JAKARTA, KOMPAS — Industri makanan dan minuman menjadi primadona investor asing. Pada 2015 komposisi penanaman modal asing lebih besar dibandingkan dengan penanaman modal dalam negeri. Ada tiga negara yang akan menanam modal dalam jumlah besar pada tahun depan. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman, Sabtu (27/12), di Jakarta, mengatakan, selama periode Januari-September 2014, Gapmmi mencatat, jumlah penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 27 triliun. Nilai ini lebih besar daripada penanaman modal dalam negeri (PMDN), yakni sebesar Rp 15 triliun.

Berdasarkan data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) bertajuk World Investment Prospects Survey 2013-2015, Indonesia menempati peringkat keempat dari 19 negara di dunia yang termasuk negara favorit untuk berinvestasi. Peringkat pertama hingga ketiga ditempati Republik Rakyat Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

”Beberapa investor asing bahkan telah mengontak Gapmmi untuk berinvestasi pada tahun 2015. Sebagian besar dari mereka berasal dari Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia,” ujar Adhi.

Jepang, menurut Adhi, tetap menjadi investor dominan di industri makanan dan minuman walaupun, mengutip data Japan Bank for International Cooperation (JBIC, 2014), Indonesia berada di urutan kedua setelah India dalam daftar invetasi asing langsung (FDI) Jepang dengan persentase investasi sebesar 45,7 persen.

Tahun sebelumnya, Indonesia berada di peringkat pertama FDI Jepang.

JaringanWakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Umum Gapmmi Rahmat Hidayat menyebutkan, pada 2015, nilai keseluruhan investasi adalah 50 miliar dollar AS atau naik 10 miliar dollar AS dari 2014.

Rahmat mengatakan, kondisi besarnya proporsi asing selalu berulang. Hal itu disebabkan perusahaan asing mempunyai jaringan perdagangan global dan institusi pembiayaan keuangan yang kuat. Permodalan mereka juga besar. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, investasi asing akan semakin mudah.

Para investor tersebut menggunakan strategi investasi multinasional yang lebih menyasar negara-negara kaya bahan baku industri makanan dan minuman.

TrenSektor yang disasar beragam, mulai dari minuman, roti, bumbu, makanan ringan, serta makanan olahan berbahan dasar buah dan sayur.

”Ada satu investor yang berniat menanamkan modal di sektor pemrosesan tepung jagung (corn starch) dan fruktosa,” ungkap Adhi.

Menurut Rahmat, tren sektor industri makanan dan minuman pada 2015 kembali didominasi air minum dalam kemasan, minuman berbasis susu, minuman ringan, dan makanan siap saji. Untuk sektor air minum dalam kemasan, misalnya, akan terjadi kenaikan pertumbuhan 11-12 persen pada 2015.

Tren tersebut, kata Rahmat, disebabkan perubahan tingkat kesejahteraan hidup dan gaya hidup masyarakat.

”Mereka menyukai segala sesuatu yang praktis dan siap saji,” kata Rahmat.

MinumanDirektur Industri Minuman dan Tembakau Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Faiz Achmad menambahkan, varian minuman teh dan kopi dalam kemasan akan semakin bertambah. Minuman tidak berkarbonasi, seperti sari buah, juga akan diminati.

Namun, Faiz agak pesimistis melihat besarnya proyeksi jumlah investasi di industri makanan dan minuman. Pasalnya, harga bahan bakar minyak naik sehingga berdampak pada ongkos pendistribusian. Upah minimum pun tengah bergejolak akibat kenaikan harga bahan bakar minyak itu.

Secara makro, perekonomian Indonesia pun sedang melambat. Akibatnya, meskipun pemerintah telah menargetkan pertumbuhan sebesar 7 persen selama lima tahun mendatang serta industri makanan dan minuman diharapkan berkontribusi 8,8 persen, Faiz menyebutkan, hal itu akan sulit dicapai.

”Setelah harga bahan bakar minyak naik beberapa bulan lalu, harga bahan baku untuk produk olahan juga naik 10 persen,” imbuh Faiz.

Kondisi itu memperberat permintaan atau daya beli masyarakat. (MED)

++++++

Daftar 29 Bahan Pangan yang Diimpor RI sampai November

on Jan 04, 2014 at 13:08 WIB

Sebagai negara agraris, lahan pertanian Indonesia belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan pokok masyarakatnya. Terbukti, Indonesia masih belum bisa keluar dari jeratan importasi bahan pangan sepanjang hampir 2013.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu Januari  hingga November 2013, pemerintah Indonesia tercatat mengimpor lebih dari 17 miliar kilogram bahan pokok senilai US$ 8,6 miliar atau setara Rp (kurs: Rp 104,9 triliun).

Ironisnya, sebagian bahan pangan yang diimpor Indonesia justru bisa dihasilkan di negeri sendiri seperti kentang, teh, cengkeh, jagung hingga beras.

Namun permintaan domestik yang melampaui jumlah produksi pangan mendorong pemerintah untuk menerima ekspor dari negara lain.

Langkah tersebut diambil pemerintah guna menghindari adanya kelangkaan pangan di Tanah Air.  Lantas apa saja bahan pangan yang masih diimpor pemerintah?.

Berikut daftar lengkap 29 komoditas bahan pangan yang diimpor Indonesia kurun Januari-November 2013:

1.  Beras

Nilai impor: US$ 226,4 juta
Volume impor: 432,8 juta kilogram (kg)
Negara eksportir: Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Myanmar, dan lainnya

2. Jagung

Nilai impor:  US$ 822,35 juta
Volume impor: 2,8 miliar kg
Negara eksportir: India, Brasil, Argentina, Thailand, Paraguay, dan lainnya

3. Kedelai

Nilai impor: US$ 1 miliar
Volume impor: 1,62 miliar kg
Negara eksportir: Amerika Serikat (AS), Argentina, Malaysia, Paraguay, Uruguay, dan lainnya

4.  Biji gandum dan mesin

Nilai impor: US$ 2,26 miliar
Volume impor: 6,21 miliar kg
Negara eksportir: Australia, Kanada, AS, India, Ukraina, dan lainnya

5. Tepung terigu

Nilai impor: US$ 74,9 juta
Volume impor: 185,8 juta kg
Negara eksportir: Srilanka, India, Turki, Ukraina, Jepang, dan lainnya

6. Gula pasir

Nilai impor: US$ 44,4 juta
Volume impor: 75,8 juta kg
Negara eksportir: Thailand, Malaysia, Australia, Korea Selatan, Selandia Baru dan lainnya

7. Gula Tebu

Nilai impor: US$ 1,5 miliar
Volume impor: 3,01 miliar kg
Negara eksportir: Thailand, Brasil, Australia, El Salvador, Afrika Selatan dan lainnya

8. Daging sejenis lembu

Nilai impor: US$ 185,8 juta
Volume impor: 41,5 juta kg
Negara eksportir: Australia, Selandia Baru, AS dan Singapura

9. Jenis lembu

Nilai impor: US$ 271,2 juta
Volume impor: 104,4 juta kg
Negara eksportir: Australia

10. Daging ayam

Nilai impor: US$ 30.259
Volume impor: 10.825 kg
Negara eksportir: Malaysia

11. Garam

Nilai impor: US$ 85,6 juta
Volume impor: 1,85 miliar kg
Negara eksportir: Australia, India, Selandia Baru, Jerman, Denmark dan lainnya

12. Mentega

Nilai impor: US$ 93,7 juta
Volume impor: 20,8 juta kg
Negara eksportir: Selandia Baru, Belgia, Australia, Prancis, Belanda dan lainnya

13. Minyak goreng

Nilai impor: US$ 77,4 juta
Volume impor: 84,7 juta kg
Negara eksportir: Malaysia, India, Vietnam, Thailand, Indonesia dan lainnya

14. Susu

Nilai impor:  US$ 772,4 juta
Volume impor: 194,5 juta kg
Negara eksportir: Selandia Baru, AS, Australia, Belgia, Belanda dan lainnya.

15. Bawang merah

Nilai impor: US$ 38,9 juta
Volume impor: 81,3 juta kg
Negara eksportir: India, Thailand, Vietnam, Filipina, China, dan lainnya

16. Bawang putih

Nilai impor: US$ 333,3 juta
Volume impor: 404,2 juta kg
Negara eksportir: China, India, Vietnam

17. Kelapa

Nilai impor: US$ 868.209
Volume impor: 835.941 kg
Negara eksportir: Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam dan lainnya

18. Kelapa Sawit

Nilai impor: US$ 2,4 juta
Volume impor: 3,25 juta kg
Negara eksportir: Malaysia, Papua Nugini, Virgin Island

19. Lada

Nilai impor: US$ 3,4 juta
Volume impor: 371.002 kg
Negara eksportir: Malaysia, Vietnam, Belanda, AS dan lainnya

20. Teh

Nilai impor: US$ 27,7 juta
Volume impor: 19,5 juta kg
Negara eksportir: Vietnam, Kenya, Iran, India, Srilanka dan lainnya

21. Kopi

Nilai impor: US$ 37,4 juta
Volume impor: 15,2 juta kg
Negara eksportir: Vietnam, Brasil, AS, Italia dan lainnya

22. Cengkeh

Nilai impor: US$ 3,3 juta
Volume impor: 309.299 kg
Negara eksportir: Madagaskar, Brasil, Mauritius, Singapura, dan Comoros

23.  Kakao

Nilai impor: US$ 73,2 juta
Volume impor: 29,3 juta kg
Negara eksportir: Ghana, Pantai Gading, Papua Nugini, Kamerun dan Ekuador

24. Cabai

Nilai impor: US$ 368.361
Volume impor: 293.926 kg
Negara eksportir: Vietnam dan India

25. Cabe (kering)

Nilai impor: US$ 20,9 juta
Volume impor: 17,1 juta kg
Negara eksportir: India, China, Thailand, Jerman, Spanyol dan lainnya

26. Cabe (awet)

Nilai impor: US$ 2,7 juta
Volume impor: 2,6 juta kg
Negara eksportir: Thailand, China, Malaysia dan Turki

27. Tembakau

Nilai impor: US$ 571,6 juta
Volume impor: 111,8 juta kg
Negara eksportir: China, AS, Turki, Brasil, Italia dan lainnya

28. Ubi kayu

Nilai impor: US$ 38.380
Volume impor: 100.798 kg
Negara eksportir: Thailand dan Vietnam

29. Kentang

Nilai impor: US$ 27,6 juta
Volume impor: 44,6 juta kg
Negara eksportir: Australia, Kanada, AS, Mesir, Jerman dan lainnya.(Sis/Nrm)