Wisata Lokal, Mahal dan Kurang Infrastruktur Memadai


Setuju !  yang paling penting adalah masalah kebersihan di lokasi dan juga infrastruktur pendukungnya (WC dll) selain INFORMASI mengenai objek wisata juga sangat minim.. Bandingkan dengan negara yang sudah maju (mungkin negara tetangga spt Thailand) informasi untuk turis lokal dan internasional tersedia dengan mudah baik di hotel, restoran dan tiap sudut di pusat kota.. Nah Indonesia daerah yang paling yahud infratrukturnya saja seperti Jogjakarta dan Bali, masih banyak sekali kekurangan.

Ada kebanggaan tersendiri bagi sebagian wisatawan lokal saat mampu mengunjungi kawasan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat. Kebanggaan itu bahkan melebihi kemampuan mereka saat mengunjungi sejumlah negara Asia, bahkan Eropa sekalipun. Mengunjungi kabupaten kepulauan di kawasan timur Indonesia itu menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Keelokan Pulau Wayag, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menjadi primadona bagi turis petualang yang ingin menikmati pemandangan indah dari ketinggian sekitar 150 meter dari pantai dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Wayag dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Waisai menggunakan kapal cepat.
KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIAKeelokan Pulau Wayag, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menjadi primadona bagi turis petualang yang ingin menikmati pemandangan indah dari ketinggian sekitar 150 meter dari pantai dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Wayag dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Waisai menggunakan kapal cepat.

Mengunjungi Raja Ampat memang menjadi salah satu dambaan penyuka perjalanan. Raja Ampat memiliki keindahan bawah laut menawan. Terumbu karangnya menjadi salah satu yang terindah dan terbaik di dunia. Aneka jenis ikan yang hidup di perairan itu pun paling beragam. Gugusan pulau-pulaunya pun mempesona, dengan Wayag dan Painemo, yang menjadi ikon wisata kepulauan itu.

Wamena di Provinsi Papua juga memiliki keindahan menawan. Terletak di kawasan tengah pulau, Wamena pun menjadi impian untuk dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Keindahan alam Wamena di Lembah Baliem yang dikelilingi Pegunungan Jayawijaya mendorong wisawatan untuk datang. Di kawasan ini pula terdapat lokasi penyimpanan mumi Wim Motok Mabel di Kampung Wisata Sompaima.

Raja Ampat dan Wamena hanyalah dua di antara sekian banyak tujuan wisata idaman, baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Di Nusantara, Zamrud Khatulistiwa, tak terhitung banyaknya tujuan wisata yang diidamkan warganya untuk dikunjungi. Sebut saja keindahan laut Bunaken di Sulawesi Utara, Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, Danau Toba di Sumatera Utara, Toraja di Sulawesi Selatan, serta tentu saja Pulau Bali.

Mahal

Namun, keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu bagi sebagian besar warga yang menyukai perjalanan harus dipendam dalam-dalam. Penyebabnya, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit. Dari sisi jarak, perjalanan ke tempat-tempat menawan itu pun terbilang jauh.

Sekadar contoh, warga Jakarta yang hendak berlibur ke Raja Ampat harus terbang langsung selama 5,5 jam. Mereka pun harus mengeluarkan biaya pesawat yang mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan dengan ke Singapura atau Bangkok. Untuk ke Raja Ampat, wisatawan harus terlebih dahulu terbang ke Sorong. Selanjutnya, dari Sorong perjalanan dilanjutkan ke Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, dengan menggunakan perahu motor.

Biaya pesawat termurah dari Jakarta dengan tujuan Sorong, untuk penerbangan tanggal 2 April 2015 sebesar Rp 1.948.600. Pada hari yang sama, tiket paling murah ke Bangkok Rp 1.436.366. Ke Singapura pada hari yang sama pula, tiket termurah cuma Rp 492.500. Biaya perjalanan ke Singapura itu pun lebih murah dibandingan dengan tiket termurah ke Bali pada hari itu, yakni Rp 642.400.

Dari Sorong ke Raja Ampat, wisatawan harus mengeluarkan biaya lagi. Biaya paling murah adalah menggunakan feri dari Sorong, Papua Barat, ke Waisai dengan biaya Rp 100.000-Rp 250.000 per orang. Ada pula penerbangan perintis dari Sorong ke Waisai dan sebaliknya. Biaya lebih mahal lagi harus dikeluarkan jika wisatawan ingin menikmati keindahan pulau-pulau dan keindahan bawah laut Raja Ampat. Biaya ke Wayag, gugusan pulau menawan yang menjadi ikon wisata Raja Ampat, pun tinggi. Penyewa perahu motor cepat di Waisai rata-rata mematok biaya Rp 20 juta untuk mengunjungi Wayag dan beberapa pulau lain. Perjalanan ke Wayag sekitar empat jam.

Sementara ke Pianemo, yang disebut pula sebagai Wayag Kecil, dibutuhkan waktu perjalanan dan biaya separuhnya. Berjuta-juta rupiah lagi harus dikeluarkan untuk menginap di resor-resor di sejumlah pulau di kawasan Raja Ampat.

Suku Dani melakukan atraksi budaya perang-perangan dalam pembukaan Festival Lembah Baliem di Distrik Usilimo, Jayawijaya, Papua, beberapa waktu lalu. Kegiatan tahunan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya ini untuk mengapresiasi tradisi suku Dani yang bermukim di Lembah Baliem.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Beberapa komodo ketika diberi makan oleh pengelola Taman Nasional Komodo, di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA

Mahalnya biaya wisata ke Raja Ampat adalah salah satu contoh tidak murahnya biaya perjalanan wisata di Indonesia. Mahalnya biaya pun menggambarkan betapa luasnya Indonesia, dengan sebaran lokasi wisata yang teramat banyak. Penyebab lainnya adalah terbatasnya infrastruktur. Mahalnya biaya sewa perahu motor cepat untuk menuju lokasi wisata di Raja Ampat, misalnya, disebabkan mahalnya bahan bakar minyak. Satu liter premium misalnya sekitar Rp 30.000. Belum lagi ketersediaannya yang tidak menentu.

Demikian pula halnya jika wisatawan Jakarta hendak menikmati keindahan Toraja di Sulawesi Selatan. Selain biaya tiket Jakarta-Makassar yang pasti lebih mahal daripada ke Singapura, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Makassar ke Toraja atau bus antarkota selama tujuh jam.

Akses terbatas

Sejumlah kalangan membenarkan biaya berwisata di dalam negeri mahal. Penyebab utamanya adalah akses yang terbatas sehingga biaya transportasi menjadi mahal. Namun, untuk biaya yang lain, mereka yakin Indonesia masih kompetitif.

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, masalah ini muncul karena konektivitas yang minim sehingga ongkos menjadi mahal. Hal itu menjadi pekerjaan rumah untuk diperbaiki meskipun semuanya tak bisa dipukul rata. “Apalagi, untuk biaya hotel, pengeluaran selama berwisata, dan bahkan untuk makanan serta suvenir, kita masih kompetitif,” kata Hariyadi.

Saat ini, PHRI tengah mengupayakan agar akses penerbangan bisa murah. Salah satunya adalah menggabungkan harga penerbangan dengan hotel, seperti di beberapa negara, sehingga harganya bisa lebih menarik bagi calon pelancong.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar mengakui ada persepsi di masyarakat Indonesia, wisata dalam negeri lebih mahal dibandingkan dengan wisata luar negeri. Namun, persepsi ini tumbuh karena membandingkan Malaysia dan Singapura sebagai luar negeri, dengan Raja Ampat.

“Tingginya minat masyarakat ke luar negeri karena mereka mendapatkan suasana, iklim, dan pemandangan yang berbeda dengan Indonesia. Sementara kalau wisata domestik, iklim dan suasana yang mereka rasakan tidak berbeda dengan tempat asal mereka,” tutur Asnawi.

Data Asita tahun 2014 menunjukkan, perjalanan wisata ke luar negeri 15 juta orang sepanjang tahun 2014. Adapun perjalanan dalam negeri hanya 9 juta orang. Selain itu, harga tiket pesawat ke luar negeri juga lebih murah daripada tiket domestik. Menurut Asnawi, banyak tiket pesawat yang murah untuk ke Singapura atau Malaysia karena maskapai yang menyediakan penerbangan itu lebih banyak dibandingkan dengan penerbangan domestik. Sementara maskapai yang menyediakan penerbangan domestik sangat terbatas sehingga harganya mahal.

Upaya lain untuk mendongkrak pertumbuhan pariwisata Indonesia adalah bebas visa bagi wisatawan mancanegara, dari sebelumnya 15 negara menjadi 45 negara. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan, pembebasan visa 30 negara baru itu akan diterbitkan dalam peraturan presiden dan diharapkan berlaku mulai April 2015. Pemerintah juga sudah menaikkan anggaran promosi pariwisata dari Rp 300 miliar pada tahun lalu menjadi Rp 1,2 triliun pada 2015.

Segala upaya pembenahan itu bertujuan lebih menghidupkan sektor pariwisata. Tahun ini, target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia adalah 10 juta orang atau lebih banyak daripada kunjungan tahun 2014 yang sebanyak 9,3 juta orang.

Namun, sebelum pembenahan itu dilakukan, pembenahan infrastruktur harus terus dilakukan. Kenyamanan dan keamanan berwisata tetap harus diutamakan agar dunia pariwisata Tanah Air semakin berkembang dan menjadi lebih murah.

2 Comments to “Wisata Lokal, Mahal dan Kurang Infrastruktur Memadai”

  1. wah, sayang banget kalo wisata di negeri sendiri aja mahal.

  2. betul itu ,orang kita sendiri hanya bisa mendam dalam-dalam aja karna biaya dll yg mahal..
    yang bisa menikmati cuma org kaya aja 😀 ,coba ada ya kartu khusus buat yg kurang biaya biar dpet potongan gitu

    wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: