PANGKALAN BUN, KOMPAS — Kekompakan kekuatan masyarakat, tim penyelamat, TNI, dan pemerintah mempercepat pencarian pesawat AirAsia QZ 8501 yang hilang Minggu. Kerja sama itu membuahkan hasil. Sejumlah serpihan yang merupakan bagian pesawat ditemukan di sekitar Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Selasa (30/12).Di samping itu, tiga tubuh korban telah ditemukan dan dievakuasi ke KRI Bung Tomo yang berada di Laut Jawa. Beberapa serpihan dan barang milik penumpang juga ditemukan. Sejak penemuan serpihan pesawat, tiga kapal, yaitu KRI Bung Tomo, KRI Yos Sudarso, dan Kapal Negara 224, berjaga di laut sekitar tempat penemuan. Hingga semalam mereka masih melakukan evakuasi. Selanjutnya jasad korban akan dikirim ke Pangkalan Bun dan dikirim ke Surabaya, Jawa Timur, untuk diidentifikasi.Tak lama setelah Kepala Badan SAR Nasional FHB Soelistyo memastikan beberapa serpihan itu bagian dari pesawat AirAsia, Presiden Joko Widodo terbang dari Jakarta ke sekitar lokasi penemuan pesawat kemudian ke Bandar Udara Juanda, Surabaya, untuk menemui keluarga penumpang.

Di Surabaya, Presiden meminta kepada jajaran Basarnas, TNI, dan Polri agar fokus pada pencarian dan evakuasi penumpang serta awak pesawat.

Presiden juga menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi kinerja Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat nelayan atas dukungannya dalam pencarian pesawat. Pemerintah juga berterima kasih kepada negara sahabat yang membantu mencari, seperti dari Singapura, Malaysia, dan Australia.

Melihat tiga obyekPertama kali informasi penemuan serpihan pesawat muncul dari awak pesawat CN-295 A-2905 TNI Angkatan Udara dengan pilot Kapten (Pnb) Ammad yang berangkat dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 06.00. Misi ini dipimpin Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsda TNI Agus Dwi Putranto. Awak pesawat ini melihat tiga obyek besar berwarna putih dan kuning mengapung di perairan sekitar 175 kilometer dari Pangkalan Bun pada pukul 10.05.

Temuan ini segera ditindaklanjuti pesawat Hercules C-130 A-1320 yang tinggal landas pukul 10.18 untuk membantu pencarian.

Sementara itu, pesawat kalibrasi Kementerian Perhubungan yang dipimpin Kapten Banta Sidi atas perintah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan berangkat dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pukul 09.00.

Kapal menyusuri selatan Kalimantan dengan cara melingkar dari titik jatuhnya pesawat. Pukul 10.30, mereka menemukan empat serpihan besar, yang terbesar berbentuk persegi panjang dengan bentangan 10 meter.

Selanjutnya pesawat Hercules C-130 A-1319 dengan Kapten Pilot Mayor (Pnb) Akal Juang pada pukul 11.30 menemukan serpihan-serpihan dan sesosok tubuh terapung di perairan yang berdekatan dengan temuan sebelumnya. Setelah mengambil foto-foto yang dibutuhkan, pesawat ini selanjutnya menuju Pangkalan Bun untuk melaporkan foto temuan.

Kemudian pesawat Hercules C-130 A-1320 yang berangkat dari Halim Perdanakusuma tiba di lokasi pukul 12.15. Pesawat ini menemukan jaket pelampung berwarna kuning untuk penumpang serta serpihan kargo berwarna merah putih dengan jaring kargo. Adapun pesawat helikopter SAR HR-3601 Basarnas dari Pangkalan Bun memasuki perairan tersebut dan pada pukul 13.58 menemukan beberapa tubuh terapung.

Dari pesawat lain juga terlihat satu jasad mengapung di tengah lautan.

”Kami laporkan titik koordinat ini untuk ditindaklanjuti KRI Bung Tomo yang sudah berada 1-2 mil dari lokasi,” ujar kopilot Hercules, Letnan Satu (Pnb) Erwin Tri Prabowo.

Kru pesawat melaporkan hasil temuan tersebut kepada Basarnas dan perwira Angkatan Udara setempat. Selanjutnya Hercules yang dikemudikan pilot Mayor (Pnb) Akal Juang kembali melakukan penyisiran di koordinat awal ditemukannya serpihan pesawat. Penyisiran kedua kali itu juga menemukan puing-puing pesawat dan tubuh.

Pesawat terbang pada ketinggian sekitar 300 meter sehingga benda-benda itu terlihat jelas dari dalam pesawat Hercules. Kru dan wartawan juga melihat ada sekitar tujuh jasad yang mengapung, salah satunya memakai atasan berwarna putih dan celana hitam.

Pada penyisiran kedua itu, ada kapal tongkang yang berusaha berkomunikasi dengan melambai-lambaikan serpihan badan pesawat yang berwarna putih.

KekompakanKekompakan seluruh kekuatan itu muncul sejak Minggu siang begitu kabar pesawat AirAsia dinyatakan hilang. Basarnas segera mengerahkan kekuatan pesawat dan kapal. TNI juga langsung mengerahkan pesawat dan kapal mereka untuk mendekati lokasi yang diperkirakan tempat jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501.

Kekuatan masyarakat juga langsung bergerak. Nelayan di pantai Pulau Belitung dan Pulau Bangka (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) serta Pangkalan Bun ikut terlibat dan memberi informasi. Masyarakat di sejumlah tempat melakukan doa bersama. Sementara Bupati Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama ikut turun tangan langsung.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan relawan turun tangan menenangkan keluarga penumpang. Risma juga langsung mendata penumpang dan memerintahkan pengamanan rumah milik keluarga penumpang begitu alamat penumpang diketahui.

Minggu siang, Ignasius Jonan juga langsung mengerahkan pesawat dan kapal milik Kementerian Perhubungan untuk menuju lokasi. Jonan memerintahkan semua radio pantai meminta kapal yang melewati lokasi itu untuk memonitor kemungkinan ada temuan terkait dengan pesawat AirAsia.

Mencari kotak hitamMenteri Luar Negeri Retno LP Marsudi juga turun tangan membantu Basarnas untuk berkomunikasi dengan beberapa negara yang berniat membantu. Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo menghubungi Menteri Perhubungan menawarkan bantuan Kapal Riset Baruna Jaya yang memiliki kemampuan deteksi dasar laut. Semalam Kapal Riset Baruna Jaya I berangkat mendekati lokasi.

Kapal Riset Baruna Jaya I siap mencari kotak hitam di lokasi serpihan pesawat AirAsia.

”Kami akan mencari kepastian serpihan pesawat untuk mengidentifikasi kotak hitam,” kata Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Ridwan Djamaluddin.

Pencarian akan dilakukan menggunakan kamera bawah laut yang bisa diturunkan hingga kedalaman 300 meter. Pencarian akan dilakukan dengan mengikuti jejak serpihan pesawat dan korban yang ditemukan. Penjejakan dilakukan dengan memperhitungkan posisi hilang kontaknya pesawat, posisi serpihan pesawat, serta arah dan kekuatan arus laut.

Untuk operasi pencarian kali ini, bukan hanya para menteri, pemerintah menunjuk langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memimpin upaya pencarian pesawat tersebut sejak hari pertama.

Penemuan serpihan dan jasad korban kemarin membuat Basarnas mempersempit area pencarian, yaitu area V yang ada di sekitar perairan Pangkalan Bun.

Semua kapal dan pesawat, termasuk bantuan dari negara lain, akan diarahkan untuk membantu evakuasi di area tersebut.

Basarnas akan mendapat bantuan kapal dari Kapal Riset Baruna Jaya I, kapal asosiasi survei, dan kapal bantuan dari Amerika Serikat, USS Sampson, yang akan merapat membawa alat deteksi bawah air. Jumlah penyelam juga akan ditambah. (NAD/MZW/ONG/LKT/RAZ/EDN/DEA/ACI/DEN/BAH/MAR)