Tim Reformasi Migas: Pertamina Mampu Produksi Pertamax 5 Juta Barel Sebulan


Monday, December 29, 2014       06:50 WIB

Faisal Basri (Antara)

Ipotnews – Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi menyebut PT Pertamina mampu menghasilkan bahan bakar minyak RON 92 (pertamax) sebanyak lima juta barel per bulan, dari saat ini hanya 197 ribu barel.

Menurut Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri, hal itu diketahuinya setelah bertemu dengan jajaran direksi Pertamina. Angka produksi itu dikatakan bisa dicapai, jika Pertamina memberdayakan kilang-kilang yang sudah tersedia, seperti di Balongan dan Cilacap. “Jadi tidak perlu investasi,” kata Faisal, di Jakarta, Minggu (28/12).

Faisal menegaskan, rekomendasi penghapusan premium oleh Tim Reformasi bukanlah usulan yang mengada-ada, namun disertai data dan sesuai fakta.  Dia mengaku telah menemui sejumlah pihak sebelum akhirnya mengeluarkan rekomendasi penghapusan premium.

Dia menyebutkan, salah satu yang ditemui adalah pengusaha Sandiaga Uno, yang notabene memiliki kilang, namun tidak beroperasi karena tidak ada pasokan minyak.

“Kita dorong dipercepat. Kita ini jangan disandera oleh keyakinan-keyakinan seolah-olah Pertamina tidak mampu. Pertamina itu keren dan punya infrastruktur bagus,” ujar dia.

Selanjutnya, kata Faisal, pemerintah diminta untuk mengoptimalkan kilang-kilang milik swasta nasional guna mendongkrak produksi. “Kilang swasta seperti ini harus dioptimalkan. Kilang lainnya yaitu Trans Pacific Petrochemical (TPPI),” tutur Faisal.

Jangan Tergesa-gesa

Dihubungi secara terpisah, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, justru meminta Presiden Joko Widodo agar tidak tergesa-gesa mewujudkan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus RON 88 (premium) dan menggantinya dengan pertamax.

Sofyano mengatakan, kilang produksi Pertamina tidak akan cukup untuk menyediakan RON 92, karena kebutuhan masyarakat sangat besar.

“Pasti tidak cukup, tetap melakukan imporkan kebutuhan kita 15 juta barel per bulan. Sedangkan Pertamina sanggup 5 juta barel per bulan. Jadi Pertamina tetap impor, artinya rekomendasi ini jangan diwujudkan tergesa-gesa,” ucapnya.

Dia khawatir, jika keputusan itu tetap dipaksakan, akan menyebabkan masalah struktural di masyarakat terkait kelangkaan bahan bakar. Maka, dia merekomendasikan pemerintah tetap menyediakan bahan bakar RON 88 dan RON 92, namun jumlahnya tergantung wilayah.

“Makanya rekomendasi saya tadi adalah range saja, RON 88 sampai 92. Jadi misalnya kilang Dumai masih bisa produksi RON 88, ya sudah sekitar Sumatra masih boleh RON 88, Jakarta RON 92. Cilacap bisa RON 88, jadi tetap ada,” jelas Sofyano. (Sigit/ef)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: