Tiongkok Nomor Satu Kalahkan AS, Jokowi Hendak Belajar Apa dan Apakah Bisa?


Hmm belajar Nothing.. Sudah jelas kok. China kuat karena LANDASAN INDUSTRIALISASINYA KUAT. Awal industrialisasi mereka adalah memperkuat industri dasar ( bandingkan dengan Indo.. kilang kagak ada yang benar, industri baja hanya Krakatau Steel,(yang produksinya dari tahun 80an sampai sekarang segitu gitu aja) dan kedua adalah Pendidikan.. Ilmu PENGETAHUAN ALAM dan ILMU PASTI  diberikan dari sekolah daasar..( coba bandingin sama Indo  YANG ADA PENDIDIKAN AGAMA SAMPAI SMA walhasil sudah tua doyan korup atau jadi teroris ampun !) KETIGA Adalah PENEGAKAN HUKUM keras.. lah urusan KAPOLRI dan KPK saja belum beres…belum lagi Pengadilan Indonesia punya koleksi  HAKIM macam si SARPIN.. Cilaka 15 deh negeri tercinta ini..

Apa yang bisa dipelajari dari Tiongkok untuk mempercepat pembangunan di Indonesia? Begitulah pertanyaan yang mengemuka ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Tiongkok pekan lalu untuk menjalin kerja sama dan menarik investor dari negara tersebut.

Presiden Joko Widodo  berbicara pada Forum Kerja Sama Ekonomi  Indonesia-Tiongkok, Jumat (27/3) di Beijing, Tiongkok.
REUTERS/FENG LI/POOLPresiden Joko Widodo berbicara pada Forum Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Tiongkok, Jumat (27/3) di Beijing, Tiongkok.

Dari data yang digelar harian Kompas, tiap tahun defisit perdagangan dengan Tiongkok selalu bertambah besar. Neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok tahun 2010 sebesar -5,6 juta dollar AS, sedangkan pada 2014 meningkat hampir tiga kali lipat menjadi -14 juta dollar AS. Kita lebih banyak menyetor ke Tiongkok bahan-bahan mentah karet, sawit, dan kakao. Sementara Tiongkok memasukkan mesin dan berbagai peralatan listrik ke negara kita.

Di depan pemerintah dan pengusaha Tiongkok, Jokowi menjelaskan berbagai proyek kerja sama infrastruktur, mulai dari kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, jalan tol, pelabuhan, tol laut, bandara, rel kereta api, hingga pembangkit tenaga listrik.

Kebangkitan ekonomi Tiongkok memang menakjubkan. Rakyatnya menikmati kue pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, berada di angka 7-10 persen per tahun. Menurut Bank Dunia, perekonomian Tiongkok dalam posisi mengejar Amerika Serikat untuk menjadi nomor satu. Tahun 2005, produk domestik bruto (PDB) Tiongkok hanya 43,1 persen dari total PDB Amerika Serikat. Enam tahun kemudian, tahun 2011, jumlahnya naik dua kali lipat menjadi 86,9 persen. PDB Tiongkok tahun itu mencapai 13,5 triliun dollar AS, sedangkan Amerika Serikat 15,5 triliun.

Bank Dunia tahun 2012 (lembaga internasional lain memprediksi 2020) lantas meramalkan, pada tahun 2016 nanti, PDB Tiongkok akan melampaui Amerika Serikat. Namun, pendapatan per kapitanya masih selisih jauh. Tahun itu, pendapatan per kapita Tiongkok 10.000 dollar AS per tahun, sementara Amerika Serikat sudah 49.800 dollar AS.

Prediksi Bank Dunia dan lembaga internasional lain tentang perekonomian Tiongkok meleset. Tak usah menunggu sampai 2020, pada awal 2015, kedigdayaan Amerika Serikat sebagai pemimpin ekonomi dunia nomor satu runtuh.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), pada akhir Desember lalu, PDB Tiongkok mencapai 17,6 triliun dollar AS, melampaui Amerika Serikat yang 17,4 triliun dollar AS. Analisis Josep E Stiglitz dalam Vanity Fair edisi Januari 2015 berjudul “The Chinese Century”, antara lain, mengatakan, Tiongkok mengambil alih posisi nomor satu dari Amerika Serikat tanpa gembar-gembor dan predikat itu akan sulit diambil alih lagi oleh Amerika Serikat. Bahkan, mungkin akan selamanya Tiongkok menjadi nomor satu dunia.

Pemerintahan Jokowi tentu saja melihat dengan jelas perubahan konstelasi perekonomian dunia ini. Apakah Tiongkok mengalahkan Amerika Serikat atau tidak mungkin tidak begitu penting bagi Jokowi. Ini karena dominasi Tiongkok di negara kita sudah lama dirasakan, jauh sebelum mereka mengalahkan Amerika Serikat. Bukankah sulit sekali kita mencari barang yang bukan buatan Tiongkok (made in China) di pasar tradisional sampai mal mewah? Harapan pemerintah dan kita semua, dengan pendekatan kepada Tiongkok, negara kita tidak hanya dijadikan target pemasaran.

content
,

Mungkin Tiongkok tidak suka gembar-gembor, tetapi sangat jelas mereka mempunyai peta jalan untuk menjadi pemimpin nomor satu. Mereka percaya bahwa jalan mereka yang benar bukan jalan demokrasi ala Amerika Serikat. Mereka dengan percaya diri mempromosikan keberhasilan mereka ke negara-negara lain. Hal itu terbukti ketika harian Kompas mendapat undangan untuk mengunjungi Tiongkok tiga tahun lalu melalui koran pemerintah, People’s Daily.

Bersiap naik kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI
Suasana di gerbong kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Tiap tahun, Pemerintah Tiongkok secara rutin mengundang sepuluh wartawan di kawasan Asia Tenggara plus negara-negara Asia lain (Korea, Jepang, dan India) untuk mengamati kemajuan ekonomi negara tersebut secara langsung.

Selain diminta untuk membuat presentasi jurnalistik dan berdiskusi dengan editor-editor Tiongkok, kami sebagai tamu juga diajak keliling menikmati pameran kemajuan negara tersebut. Pembangunan infrastruktur negara tersebut memang luar biasa. Jalan yang mulus serta lebar terus dibangun. Rel kereta api, pelabuhan, dan bandara kini sudah menjadi modern.

Salah satu yang luar biasa adalah bagaimana mereka mampu membuat kereta cepat yang tak kalah dengan kereta TGV Perancis ataupun Shinkansen Jepang. Kereta api cepat yang kami tumpangi dari Beijing ke Guangdong mampu mencapai kecepatan 302 kilometer per jam dan dengan bangganya mereka menampilkan kecepatan itu di monitor di gerbong kereta.

Penumpang di dalam gerbong kereta api cepat Tiongkok.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI
Stasiun kereta api Beijing yang bersih dan berkesan modern.
KOMPAS/BAMBANG SIGAP SUMANTRI

Jalan yang ditempuh Tiongkok memang unik. Keberhasilan pembangunan ekonomi mereka justru ditopang oleh ideologi komunis dan hanya memberi ruang kecil terhadap gagasan demokrasi. Negara berkuasa penuh mengendalikan media dan kebebasan sangat dibatasi. Hal ini berbeda dengan Amerika Serikat, juga Indonesia, yang kini dikenal sebagai negara yang sangat demokratis.

Soal pembebasan lahan untuk infrastruktur, misalnya, dengan kekuasaan atas nama negara, Tiongkok lebih mudah menjalankannya. Dengan bekal dan landasan politik seperti itu, Pemerintah Tiongkok juga bisa bertindak lebih tegas. Untuk negara kita, pasti perlu waktu dan tenaga yang jauh lebih banyak untuk bisa berhasil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: