Mengapa Karya Sastra Indonesia Sulit Mendunia


tanpa sastra bangsa ini jadi “jongos ” seperti presidennya

Hiburan

Kamis, 30/04/2015 17:13
Reporter: Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia
Mengapa Karya Sastra Indonesia Sulit Mendunia Man Tiger merupakan salah satu buku Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing. (Dok. Verso Books)

Jakarta, CNN Indonesia — Coba masuk ke toko-toko buku besar di luar negeri, seperti Barnes and Noble di Singapura dan Inggris. Hampir tidak ada buku karya penulis Indonesia yang terpajang di raknya. Sementara penulis Asia lain, seperti Haruki Murakami, sudah hampir pasti selalu ada.

“Pram (Pramoedya Ananta Toer) pun sudah susah,” kata penulis Leila S. Chudori saat ditemui di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (30/4). Karya-karya Pram memang tergolong lawas. Tapi buku baru seperti Amba (Laksmi Pamuntjak), Larung dan Saman (Ayu Utami), Ronggeng Dukuh Paruk(Ahmad Tohari), atau Lelaki Harimau (Eka Kurniawan) pun tak banyak.

Menurut Leila dan Ayu, itu karena tidak banyak buku penulis Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing. John McGlynn, penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris untuk penerbit Lontar setuju akan hal itu. Selama 28 tahun bergabung dengan Lontar, ia mengamati hanya ada 200 buku Indonesia yang diterjemahkan.

“Kebanyakan dari Lontar. Tahun 2012, hanya 23 buku sastra yang diterjemahkan ke bahasa asing, 20 oleh Lontar,” katanya pada CNN Indonesia saat ditemui di Galeri Nasional.

Jumlah penerjemah pun tidak banyak. Yang bonafide hanya sekitar 10 orang. Hampir semuanya orang asing. Kalau pun ada orang Indonesia, harus native speaker. Tidak banyak orang yang berminat jadi penerjemah.

Bayarannya hanya sekitar Rp 5 sampai 10 juta per buku. Padahal satu buku bisa digarap berbulan-bulan, apalagi yang bagus. Namun, masalahnya bukan hanya soal jumlah penerjemah.

Penerbit juga banyak yang enggan. Sebab, kata McGlynn, ia jadi tidak dapat apa-apa. “Dari harga jual buku, 60 persen masuk ke toko dan distributor. Ongkos produksi biasanya kira-kira 30 persen. Penerbitan dapat maksimal 10 persen. Kalau diterjemahkan ke bahasa asing, yang 10 persen itu hilang,” katanya.

Penerbit di Indonesia jadi tidak dapat apa-apa dari buku yang diterjemahkan. Karena itu, penerjemahan biasanya dilakukan hanya pada buku-buku yang diyakini penerbit bakal laku.

“Buku-bukunya sangat komersial, misalnya tentang hijab atau tren yang sesuai pasar. Kalau sastra, susah sekali,” ujar McGlynn.

Menerjemahkan karya sastra juga susah secara teknis. Penerjemah harus punya rasa bahasa. Jika tidak, buku akan dianggap remeh, padahal aslinya bagus. Saat Saman diterjemahkan ke bahasa Jerman, kata McGlynn, tidak banyak yang tertarik karena tata bahasanya jadi jelek.

Begitu pula Ronggeng Dukuh Paruk. “Hasil terjemahannya jelek sekali. Makanya setelah itu enggak ada yang mau,” kata McGlynn bercerita. Menerjemahkan yang bagus, butuh waktu panjang. Ia sendiri butuh 18 bulan untuk menerjemahkan Pulang karya Leila Chudori.

Frankfurt Book Fair 2015 merupakan salah satu gerbang bagi para penulis Indonesia untuk mencicipi angin segar luar negeri. Bukan hanya buku mereka dipampang di sana, apalagi Indonesia tahun ini menjadi tamu kehormatan.

Pada kesempatan itu, negara-negara lain juga bisa mengintip karya sastra Indonesia dan membeli hak untuk menerbitkannya. “Ini akan jual beli rights. Jadi butuh infrastruktur yang mendukung, bukan hanya untuk tahun ini saja. Harus institusional,” ujar Leila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: