi hanya mengawasi daerah laut yang mendekati pantai,” katanya, saat dihubungi Tempo, Jumat, 28 November 2014. (Baca : Media Jiran: Jokowi Pakai Jurus ‘Ganyang’ Malaysia)

Mabes Polri menempatkan lembaga di bawah Badan Reserse Kriminal Polri, Direktorat Polisi Air di tiap Polisi Daerah untuk mengawasi tepian laut itu. Namun tak semua Polda memiliki kapal. (Baca : Pengusaha Dukung Menteri Susi Tenggelamkan Kapal)

Meski demikian, ia tak dapat menyebutkan jumlah aparat yang diturunkan dalam tugas tersebut. Menurut dia, Bareskrim dan Direktorat Polisi Air telah mengadakan rapat untuk membahas maraknya pencurian ikan di lautan Indonesia. (Baca : Pengusaha Dukung Menteri Susi Tenggelamkan Kapal)

Dia menambahkan, kawasan pertengahan laut dan Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE), telah diawasi oleh aparat Angkatan Laut. Alasannya, Angkatan Laut memiliki jumlah kapal yang memadai.

Pemerintah gencar mengawasi kapal-kapal nelayan dari negara tetangga yang menerobos perairan Indonesia. Langkah ini menuai protes dari media online di Malaysia, Utusan.com.

Menurut media tersebut, langkah Presiden Joko Widodo itu dinilai angkuh. Semestinya kapal-kapal yang tertangkap tak perlu ditenggelamkan, cukup diusir saja. Keputusan Jokowi itu dinilai pula bisa memicu ketegangan kedua negara.

PERSIANA GALIH

November 29, 2014

Golkar di Ambang Perpecahan

sudah waktunya Partai Orba ini buyar dan menjadi kerdil. setelah puluhan tahun menghisap APBN dan darah rakyat. Tidak usah dengan cara dibubarkan  oleh Pemerintah ( seperti usulan Presiden Gus Dur) tapi secara organik saja memang partai yang ideologinya adalah duit dan kekuasaan ini akhirnya akan tenggelam sendiri.

calendarSabtu, 29 November 2014

Kepolisian Belum Mengeluarkan Izin Munas

JAKARTA, KOMPAS — Rencana Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar untuk tetap menggelar musyawarah nasional mulai Minggu (30/11) di Bali membuat partai itu berada di ambang perpecahan. Tim Penyelamat Partai Golkar yang dipimpin Agung Laksono tetap menolak mengakui dan hadir di acara tersebut.Jumat (28/11) mulai pukul 20.30, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menggelar pertemuan tertutup dengan anggota Tim Penyelamat Partai Golkar, seperti Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, dan Agung Gunanjar, di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta.

Hingga pukul 23.30, pertemuan masih berlangsung. Informasi yang dihimpun Kompas, dalam pertemuan itu, Akbar membujuk para anggota Tim Penyelamat Partai Golkar untuk menghadiri Munas IX di Bali. Namun, para anggota Tim Penyelamat Partai Golkar berpendapat, munas itu tidak sesuai dengan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai.

”Mengakui (Munas Bali) saja tidak, kenapa harus hadir? Memang saya goblok?” ujar anggota Tim Penyelamat Partai Golkar, Yorrys Raweyai, kemarin siang.

Calon ketua umum Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, menuturkan, Tim Penyelamat Partai Golkar telah mengirimkan surat edaran ke semua dewan pimpinan daerah (DPD) I dan DPD II untuk menyatakan bahwa Munas IX Partai Golkar yang sah adalah pada Januari 2015.

Agun Gunanjar menambahkan, juga telah ada mosi tidak percaya terhadap Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. ”Kami telah menyurati Fraksi Golkar (di DPR dan DPRD) bahwa kepemimpinan Aburizal sudah dinonaktifkan,” katanya.

Namun, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menegaskan, Munas IX merupakan keputusan Rapat Pimpinan Nasional VII Partai Golkar di Yogyakarta, 18-19 November lalu. ”Saya ingin mengajak supaya Munas IX di Bali disukseskan,” ujarnya.

