JAKARTA, KOMPAS — Konsultan industri dan analis riset pasar Frost & Sullivan memproyeksikan, pada 2020 akan ada 1,7 miliar perangkat yang terkoneksi dengan internet dengan lebih dari 470 juta pengguna perangkat telekomunikasi dan lebih dari 200 juta pengguna internet aktif di Indonesia. Besarnya kondisi konektivitas ini memberi peluang besar terhadap pasar bisnis daring.

”Sistem logistik tetap menjadi kunci utama jika bisnis daring diharapkan tumbuh. Orang bisa mengakses dan membeli produk daring semakin mudah. Akan tetapi, apabila sistem pengiriman barang buruk, konsumen enggan membeli,” tutur Associate Director Information Communication Technology Consulting Frost & Sullivan Asia Pacific Spike Choo dalam temu media, di Jakarta, Selasa (3/2) petang.

Tantangan kedua, menurut Spike, adalah produk yang dijual. Bagaimana barang yang diperdagangkan onlineatau dalam jaringan (daring) harus berkualitas dan kondisi fisiknya sesuai fakta. Dengan kata lain, pelayanan kepada konsumen menjadi hal penting.

”Pengusaha harus memberi deskripsi jelas mengenai kondisi fisik barang yang dijual. Pelayanan kepada konsumen juga harus baik. Ini sama dengan ketika saya membeli barang di Senayan City, cuma saya membelinya secara daring,” papar Spike.

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Agus Tjandra kepada Kompas, di Jakarta, Rabu (4/2), menyebutkan tiga pilar penting dalam bisnis daring, yakni produk, sistem logistik, dan sistem pembayaran.

Ia sependapat dengan Spike bahwa sistem logistik memiliki peran penting. Sistem logistik berperan hampir 1/3 dari pertumbuhan total bisnis daring suatu negara.

Tiongkok, salah satu pemain besar bisnis daring di Asia bahkan global, telah memiliki metode pengiriman barang berkualitas mulai dari warehousing (pengemasan, penyimpanan, penjemputan barang dari penjual lalu dikemas, pengembalian barang) hingga pengiriman (media pembayaran biaya pengiriman tunai atau kredit dan manajemen penyaluran). Negara itu bahkan menawarkan sistem satu harga pengiriman barang untuk ke wilayah manapun.

”Di Indonesia, pengiriman barang kurang cepat dan harga masih sedikit mahal. Meski begitu, sistem logistik di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan,” kata Agus.

Lebih jauh, menurut Agus, besarnya peluang bisnis daring mampu menggerakkan industri logistik. Pendapatan mereka hanya dari pengiriman barang hasil transaksi daring bisa tumbuh 30 persen dari total keseluruhan pendapatan.

Hasil penghitungan idEA menunjukkan, nilai bisnis daring Indonesia pada 2013 mencapai 6 miliar dollar AS. Adapun pada 2015 diperkirakan nilainya 26-50 miliar dollar AS.

”Proyeksi nilai bisnis tersebut bisa tercapai bila diikuti iklim usaha, politik, dan sistem logistik yang bagus,” ujar Agus.

Mengenai produk yang diperdagangkan, menurut Agus, gawai dan mode masih akan mendominasi penjualan secara daring pada 2015.

Pembayaran elektronikVice President Information Communication Technology Practice Frost & Sullivan Asia Pacific Ajay Sunder memproyeksikan, pada 2019, keuntungan seluruh perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) yang ada di Indonesia bisa mencapai 3,86 miliar dollar AS. Sektor-sektor berbasis TIK akan meraup keuntungan. Sektor telekomunikasi diperkirakan meraih laba sebesar 629 miliar dollar AS.

”Penyedia jasa keuangan berbasis TIK, seperti layanan pembayaran secara elektronik, memiliki peluang besar untuk tumbuh,” ungkap Ajay.

Inovasi teknologi pembayaran secara elektronik diperlukan. Tak hanya pada 2015, metode pembayaran itu akan menjadi tren masa mendatang.

Chief Executive Officer Kartuku Niki Luhur mengungkapkan, pada 2013 perusahaannya berhasil mengelola lebih dari 50 juta transaksi nontunai dari total 250 juta transaksi nontunai di Indonesia. Peluang pengembangan bisnis itu sangat besar. Bisnis daring adalah salah satu penggeraknya.

Meski begitu, menurut Niki, masyarakat Indonesia belum banyak mengenal hadiah kupon belanja elektronik dan kartu prabayar elektronik yang biasa digunakan untuk bertransaksi daring.