JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Perdagangan melarang pemerintah daerah yang belum memiliki peraturan daerah tentang rencana detail tata ruang mengeluarkan izin usaha toko modern. Larangan ini dikeluarkan karena banyak toko modern disinyalir belum melengkapi legalitas usaha.Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga menengarai banyak toko modern berlokasi di tempat yang tidak sesuai peruntukannya.

Toko modern yang sudah telanjur beroperasi diminta menyesuaikan perizinan dengan melengkapi izin usaha toko modern (IUTM).

Larangan itu tercantum dalam Surat Edaran Menteri Perdagangan Nomor 1310/M-DAG/SD/12/2014 tentang Perizinan Toko Modern. Surat bagi gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia tersebut ditandatangani Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada 22 Desember 2014.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Srie Agustina, Selasa (23/12), di Jakarta, mengatakan, lebih dari 500 kabupaten dan kota di Indonesia belum memiliki peraturan daerah tentang rencana detail tata ruang. Daerah yang sudah memiliki perda tersebut adalah DKI Jakarta, Kota Serang, Kota Yogyakarta, Kabupaten Sumba Tengah, dan Kabupaten Parigi.

Akibatnya, banyak toko modern didirikan tanpa memperhatikan zonasi. Lokasinya bahkan berdekatan antara satu dan yang lainnya. Bahkan, ada toko modern yang dekat dengan pasar rakyat.

”Kami telah mengevaluasi 1.868 minimarket di DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37 minimarket melanggar ketentuan jarak dan tidak memiliki IUTM. Kami akan memberikan surat teguran pertama kepada pemiliknya. Jika sampai teguran ketiga tetap tidak diperhatikan, toko itu harus ditutup,” kata Srie.

Berdasarkan data Kemendag, toko modern di Indonesia berjumlah 23.258 gerai dalam bentuk ritel, rumah makan, apotek, minimarket, dan waralaba. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14.844 gerai dikelola sendiri, 8.167 gerai diwaralabakan, dan 247 gerai berupa penyertaan modal.

EkspansiAgar tidak kalah bersaing dengan waralaba dari luar negeri, Kemendag mendorong toko modern Indonesia berekspansi ke negara lain. Setidaknya ada 15 merek waralaba Indonesia yang akan dipromosikan ke luar negeri.

Enam waralaba asli Indonesia, yakni Es Teler 77, Bakmi Naga, Double Dipps, Alfamart, Excelso, dan Indomart, telah memiliki gerai di Thailand, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Filipina.

”Kami juga berupaya menjemput bola agar tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Taiwan membuka waralaba, baik di Taiwan maupun di Indonesia. Yang sudah jalan saat ini adalah waralaba jamur,” kata Srie.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri meminta Kemendag terus mengawasi pertumbuhan toko modern di daerah. Sebab, banyak pemerintah daerah yang seenaknya memberikan izin tanpa memperhatikan aturan pusat yang telah ada.

”Supervisi ke daerah-daerah secara berkala penting dilakukan untuk memantau pasar-pasar rakyat dan modern. Jika ada pelanggaran zonasi, waktu operasional, dan jenis barang yang diperdagangkan, harus ditindak tegas,” ujarnya. (HEN)