”Kalau memang mempunyai kepentingan, mari berkompetisi dalam Munas IX di Bali. Semua calon ketua umum diundang di acara itu,” kata Idrus.

Menurut Idrus, 80-90 pengurus DPD tingkat provinsi dan kota/kabupaten sudah menyatakan akan menghadiri Munas IX di Bali. ”Banyak dari mereka bahkan sudah menelepon untuk hadir,” ujarnya sembari menambahkan, Akbar Tandjung juga akan menghadiri munas itu meskipun Dewan Pertimbangan Partai Golkar berulang kali menyarankan supaya Munas Golkar digelar pada Januari 2015.

Yakin menangPengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bhakti, menuturkan, kengototan Aburizal untuk melaksanakan munas di Bali karena dia yakin atas lemahnya persaingan dalam perebutan kursi ketua umum.

”Aburizal yakin menang ketika munas digelar 30 November sebab dia tahu penantang lain belum siap,” kata Ikrar.

Aburizal pernah menyatakan ada 463 dari 560 DPD I/II Golkar yang akan mencalonkan, mendukung, dan memilihnya kembali menjadi ketua umum Partai Golkar (Kompas, 14/11).

Namun, jika Munas IX tetap digelar 30 November mendatang, Golkar akan pecah. Perpecahan ini akan semakin parah apabila Aburizal terpilih kembali sebagai ketua umum. Sejumlah konstituen Golkar juga dapat hengkang. Hal itu akhirnya akan berdampak makin anjloknya suara partai tersebut pada Pemilu 2019. Padahal, suara Golkar pada Pemilu 2014 sudah lebih kecil dibandingkan dengan Pemilu 2009.

Oleh karena itu, jika Aburizal mendapat dukungan mayoritas pimpinan DPD Partai Golkar, Ikrar menyarankan calon ketua umum yang berada dalam Tim Penyelamat Partai bersatu untuk mengajukan calon pemimpin sehingga terjadi pertarungan dalam munas tersebut.

Hal ini perlu dilakukan karena upaya menggelar munas tandingan adalah keputusan keliru. ”Seluruh pimpinan Partai Golkar harus melepaskan ego kepentingan masing-masing. Mereka harus bersama memikirkan masa depan Golkar, bukan semata untuk meraih kekuasaan,” kata Ikrar.

Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sabil Rachman mengatakan, hasil rapat pleno AMPI juga menyarankan para elite Partai Golkar yang bertikai segera islah. ”AMPI lelah melihat perdebatan ini,” katanya.

Namun, lanjut Sabil, AMPI pun berpendapat bahwa Munas Golkar pada 30 November 2014 tidak sah. ”Munas Bali itu melanggar rekomendasi Munas VIII di Riau tahun 2009. Munas Golkar itu secara reguler harus dilaksanakan pada tahun 2015,” kata Sabil sembari mengingatkan, partai politik yang tidak mampu mengelola konflik dipastikan akan berujung pada kehancuran partai.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Jawa Tengah Soejatno Pedro HD mengatakan, SOKSI juga minta semua pengurus menegakkan aturan dan mengkritisi pelaksanaan munas di Bali.

SiapHingga semalam, Kepolisian Negara RI belum mengeluarkan izin terkait pelaksanaan Munas IX Golkar di Bali. ”Kami belum mengeluarkan surat tanda terima pelaporan (STTP) pelaksanaan munas itu,” ujar Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutarman.

Namun, Akbar Tandjung memastikan, persiapan Munas IX di Bali telah matang. ”Tokoh-tokoh Koalisi Merah Putih akan hadir,” katanya.

Sekretaris Panitia Pelaksana Munas IX Golkar Bambang Soesatyo mengatakan telah menyiapkan 2.000 kamar di tujuh hotel di kawasan Nusa Dua, Bali. ”Yang akan datang itu 3.000 peserta munas walau hanya 500-an orang yang punya hak suara. Sisanya adalah peninjau dan penggembira,” ujarnya. (RYO/SAN/ILO/WHO/SEM/ANS)