Archive for March, 2015

March 31, 2015

22 Situs Media Islam Diblokir Kemkominfo dan BNPT

tapi versi mobilenya masih pada bisa diakses..

Pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengakui telah memblokir 19 website sejak Ahad (29/3) kemarin. Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo, Ismail Cawidu, ke-19 website itu dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai website yang menyebarkan paham atau simpatisan radikalisme.
Sebelumnya, lanjut Ismail, sudah ada tiga website yang diblokir oleh Kemkominfo. Maka dengan adanya tambahan permintaan blokir terhadap 19 website ini, kata Ismail, jumlahnya mencapai 22 website.
“Pertama, tiga, lalu 19. Jadi, 22 (website). Dikategorikan sebagai website penggerak radikalisme,” ujar Ismail Cawidu saat dihubungi Republika, di Jakarta, Senin (30/3/2015).
Ismail melanjutkan, pihaknya hanya menindaklanjuti laporan dari BNPT. Melalui surat bernomor No 149/K.BNPT/3/2015 Tentang Situs/Website Radikal, BNPT meminta Kemkominfo menambahkan sebanyak 19 website ke dalam daftar blokir.
Ismail tidak bisa memastikan, apakah situs-situs ini terbukti merupakan wadah rekrutmen simpatisan ISIS di Indonesia. “BNPT yang mengusulkan dan lebih paham. Saya sendiri belum membuka situs-situs tersebut. Sekarang, (ke-19 situs tersebut) masih dalam proses pemblokiran,” kata Ismail.
Berikut 22 situs yang diblokir Kemekominfo:
1.   arrahmah.com
2.   voa-islam.com
3.   ghur4ba.blogspot.com
4.   panjimas.com
5.   thoriquna.com
6.   dakwatuna.com
7.   kafilahmujahid.com
8.   an-najah.net
9.   muslimdaily.net
10. hidayatullah.com
11. salam-online.com
12. aqlislamiccenter.com
13. kiblat.net
14. dakwahmedia.com
15. muqawamah.com
16. lasdipo.com
17. gemaislam.com
18. eramuslim.com
19. daulahislam.com
20. shoutussalam.com
21. azzammedia.com
22. indonesiasupportislamicatate.blogspot.com
Adapun ketiga website yang disebut terakhir, bukan termasuk usulan BNPT.
Advertisements
March 31, 2015

Wisata Lokal, Mahal dan Kurang Infrastruktur Memadai

Setuju !  yang paling penting adalah masalah kebersihan di lokasi dan juga infrastruktur pendukungnya (WC dll) selain INFORMASI mengenai objek wisata juga sangat minim.. Bandingkan dengan negara yang sudah maju (mungkin negara tetangga spt Thailand) informasi untuk turis lokal dan internasional tersedia dengan mudah baik di hotel, restoran dan tiap sudut di pusat kota.. Nah Indonesia daerah yang paling yahud infratrukturnya saja seperti Jogjakarta dan Bali, masih banyak sekali kekurangan.

Ada kebanggaan tersendiri bagi sebagian wisatawan lokal saat mampu mengunjungi kawasan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat. Kebanggaan itu bahkan melebihi kemampuan mereka saat mengunjungi sejumlah negara Asia, bahkan Eropa sekalipun. Mengunjungi kabupaten kepulauan di kawasan timur Indonesia itu menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Keelokan Pulau Wayag, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menjadi primadona bagi turis petualang yang ingin menikmati pemandangan indah dari ketinggian sekitar 150 meter dari pantai dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Wayag dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Waisai menggunakan kapal cepat.
KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIAKeelokan Pulau Wayag, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menjadi primadona bagi turis petualang yang ingin menikmati pemandangan indah dari ketinggian sekitar 150 meter dari pantai dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Wayag dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Waisai menggunakan kapal cepat.

Mengunjungi Raja Ampat memang menjadi salah satu dambaan penyuka perjalanan. Raja Ampat memiliki keindahan bawah laut menawan. Terumbu karangnya menjadi salah satu yang terindah dan terbaik di dunia. Aneka jenis ikan yang hidup di perairan itu pun paling beragam. Gugusan pulau-pulaunya pun mempesona, dengan Wayag dan Painemo, yang menjadi ikon wisata kepulauan itu.

Wamena di Provinsi Papua juga memiliki keindahan menawan. Terletak di kawasan tengah pulau, Wamena pun menjadi impian untuk dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Keindahan alam Wamena di Lembah Baliem yang dikelilingi Pegunungan Jayawijaya mendorong wisawatan untuk datang. Di kawasan ini pula terdapat lokasi penyimpanan mumi Wim Motok Mabel di Kampung Wisata Sompaima.

Raja Ampat dan Wamena hanyalah dua di antara sekian banyak tujuan wisata idaman, baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Di Nusantara, Zamrud Khatulistiwa, tak terhitung banyaknya tujuan wisata yang diidamkan warganya untuk dikunjungi. Sebut saja keindahan laut Bunaken di Sulawesi Utara, Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, Danau Toba di Sumatera Utara, Toraja di Sulawesi Selatan, serta tentu saja Pulau Bali.

Mahal

Namun, keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu bagi sebagian besar warga yang menyukai perjalanan harus dipendam dalam-dalam. Penyebabnya, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit. Dari sisi jarak, perjalanan ke tempat-tempat menawan itu pun terbilang jauh.

Sekadar contoh, warga Jakarta yang hendak berlibur ke Raja Ampat harus terbang langsung selama 5,5 jam. Mereka pun harus mengeluarkan biaya pesawat yang mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan dengan ke Singapura atau Bangkok. Untuk ke Raja Ampat, wisatawan harus terlebih dahulu terbang ke Sorong. Selanjutnya, dari Sorong perjalanan dilanjutkan ke Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, dengan menggunakan perahu motor.

Biaya pesawat termurah dari Jakarta dengan tujuan Sorong, untuk penerbangan tanggal 2 April 2015 sebesar Rp 1.948.600. Pada hari yang sama, tiket paling murah ke Bangkok Rp 1.436.366. Ke Singapura pada hari yang sama pula, tiket termurah cuma Rp 492.500. Biaya perjalanan ke Singapura itu pun lebih murah dibandingan dengan tiket termurah ke Bali pada hari itu, yakni Rp 642.400.

Dari Sorong ke Raja Ampat, wisatawan harus mengeluarkan biaya lagi. Biaya paling murah adalah menggunakan feri dari Sorong, Papua Barat, ke Waisai dengan biaya Rp 100.000-Rp 250.000 per orang. Ada pula penerbangan perintis dari Sorong ke Waisai dan sebaliknya. Biaya lebih mahal lagi harus dikeluarkan jika wisatawan ingin menikmati keindahan pulau-pulau dan keindahan bawah laut Raja Ampat. Biaya ke Wayag, gugusan pulau menawan yang menjadi ikon wisata Raja Ampat, pun tinggi. Penyewa perahu motor cepat di Waisai rata-rata mematok biaya Rp 20 juta untuk mengunjungi Wayag dan beberapa pulau lain. Perjalanan ke Wayag sekitar empat jam.

Sementara ke Pianemo, yang disebut pula sebagai Wayag Kecil, dibutuhkan waktu perjalanan dan biaya separuhnya. Berjuta-juta rupiah lagi harus dikeluarkan untuk menginap di resor-resor di sejumlah pulau di kawasan Raja Ampat.

Suku Dani melakukan atraksi budaya perang-perangan dalam pembukaan Festival Lembah Baliem di Distrik Usilimo, Jayawijaya, Papua, beberapa waktu lalu. Kegiatan tahunan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya ini untuk mengapresiasi tradisi suku Dani yang bermukim di Lembah Baliem.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Beberapa komodo ketika diberi makan oleh pengelola Taman Nasional Komodo, di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA

Mahalnya biaya wisata ke Raja Ampat adalah salah satu contoh tidak murahnya biaya perjalanan wisata di Indonesia. Mahalnya biaya pun menggambarkan betapa luasnya Indonesia, dengan sebaran lokasi wisata yang teramat banyak. Penyebab lainnya adalah terbatasnya infrastruktur. Mahalnya biaya sewa perahu motor cepat untuk menuju lokasi wisata di Raja Ampat, misalnya, disebabkan mahalnya bahan bakar minyak. Satu liter premium misalnya sekitar Rp 30.000. Belum lagi ketersediaannya yang tidak menentu.

Demikian pula halnya jika wisatawan Jakarta hendak menikmati keindahan Toraja di Sulawesi Selatan. Selain biaya tiket Jakarta-Makassar yang pasti lebih mahal daripada ke Singapura, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Makassar ke Toraja atau bus antarkota selama tujuh jam.

Akses terbatas

Sejumlah kalangan membenarkan biaya berwisata di dalam negeri mahal. Penyebab utamanya adalah akses yang terbatas sehingga biaya transportasi menjadi mahal. Namun, untuk biaya yang lain, mereka yakin Indonesia masih kompetitif.

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, masalah ini muncul karena konektivitas yang minim sehingga ongkos menjadi mahal. Hal itu menjadi pekerjaan rumah untuk diperbaiki meskipun semuanya tak bisa dipukul rata. “Apalagi, untuk biaya hotel, pengeluaran selama berwisata, dan bahkan untuk makanan serta suvenir, kita masih kompetitif,” kata Hariyadi.

Saat ini, PHRI tengah mengupayakan agar akses penerbangan bisa murah. Salah satunya adalah menggabungkan harga penerbangan dengan hotel, seperti di beberapa negara, sehingga harganya bisa lebih menarik bagi calon pelancong.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar mengakui ada persepsi di masyarakat Indonesia, wisata dalam negeri lebih mahal dibandingkan dengan wisata luar negeri. Namun, persepsi ini tumbuh karena membandingkan Malaysia dan Singapura sebagai luar negeri, dengan Raja Ampat.

“Tingginya minat masyarakat ke luar negeri karena mereka mendapatkan suasana, iklim, dan pemandangan yang berbeda dengan Indonesia. Sementara kalau wisata domestik, iklim dan suasana yang mereka rasakan tidak berbeda dengan tempat asal mereka,” tutur Asnawi.

Data Asita tahun 2014 menunjukkan, perjalanan wisata ke luar negeri 15 juta orang sepanjang tahun 2014. Adapun perjalanan dalam negeri hanya 9 juta orang. Selain itu, harga tiket pesawat ke luar negeri juga lebih murah daripada tiket domestik. Menurut Asnawi, banyak tiket pesawat yang murah untuk ke Singapura atau Malaysia karena maskapai yang menyediakan penerbangan itu lebih banyak dibandingkan dengan penerbangan domestik. Sementara maskapai yang menyediakan penerbangan domestik sangat terbatas sehingga harganya mahal.

Upaya lain untuk mendongkrak pertumbuhan pariwisata Indonesia adalah bebas visa bagi wisatawan mancanegara, dari sebelumnya 15 negara menjadi 45 negara. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan, pembebasan visa 30 negara baru itu akan diterbitkan dalam peraturan presiden dan diharapkan berlaku mulai April 2015. Pemerintah juga sudah menaikkan anggaran promosi pariwisata dari Rp 300 miliar pada tahun lalu menjadi Rp 1,2 triliun pada 2015.

Segala upaya pembenahan itu bertujuan lebih menghidupkan sektor pariwisata. Tahun ini, target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia adalah 10 juta orang atau lebih banyak daripada kunjungan tahun 2014 yang sebanyak 9,3 juta orang.

Namun, sebelum pembenahan itu dilakukan, pembenahan infrastruktur harus terus dilakukan. Kenyamanan dan keamanan berwisata tetap harus diutamakan agar dunia pariwisata Tanah Air semakin berkembang dan menjadi lebih murah.

March 31, 2015

Menteri Yohana Penasaran Mengapa Relawan Jokowi Minta Dia Diganti

Coba dibandingkan dengan kinerja Miss Puan anak Ratu Mbok Mega.. Kinerjanya ya sami mawon. JEBLOG.

Keduannya tidak paham portofolio kementerian yang mereka pimpin.. jadi mau kerja apa ? Lebih baik keduannya dilengserkan dan diparkir di halaman kantor PDIP

Selasa, 31 Maret 2015 | 10:23 WIB
TRIBUN NEWS / DANY PERMANAMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise, diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Akhir-akhir ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise menjadi sorotan relawan Jokowi. Sebagian relawan itu mendesak Presiden Joko Widodo untuk mengganti Yohana dengan berbagai alasan. Bagaimana komentar Yohana atas desakan itu?

Menteri asal Papua itu mengatakan sudah mendengar semua tanggapan negatif dari relawan Jokowi tentang dirinya. Yohana penasaran apa yang membuat para relawan itu begitu ngototmeminta dirinya diganti.

“Saya ingin tahu saja bagaimana hubungan saya dengan relawan itu,” ucap Yohana di Jakarta, Selasa (31/3/2015).

Yohana mengaku tidak begitu dekat dengan kelompok relawan tersebut. Meski penasaran akan motif relawan ini, Yohana memilih tidak ambil pusing dan lebih fokus bekerja. “Saya mau cari tahu, tetapi itu buang waktu saya saja untuk cari tahu,” kata dia.

Nada miring soal kinerja Menteri Yohana antara lain disuarakan oleh relawan Jokowi yang mengatasnamakan Barisan Relawan Jokowi for Presiden (Bara JP). Mereka mendesak Presiden Jokowi mengganti Yohana, yang dianggap tidak menunjukkan kinerja positif. (Baca Barisan Relawan Jokowi Minta Menteri Yohana Diganti)

Bara JP menilai ada sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa Yohana nihil prestasi sejak dilantik menjadi menteri. Indikator pertama, Yohana terlalu banyak menghabiskan waktu ke Papua. Selama bulan November-Februari, Yohana tidak kurang dari 10 kali ke Papua.

Indikator kedua, Yohana mengangkat sejumlah staf ahli dari kalangan keluarganya. Indikator ketiga adalah sering muncul keluhan dari sejumlah pihak tentang ketidakfokusan program Yohana di bidang perlindungan perempuan dan anak di Indonesia.


Ikuti perkembang

March 30, 2015

Indeks Kota Cerdas Indonesia

Apa masih ada kota yang “cerdas” ??

EKONOMI > MAKRO > INDEKS KOTA CERDAS INDONESIA

ANALISIS EKONOMI

Harian Kompas bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk pekan lalu meluncurkan Indeks Kota Cerdas Indonesia. Indeks ini merupakan parameter untuk mengukur dan memeringkat kinerja pengelolaan kota berbasis teknologi digital dalam pelayanan masyarakat.

Inisiatif ini tentu sangat baik karena isu migrasi penduduk dari desa ke kota di Indonesia sudah semakin akut. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, pada 1960 hanya 15 persen penduduk Indonesia tinggal di kota. Namun, pada 1990, jumlahnya berlipat dua menjadi 30 persen, kemudian pada 2010 menjadi 44 persen, dan diperkirakan menjadi 57 persen pada 2025. Dengan kata lain, pada saat ini (2015) diperkirakan jumlah penduduk yang tinggal di kota sudah berimbang dengan yang tinggal di desa (50 persen).

Sosiolog Jerman, Hans-Dieter Evers (The End of Urban Involution and the Cultural Construction of Urbanism in Indonesia, Universitas Bonn, 2007), menyatakan, kecepatan urbanisasi di Indonesia telah menimbulkan terjadinya ”kota-desa” (urban villages), terutama di kota-kota provinsi. Maksudnya, kota-kota tersebut keteteran menampung arus deras urbanisasi sehingga tetap bercirikan karakter kuat desa.

Akibatnya, sejumlah karakteristik berikut ini menjadi terasa menonjol di banyak kota: banyak daerah kumuh, infrastruktur buruk, pertumbuhan penduduk cepat, serta, seperti diklaim banyak pengamat: susah diatur (ungovernability). Bagaimana membuat kota-kota tersebut bisa diatur sehingga menjadi tempat tinggal dan bekerja yang nyaman, manusiawi, dan berkelanjutan?

Berangkat dari sinilah tampaknya inisiatif untuk melahirkan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) terjadi. Bagaimana masalah membeludaknya penduduk yang berbondong-bondong ke kota harus disikapi secara cerdas? Aspek-aspek yang akan dinilai meliputi pencapaian ekonomi, harmonisasi bidang sosial, serta upaya melindungi dan menata lingkungan. Adapun faktor pendukung yang dipertimbangkan dalam penilaian adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, tata kelola pemerintahan, dan kualitas sumber daya manusia.

Menurut saya, masih ada satu faktor lagi yang harus dipertimbangkan, yakni keberadaan infrastruktur. Hal ini penting karena kemampuan daya dukung kota untuk melayani kebutuhan mobilitas publik sehari-hari sangat ditentukan oleh keberadaan fasilitas moda angkutan, yang harus didukung oleh infrastruktur.

Pada 2015, anggaran yang disiapkan untuk membangun infrastruktur sejumlah Rp 290 triliun. Secara nominal, angka ini sudah besar, bahkan merupakan rekor tertinggi dalam sejarah APBN kita. Namun, jika dibandingkan dengan PDB saat ini Rp 11.000 triliun, maka itu hanya kurang dari 3 persen, meski angka itu belum sebanding dengan referensi terbaik dunia untuk negara berkembang, yakni Tiongkok (10 persen) dan Brasil (5 persen).

Hasrat besar Presiden Joko Widodo yang ingin membangun banyak waduk ternyata ”hanya” butuh sekitar Rp 1 triliun. Cukup kecil jika dibandingkan dengan seluruh anggaran infrastruktur yang kita miliki.

Sebagai perbandingan, biaya pembangunan transportasi massal cepat (MRT) di Jakarta Rp 27 triliun, yang dikerjakan dalam 7 tahun. Artinya, jika diamortisasikan, anggaran dalam setahun hanya Rp 4 triliun. Cukup murah dan sangat terjangkau oleh APBN kita. Dengan kata lain, jika kita cukup cerdik dalam mengelola keuangan negara, baik di level pusat maupun provinsi, akan banyak infrastruktur yang dapat dibangun. Mestinya kita tidak perlu sampai tertinggal dalam membangun infrastruktur.

Jakarta baru akan memiliki satu jalur MRT pertamanya pada 2019 (sepanjang 21 kilometer). Padahal, Beijing sudah memiliki 18 jalur MRT (527 kilometer), sedangkan Shanghai 14 jalur (538 kilometer).

Sementara itu, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dibangun pada 2009 dengan anggaran relatif murah, Rp 300 miliar. Namun sayang, sesudah membangun satu gerbang, lalu berhenti. Padahal, Terminal 1 dan 2 sudah serasa meledak karena tak mampu lagi menampung penumpang. Baru pada 2012 pembangunan Terminal 3 dilanjutkan, dengan biaya Rp 4,7 triliun.

Ilustrasi tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemerintah dan parlemen kita memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas dalam politik anggaran. Jika hal-hal teknis yang paling esensial seperti ini saja masih teledor, maka kota-kota besar kita hanya akan terjebak di kubangan ”kota-desa”, seperti terminologi Evers.

Pemerintah pun kini mulai berencana membangun MRT tidak cuma di Jakarta, tetapi juga di Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar. Ini hebat dan memang harus dilakukan. Kita tidak boleh lagi mengulang kesalahan masa lalu: baru membangun infrastruktur ketika sudah terlambat.

Kemampuan menentukan prioritas serta mengantisipasi kebutuhan dalam jangka menengah dan panjang perlu dimasukkan menjadi salah satu kriteria dalam penghitungan IKCI. Kita tidak mau lagi selalu terlambat dalam kejar-kejaran antara pembangunan infrastruktur melawan arus urbanisasi, yang tampaknya mustahil dibendung itu….

A TONY PRASETIANTONO, KEPALA PUSAT STUDI EKONOMI DAN KEBIJAKAN PUBLIK UGM

March 30, 2015

Tiongkok Nomor Satu Kalahkan AS, Jokowi Hendak Belajar Apa dan Apakah Bisa?

Hmm belajar Nothing.. Sudah jelas kok. China kuat karena LANDASAN INDUSTRIALISASINYA KUAT. Awal industrialisasi mereka adalah memperkuat industri dasar ( bandingkan dengan Indo.. kilang kagak ada yang benar, industri baja hanya Krakatau Steel,(yang produksinya dari tahun 80an sampai sekarang segitu gitu aja) dan kedua adalah Pendidikan.. Ilmu PENGETAHUAN ALAM dan ILMU PASTI  diberikan dari sekolah daasar..( coba bandingin sama Indo  YANG ADA PENDIDIKAN AGAMA SAMPAI SMA walhasil sudah tua doyan korup atau jadi teroris ampun !) KETIGA Adalah PENEGAKAN HUKUM keras.. lah urusan KAPOLRI dan KPK saja belum beres…belum lagi Pengadilan Indonesia punya koleksi  HAKIM macam si SARPIN.. Cilaka 15 deh negeri tercinta ini..

Apa yang bisa dipelajari dari Tiongkok untuk mempercepat pembangunan di Indonesia? Begitulah pertanyaan yang mengemuka ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Tiongkok pekan lalu untuk menjalin kerja sama dan menarik investor dari negara tersebut.

Presiden Joko Widodo  berbicara pada Forum Kerja Sama Ekonomi  Indonesia-Tiongkok, Jumat (27/3) di Beijing, Tiongkok.
REUTERS/FENG LI/POOLPresiden Joko Widodo berbicara pada Forum Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Tiongkok, Jumat (27/3) di Beijing, Tiongkok.

Dari data yang digelar harian Kompas, tiap tahun defisit perdagangan dengan Tiongkok selalu bertambah besar. Neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok tahun 2010 sebesar -5,6 juta dollar AS, sedangkan pada 2014 meningkat hampir tiga kali lipat menjadi -14 juta dollar AS. Kita lebih banyak menyetor ke Tiongkok bahan-bahan mentah karet, sawit, dan kakao. Sementara Tiongkok memasukkan mesin dan berbagai peralatan listrik ke negara kita.

Di depan pemerintah dan pengusaha Tiongkok, Jokowi menjelaskan berbagai proyek kerja sama infrastruktur, mulai dari kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, jalan tol, pelabuhan, tol laut, bandara, rel kereta api, hingga pembangkit tenaga listrik.

Kebangkitan ekonomi Tiongkok memang menakjubkan. Rakyatnya menikmati kue pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, berada di angka 7-10 persen per tahun. Menurut Bank Dunia, perekonomian Tiongkok dalam posisi mengejar Amerika Serikat untuk menjadi nomor satu. Tahun 2005, produk domestik bruto (PDB) Tiongkok hanya 43,1 persen dari total PDB Amerika Serikat. Enam tahun kemudian, tahun 2011, jumlahnya naik dua kali lipat menjadi 86,9 persen. PDB Tiongkok tahun itu mencapai 13,5 triliun dollar AS, sedangkan Amerika Serikat 15,5 triliun.

Bank Dunia tahun 2012 (lembaga internasional lain memprediksi 2020) lantas meramalkan, pada tahun 2016 nanti, PDB Tiongkok akan melampaui Amerika Serikat. Namun, pendapatan per kapitanya masih selisih jauh. Tahun itu, pendapatan per kapita Tiongkok 10.000 dollar AS per tahun, sementara Amerika Serikat sudah 49.800 dollar AS.

Prediksi Bank Dunia dan lembaga internasional lain tentang perekonomian Tiongkok meleset. Tak usah menunggu sampai 2020, pada awal 2015, kedigdayaan Amerika Serikat sebagai pemimpin ekonomi dunia nomor satu runtuh.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), pada akhir Desember lalu, PDB Tiongkok mencapai 17,6 triliun dollar AS, melampaui Amerika Serikat yang 17,4 triliun dollar AS. Analisis Josep E Stiglitz dalam Vanity Fair edisi Januari 2015 berjudul “The Chinese Century”, antara lain, mengatakan, Tiongkok mengambil alih posisi nomor satu dari Amerika Serikat tanpa gembar-gembor dan predikat itu akan sulit diambil alih lagi oleh Amerika Serikat. Bahkan, mungkin akan selamanya Tiongkok menjadi nomor satu dunia.

Pemerintahan Jokowi tentu saja melihat dengan jelas perubahan konstelasi perekonomian dunia ini. Apakah Tiongkok mengalahkan Amerika Serikat atau tidak mungkin tidak begitu penting bagi Jokowi. Ini karena dominasi Tiongkok di negara kita sudah lama dirasakan, jauh sebelum mereka mengalahkan Amerika Serikat. Bukankah sulit sekali kita mencari barang yang bukan buatan Tiongkok (made in China) di pasar tradisional sampai mal mewah? Harapan pemerintah dan kita semua, dengan pendekatan kepada Tiongkok, negara kita tidak hanya dijadikan target pemasaran.

content
,

Mungkin Tiongkok tidak suka gembar-gembor, tetapi sangat jelas mereka mempunyai peta jalan untuk menjadi pemimpin nomor satu. Mereka percaya bahwa jalan mereka yang benar bukan jalan demokrasi ala Amerika Serikat. Mereka dengan percaya diri mempromosikan keberhasilan mereka ke negara-negara lain. Hal itu terbukti ketika harian Kompas mendapat undangan untuk mengunjungi Tiongkok tiga tahun lalu melalui koran pemerintah, People’s Daily.

Bersiap naik kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI
Suasana di gerbong kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Tiap tahun, Pemerintah Tiongkok secara rutin mengundang sepuluh wartawan di kawasan Asia Tenggara plus negara-negara Asia lain (Korea, Jepang, dan India) untuk mengamati kemajuan ekonomi negara tersebut secara langsung.

Selain diminta untuk membuat presentasi jurnalistik dan berdiskusi dengan editor-editor Tiongkok, kami sebagai tamu juga diajak keliling menikmati pameran kemajuan negara tersebut. Pembangunan infrastruktur negara tersebut memang luar biasa. Jalan yang mulus serta lebar terus dibangun. Rel kereta api, pelabuhan, dan bandara kini sudah menjadi modern.

Salah satu yang luar biasa adalah bagaimana mereka mampu membuat kereta cepat yang tak kalah dengan kereta TGV Perancis ataupun Shinkansen Jepang. Kereta api cepat yang kami tumpangi dari Beijing ke Guangdong mampu mencapai kecepatan 302 kilometer per jam dan dengan bangganya mereka menampilkan kecepatan itu di monitor di gerbong kereta.

Penumpang di dalam gerbong kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI
Stasiun kereta api Beijing yang bersih dan berkesan modern.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Jalan yang ditempuh Tiongkok memang unik. Keberhasilan pembangunan ekonomi mereka justru ditopang oleh ideologi komunis dan hanya memberi ruang kecil terhadap gagasan demokrasi. Negara berkuasa penuh mengendalikan media dan kebebasan sangat dibatasi. Hal ini berbeda dengan Amerika Serikat, juga Indonesia, yang kini dikenal sebagai negara yang sangat demokratis.

Soal pembebasan lahan untuk infrastruktur, misalnya, dengan kekuasaan atas nama negara, Tiongkok lebih mudah menjalankannya. Dengan bekal dan landasan politik seperti itu, Pemerintah Tiongkok juga bisa bertindak lebih tegas. Untuk negara kita, pasti perlu waktu dan tenaga yang jauh lebih banyak untuk bisa berhasil.

March 30, 2015

Indonesia Siapkan Produksi Massal Pesawat N-219

 Suara Merdeka 28 Maret 2015

Kokpit pesawat dengan teknologi full glass cockpit dan interior kabin pesawat N-210 (photos : pr1v4t33r)

Pesawat N-219 Siap Diproduksi Massal

SOLO, suaramerdeka.com – Pemerintah pusat, melalui PT Dirgantara Indonesia (DI), tengah menyiapkan produksi massal pesawat kecil jenis N-219. Pesawat tersebut dikhususkan untuk melayani penerbangan jarak dekat antarwilayah di Indonesia.

“N-219 akan digunakan untuk menjangkau antarkota berjarak sekitar 200 kilometer. Kapasitasnya kurang lebih 19 penumpang,” ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti), M Nasir, saat mengunjungi Solo Techno Park (STP), Selasa (24/3).

Ia mengklaim, saat ini prototipe pesawat tersebut telah selesai dibuat. “Satu unit pesawat riset itu bernilai sekitar Rp 120 miliar sampai Rp 125 miliar. Kami sedang mengupayakan agar N-219 bisa lulus uji sertifikasi pada tahun ini.” Dengan demikian, lanjut Nasir, PT DI diharapkan bisa mulai memproduksi pesawat tersebut secara massal pada 2016.

“Jika produksi pesawat itu bisa direalisasikan pada 2016, maka tahun depan akan menjadi tahun kebangkitan dirgantara Indonesia,” tegas Mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Nasir mengatakan, kendati biaya yang dibutuhkan untuk membuat prototipe N-219 relatif tinggi, harga pasaran yang dipatok untuk pesawat tersebut bisa di bawahnya.

“Harga keekonomiannya bisa berkisar US 6 juta dollar. Atau kira-kira Rp 70 juta per unit. Dibanding dengan produksi luar negeri, harga segitu jauh lebih murah.” jelasnya.

Thailand dan Filipina, oleh Nasir diklaim sebagai contoh negara yang sudah menyatakan ketertarikannya terhadap N-219.

“Tapi kami akan fokus kepada pemenuhan kebutuhan dalam negeri dulu. Lagipula untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, kami masih kesulitan,” tandasnya.

(Suara Merdeka)

March 29, 2015

MH370 crashed in Indian Ocean theory a ‘fabrication of evidence’, says expert 

Serem nih

-sumber: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/mh370-crashed-in-indian-ocean-theory-a-fabrication-of-evidence-says expert#sthash.Mz5U8p3x.dpuf



March 27, 2015

France Ready to Give RI Technology Transfer

26 Maret 2015

Dassault Aviation Rafale (all photos : Okezone)

France asserted on Wednesday that it was willing to provide an industrial cooperation with Indonesia should the Dassault Rafale jet fighter be selected to modernize the Indonesian Air Force.

French Ambassador to Indonesia Corinne Breuzé said that France was open to all cooperation possibilities involving French aircraft maker Dassault Aviation and state-owned aircraft maker PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

“With the support of the French government, Dassault is open to any possibility of partnerships and transfer technology,” she said in a prepared statement.

Other than technology transfer, she said that being 100 percent French, the Rafale would allow its users independence. “It is designed with Safran/Snecma for the engine, Thales for the avionics and MBDA for the armament,” she said.

Breuzé was speaking at an event to introduce the French jet fighter to the Indonesian public, at the Halim Perdanakusuma Air Force Base in East Jakarta.

She said that the decision to bring the Rafale to Jakarta, despite a high level of operational engagement especially in Iraq, was made by the French defense minister and air force following a courtesy call from Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu, who met his French counterpart Jean-Yves Le Drian on March 10.

Ryamizard also visited the Rafale’s assembly line in Bordeaux-Merignac during the March visit.

Two Rafale jet fighters, a Rafale B double-seater and a Rafale C single-seater, arrived on Monday from the just-concluded 2015 Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) exhibition in Malaysia.

On Tuesday, the jet fighters performed three flights for Indonesian Air Force pilots who flew on the Rafale B, taking the back seat.

There was also a solo aerobatic display performed by Capt. Benoit Blanche of the French Air Force.

The Rafale is a latecomer in the competition to replace the aging American-made F-5 E/F Tiger II operated by the Indonesian Air Force.

The French jet fighter is facing tough competition, locking horns with a stable of other contenders including the Russian-made Sukhoi Su-35, American-made F-16 Block 60, Swedish-made Saab JAS-39 Gripen and the Eurofighter Typhoon, a collaboration between Germany, Italy, Spain and the UK.

The Indonesian Air Force has repeatedly said it prefers the Su-35, the latest iteration of the Flanker family of jet fighters, although the final decision will be made by the Defense Ministry.

Meanwhile, Dassault Aviation executive vice president for America, Africa and Asia military sales JPHP Chabriol told The Jakarta Post that the best example of French will to transfer technology was India, which selected the Rafale.

He said that from an order of 126 units, 18 were supposed to be produced in France and the rest to be produced locally by Indian industries through progressive transfer of technology.

“From French authorities’ point of view as well as from French industry, there is no limitation to transfer technologies of the Rafale to friendly foreign countries,” he said.

“The only constraints we have are linked to the budgetary aspect, good sense and cost efficiency.”

He said Dassault and all associated French companies were quite open to discussions with Indonesian actors to set up a program that suited Indonesian requirements.

“We are not imposing anything; we are ready for discussion to define what is the optimized scheme of transfer of technology in the framework of the Rafale bid,” Chabriol said.

Other than technology transfer, Chabriol emphasized that Indonesia would get total independence if it selected the Rafale because, as it is a 100-percent French product, Indonesia would not have to deal with a third party.

Another advantage of buying the Rafale, he added, was that it could be deployed with very minimal logistical support.

(The Jakarta Post)

March 26, 2015

Berikut Daftar Lengkap Pembangunan Jaringan Kereta Api 2015-2019

Rabu, 25 Maret 2015 | 20:45

  • A
  • A
  • A

Jakarta – Terkait pembangunan infrastruktur, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 234 triliun. Anggaran ini diprioritaskan untuk membangun sarana dan prasarana transportasi kereta api di luar Pulau Jawa.

Rencananya, jaringan kereta api baru itu akan membentang sepanjang 3.258 kilometer yang akan dibangun hingga 2019.

Berikut ini, pembangunan jaringan kereta di luar Jawa dari Program Strategis Perkeretaapian 2015-2019:
Koridor Pulau Sumatera
Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Sumatera:
-Jalur KA baru Bireun-Lhokseumawe-Langsa-Besitang
-Jalur KA baru Rantauprapat-Duri-Dumai
-Jalur KA baru Duri-Pekanbaru
-Jalur KA baru Pekanbaru-Muaro
-Jalur KA baru Pekabaru-Jambi-Palembang
-Jalur KA baru Simpang-Tanjung Api-Api
-Jalur ganda KA Prabumulih-Kertapati
-Jalur ganda KA Baturaja-Martapura
-Jalur ganda KA Muara Enim-Lahat
-Jalur ganda KA Cempaka -Tanjung Karang
-Jalur ganda KA Sukamenanti-Tarahan
-Jalur KA baru Rejosari/KM3-Bakauheni

Reaktivasi Jalur KA:
-Binjai-Besitang
-Padang Panjang-Bukit Tinggi-Payakumbuh
-Pariaman-Naras-Sungai Limau
-Muaro Kalaban-Muaro

Pembangunan Kereta Api Perkotaan/Jalur Ganda/Elektrifikasi/Jalur Baru Akses ke Pusat Kegiatan:
-Perkotaan Medan (Jalur Ganda KA Medan-Araskabu-Kualanamu)
-Perkotaan Padang (Padang-BIM dan Padang-Pariaman)
-Perkotaan Batam (Batam Center-Bandara Hang Nadim)
-Perkotaan Palembang (Monorel)

Pembangunan Kereta Api Akses Bandara:
-Bandara Kualanamu, Medan (peningkatan kapasitas)
-Bandara Internasional Minangkabau, Padang
-Bandara Hang Nadim, Batam
-Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

Pembangunan Kereta Api Akses Pelabuhan:
-Pelabuhan Lhokseumawe
-Pelabuhan Belawan
-Pelabuhan Kualatanjung
-Pelabuhan Dumai
-Pelabuhan Tanjung Api-Api
-Pelabuhan Panjang
-Pelabuhan Bakauheni

Koridor Pulau Kalimantan
Pembangunan KA Khusus/Batubara/Akses Pelabuhan (Skema KPS):
-Muara Wahau-Muara Bengalon
-Murung raya-Kutai Barat-Paser-Panajam Paser Utara-Balikpapan
-Puruk Cahu-Mangkatib

Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Kalimantan:
-Jalur KA baru Tanjung-Paringin-Barabai-Rantau-Martapura-Banjarmasin
-Jalur KA baru Balikpapan-Samarinda
-Jalur KA baru Tanjung-Balikpapan
-Jalur KA baru Banjarmasin-Palangkaraya
-Jalur KA baru Palangkaraya -Sangau-Pontianak-Batas Negara
-Jalur KA baru Samarinda-Sangata-Tanjung Redep-Batas Negara

Pembangunan Kereta Api Akses Bandara:
-Bandara Syamsuddin Noor

Koridor Pulau Sulawesi
Pembangunan Kereta Api Antar Kota/Trans Sulawesi:
-Jalur KA baru Manado-Bitung
-Jalur KA baru Bitung-Gorontalo-Isimu
-Jalur KA baru Pare Pare-Mamuju
-Jalur KA baru Makassar-Pare Pare
-Jalur KA baru Makassar-Sungguhminasa-Takalar-Bulukumba-Watampone
-Jalur KA baru Mamuju-Palu-Isimu

Pembangunan Kereta Api Perkotaan:
-Perkotaan Makassar dan sekitarnya
-Perkotaan Manado

Pembangunan Kereta Api Akses Bandara/Pelabuhan:
-Bandara Sultan Hasanuddin
-Pelabuhan Garonggong, Pelabuhan New Makassar
-Pelabuhan Bitung

Koridor Pulau Papua
Pembangunan Jalur KA baru di Papua baru direncanakan satu, yaitu untuk jalur Sorong-Manokwari.


Novi Setuningsih/EPR


KOMENTAR
March 26, 2015

Kodam Iskandar Muda Telusuri Motif dan Pelaku Pembunuhan 2 Anggota TNI

Selasa, 24/03/2015 15:34 WIB

2 Anggota Kodim Tewas Ditembak

Agus Setyadi – detikNews

Banda Aceh – Dua anggota TNI yang bertugas di Kodim 0103/Aceh Utara ditemukan tewas ditembak sekelompok orang. Keduanya diculik oleh kelompok bersenjata yang diperkirakan berjumlah 15 orang saat pulang dari rumah kepala Mukim di Desa Alumbang, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Apa motifnya?

Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, mengatakan, hingga kini TNI belum mengetahui motif penculikan terhadap dua anggota Kodim 0103/Aceh Utara. Kedua anggota yang bertugas di unit intelijen Kodim itu diculik saat pulang bertamu dari rumah kepala mukim.

“Motif pelaku yang saya tahu dia (pelaku) adalah rakyat. Motifnya mungkin saya bisa menjajaki nanti dan pelaku dari kelompok siapa dan sebagainya mungkin informasi dari polisi,” kata Pangdam kepada wartawan, saat menggelar konferensi pers di Media Center Kodam Iskandar Muda, Selasa (24/3/2015).

Dalam beberapa bulan terakhir, di kawasan Aceh Utara memang sering terjadi penculikan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata. Sehari sebelum dua anggota Kodim diculik, Panglima Muda Komite Peralihan Aceh (KPA) Pase, Mahmudsyah juga diculik oleh sekelompok orang yang menggunakan senjata laras panjang.

Kasus lagi itu belum terungkap, pada Senin (23/3/2015) dua anggota Kodim oleh sekelompok orang bersenjata yang diperkirakan berjumlah 15 orang. Kedua prajurit TNI ini ditemukan tewas dengan luka tembak di waduk yang berada di Desa Batee Pila, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Namun hingga kini belum diketahui apakah penculikan tersebut saling berkaitan atau tidak. Pangdam yang ditanya wartawan apakah motifnya kriminal murni atau politik mengaku belum mengetahui motifnya.

“Kasus ini kita serahkan pada hukum,” ungkapnya.