Premium Akan Dihapus


Akan .. Kapan ??

JUMAT, 2 JANUARI 2015
Perkecil Selisih Produksi, Pertamina Optimalkan Sumber Daya
0 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER

JAKARTA, KOMPAS — PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menghapus premium dan beralih ke pertamax dalam waktu dua tahun. Produksi pertamax dari kilang milik Pertamina dapat dimaksimalkan hingga 1,6 juta barrel per hari melalui program pengembangan kilang.
Penghapusan premium dan diganti dengan pertamax merupakan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang diketuai Faisal Basri.

Menurut Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hendardi, Pertamina sanggup memenuhi permintaan pemerintah yang memberikan batas waktu penghapusan premium dan diganti pertamax. Pertamina akan mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk memperkecil selisih produksi premium dengan pertamax.

”Saat ini, produksi premium dari kilang Pertamina adalah 6 juta barrel per bulan dan pertamax 400.000 barrel per bulan. Jika kapasitas semua kilang Pertamina sudah ditingkatkan, seluruhnya akan menjadi pertamax,” kata Rahmad, Rabu (31/12), di Jakarta.

Kemampuan Pertamina, tambah Rahmad, akan meningkat seiring selesainya program pengembangan kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP Program). Program itu diharapkan selesai dalam lima tahun mendatang dengan produksi 1,6 juta barrel bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, selama dua tahun itu, Pertamina diharapkan mampu mempercepat pembangunan kilang, tempat penyimpanan, dan pemerataan distribusi BBM di seluruh Indonesia. Pemerintah menginginkan Pertamina sebagai pemain tunggal RON 88 (premium) lebih efisien kinerjanya sehingga mampu bersaing secara sehat ketika mulai memproduksi dan menjual RON 92 (pertamax).

Lebih baik
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyatakan telah menerima dan membicarakan rekomendasi dari Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Pemerintah bersama Pertamina dan pemegang saham menyetujui rekomendasi tersebut. Alasannya, peralihan dari RON 88 ke RON 92 akan membuat mutu BBM lebih baik dan dapat menumbuhkan persaingan sehat.

”Oleh karena itu, Pertamina diberi waktu selambat-lambatnya dua tahun untuk menyiapkan diri agar RON 88 bisa ditinggalkan dan beralih ke RON 92. Dengan demikian, tidak perlu ada yang dikhawatirkan karena rekomendasi kami terima dengan baik,” ujar Sudirman.

Rekomendasi peralihan premium ke pertamax itu dilandasi pertimbangan ketergantungan Indonesia terhadap premium sehingga rawan penyelewengan. Indonesia adalah satu-satunya pengguna premium di Asia Tenggara. Padahal, produsen premium tidak banyak.

”Indonesia satu-satunya pembeli bensin RON 88 dan tidak memiliki kuasa sedikit pun dalam proses penentuan harga. Sistem itu membuka peluang terjadi kartel di tingkat penjual. Berbeda jika Indonesia menggunakan bensin RON 92 yang ketersediaannya banyak dan pembelinya besar sehingga tercipta harga yang lebih transparan dan kompetitif,” kata Faisal Basri saat mengumumkan rekomendasi penghapusan premium untuk beralih ke pertamax (Kompas, 22/12).

Terkait dengan program RDMP, Pertamina menandatangani nota kesepahaman dengan tiga perusahaan asal Arab Saudi, Tiongkok, dan Jepang senilai 25 miliar dollar AS. Namun, belum ada kesepakatan mengenai sumber dananya.

Selain program RDMP, Pertamina juga berencana membangun kilang baru sesegera mungkin. Menurut rencana, ada 2-3 unit kilang baru yang akan dibangun dengan kapasitas masing-masing 350.000 barrel per hari. (APO/HEN)

KOMENTAR

Advertisements

One Comment to “Premium Akan Dihapus”

  1. kasian rakyat yang tidak siap. mereka akan tambah miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: