PEKAN lalu, Cargill, perusahaan raksasa multinasional asal Amerika Serikat, membuka pabrik pengolahan biji kakao di Gresik, Jawa Timur. Perusahaan di bidang bahan makanan, peternakan, pertanian, dan perdagangan ini melihat potensi yang ada di Indonesia hanya bisa dikembangkan apabila mengawinkan prinsip keberlanjutan dalam setiap bisnis yang dilakukan.Cargill telah beroperasi di Indonesia sejak 40 tahun yang lalu atau sejak tahun 1974. Perusahaan keluarga yang belum masuk ke pasar modal ini akan berusia 150 tahun pada tahun depan. Perusahaan ini didirikan oleh William W Cargill tahun 1865 di Iowa, Amerika Serikat. Putri tertua Cargill, Edna, menikah dengan John MacMillan, salah seorang karyawan Cargill. Sejak itu, perusahaan ini menjadi milik keluarga Cargill-MacMillan dan berkantor pusat di Minnetonka, Minnesota.

Saat ini Cargill telah beroperasi di 67 negara di seluruh dunia. Menurut Presiden & CEO Cargill, David W MacLannen, Indonesia termasuk yang menjadi fokus perhatian untuk pertumbuhan bisnis Cargill. Berikut petikan wawancara dengan MacLannen.

Bagaimana posisi Indonesia di dalam bisnis Cargill?

Potensi Indonesia sangat menjanjikan. Kedatangan saya saat ini adalah yang kedua kalinya dalam dua tahun terakhir. Saya perkirakan, saya akan lebih sering datang ke Indonesia karena pengembangan bisnis Cargill akan lebih banyak lagi di Indonesia. Saat ini pertumbuhan bisnis Cargill di Indonesia termasuk yang lima terbesar. Aset kami di Indonesia termasuk dalam 10 besar. Jika melihat ke belakang, kami telah menanamkan 700.000 dollar AS atau Rp 8,4 triliun selama tiga tahun terakhir. Ke depan kami sudah memutuskan untuk menginvestasikan lagi 1 miliar dollar AS atau Rp 12 triliun untuk tiga-empat tahun mendatang.

Bagi kami, Indonesia sangat penting. Dengan jumlah populasinya yang besar, daya beli yang kuat, pertumbuhan ekonomi yang baik, ditambah dengan antusiasme rakyat terhadap pemerintahan baru, kami yakin investasi kami akan berkembang baik juga.

Bisnis apa yang akan dikembangkan?

Tahun ini kami meresmikan pabrik pengolahan kakao di Gresik, Jawa Timur. Kapasitas pabrik di Gresik ini akan menjadi produsen kakao ketiga terbesar di dunia. Investasi yang kami tanamkan di pabrik ini sebesar 100 juta dollar AS atau Rp 1,2 triliun dengan kapasitas awal 70.000 metrik ton per tahun.

Kami juga tertarik mengembangkan peternakan ayam di Indonesia. Selain untuk memenuhi kebutuhan domestik, hasil ternak ini juga akan kami ekspor ke Jepang. Kami melihat ada peluang untuk memasok ayam ke Jepang setelah ditemukan banyak persoalan dengan pasokan ayam dari Tiongkok.

Di pasar domestik, kebutuhan juga meningkat. Menurut statistik yang kami peroleh, kebutuhan daging ayam meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Terjadi pergeseran dalam gaya hidup masyarakat. Mereka mengurangi konsumsi nasi dan gandum, dan mulai beralih ke daging.

Dalam bisnis peternakan ayam, kami sudah mempunyai pengalaman yang cukup lama. Bisnis ini sudah kami kembangkan dengan baik di Thailand, Rusia, Amerika Tengah, dan Inggris.

Anda juga berbisnis di bidang minyak sawit. Saat ini banyak isu-isu lingkungan dikaitkan dengan perkebunan kelapa sawit. Bagaimana menghadapi masalah ini?

Pada waktu-waktu lalu, Pemerintah Indonesia memang sangat membatasi investasi asing, terutama yang berkaitan dengan kelapa sawit. Namun, kami sudah lama sekali berkecimpung di bisnis ini, dan perusahaan kami bisa dijadikan contoh oleh Pemerintah Indonesia dan investor lain yang ingin terjun ke kelapa sawit.

Untuk kelapa sawit, kami menitikberatkan keberlanjutan di semua dimensi. Cargill telah membangun rantai pasok yang menekankan keberlanjutan. Untuk mencapainya, Cargill harus bekerja sama dengan pemasok, konsumen, komunitas sekitar, pemerintah, LSM, dan perusahaan lainnya.

Dalam Climate Summit PBB September lalu, Cargill telah menyatakan kembali komitmennya, yaitu tidak melakukan penebangan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Kami juga sudah mengadopsi Roundtable on Sustainable Palm Oil tahun 2004. Lalu, bersama dengan Kadin Indonesia dan perusahaan-perusahaan kelapa sawit lainnya, kami ikut menandatangani Indonesia Palm Oil Pledge, komitmen untuk terus menjaga keberlanjutan di Indonesia. Upaya yang sama juga kami lakukan di Brasil untuk kedelai serta di Afrika untuk kapas dan kakao.

Dari berbagai bisnis yang Anda geluti, bisnis mana yang memberikan kontribusi lebih untuk perusahaan Anda?

Itu pertanyaan yang tidak mudah. Sama saja saya ditanya anak mana yang paling saya sayangi. Pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1974, bisnis kami adalah pakan ternak. Bisnis yang terbaru saat ini adalah kakao dan cokelat. Kami juga sudah mapan di bidang kelapa sawit.

Sekarang kami melihat begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan, termasuk mengembangkan bisnis industri ternak ayam. Yang pasti, jika kami melihat bisnis itu tidak mempunyai kesempatan untuk tumbuh, tidak menguntungkan, serta tidak bisa dipertanggungjawabkan untuk lingkungan dan masyarakat, kami tidak akan terjun ke sana.

Contohnya, kami pernah terjun di bisnis tepung terigu di Eropa dan Amerika Serikat, tetapi akhirnya kami jual. Sekarang kami sangat optimistis dengan semua bisnis yang kami garap. Produk kami kini telah memenuhi pasar domestik dan pasar dunia.