Belitan utang group Bakrie


Yang paling parah adalah Bakrie Telecom, sebentar lagi tinggal papan nama.

Utang Masih Membelit Bakrieland

Sabtu, 6 Juni 2015 | 18:47 WIB
KONTAN/ Daniel PrabowoRasuna Epicentrum

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) masih terbelit utang besar. Salah satu utang yang harus dituntaskan segera adalah obligasi konversi atau equity linked bonds sebesar 155 juta dollar AS yang telah jatuh tempo pada 23 Maret 2015.

Tapi hingga kini manajemen ELTY dan pemegang obligasi (bond holders) belum mencapai kesepakatan atas restrukturisasi utang itu.

Direktur Utama ELTY Ambono Januarianto bilang, pekan depan ELTY bersama bond holders melanjutkan pembahasan soal skema restrukturisasi. “Kami terikat perjanjian untuk tidak menyebutkan skema yang dimaksud,” ujar dia, Jumat (5/6/2015).

Negosiasi masih tahap penjadwalan ulang obligasi. Namun Ambono optimistis skema restrukturisasi obligasi bisa disepakati sebelum tutup tahun ini. Sebelumnya, sempat ada wacana memakai aset tanah ELTY untuk membayar utang. “Tetapi itu tak lagi menjadi opsi. Karena menentukan valuasinya tidak mudah. Jadi kami cari opsi lain,” imbuh dia.

Beban keuangan yang tinggi cukup mengkhawatirkan kinerja ELTY. Misalnya, per 31 Maret 2015, beberapa entitas anak ELTY mengalami akumulasi kerugian bersih dan defisiensi modal.

Jumlah akumulasi rugi entitas anak itu mencapai Rp 2,03 triliun dan defisiensi modal Rp 1,56 triliun. Jika ditotal, pemenuhan likuiditas ELTY yang berhubungan dengan utang bank dalam jangka panjang dan utang obligasi mencapai Rp 4,4 triliun.

Dari seluruh utang itu, utang yang jatuh tempo pada kuartal I 2015 mencapai Rp 3,75 triliun. Di saat yang sama, kas internal ELTY cuma Rp 80,2 miliar atau 2,25 persen dari utang yang jatuh tempo itu.

Ambono bilang, ELTY masih bisa melunasi utang itu dari pendapatan operasional dari proyek yang sudah berjalan. ELTY juga membuka peluang refinancing dengan pinjaman bank.

Tapi Ambono tak mengungkapkan secara pasti jumlah pinjaman yang akan dicari. “Untuk divestasi aset belum terpikirkan. Namun, jumlah kas kami sebenarnya tak sekecil itu karena ada dari operasional,” kilahnya.

Ambono juga yakin, akan mendapatkan kesepakatan baru untuk melunasi utang obligasi konversinya. Tetap ekspansi Meski dililit utang, ELTY tetap mengupayakan ekspansi bisnis untuk memperbesar pendapatan.

Maklum, per kuartal I 2015, perseroan masih menderita kerugian Rp 42,39 miliar ketimbang periode sama tahun lalu Rp 68,5 miliar. Adapun pendapatannya menurun drastis dari Rp 630,95 miliar menjadi Rp 320,2 miliar.

Namun tahun ini, ELTY mematok bisa membukukan pendapatan Rp 1,5 triliun dan laba bersih Rp 200 miliar. ELTY menyiapkan belanja modal (capex) Rp 1,1 triliun tahun ini.

Sebagian capex akan dibiayai dari pinjaman bank. Belanja modal itu untuk mendanai apartemen dengan tiga tower di Surabaya. ELTY juga akan membangun Jungle Water Wendit di Malang.

ELTY pun melanjutkan pembangunan The Jungle Waterpark & Jungle World di Sidoarjo. Di sisi lain, ELTY masih memiliki piutang dari Surat Utang Konversi (SUK) dari PT Madison Global senilai Rp 1,65 triliun.

Madison menguasai aset berupa tanah dalam pengembangan (landbank) seluas 126,32 hektare di Karawang, Cirebon dan Sawangan, serta landbank seluas 250 ha di Kalianda. “Piutang ini akan jatuh tempo pada Desember tahun ini dan akan dikonversi ke saham,” ujar Ambono.

Kelak, ELTY akan membangun properti di atas lahan Madison. Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities menilai investor sudah telanjur pesimistis ELTY bisa membayar utangnya yang menumpuk.

Melihat struktur keuangan ELTY yang semakin tak sehat, Reza masih menyarankan untuk menghindari saham ELTY. Harga ELTY masih anteng di level gocap alias Rp 50 per saham. (Narita Indrastiti, Wuwun Nafsiah)

++++

Utang Menumpuk, Bakrie Telecom Terancam Tinggal Papan Nama

SENIN, 16 MARET 2015 | 06:22 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Anak usaha Grup Bakrie yang bergerak di sektor telekomunikasi, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL), mengurangi jumlah karyawan hingga 28 persen atau 400 dari 1.400 total karyawannya untuk menekan biaya operasional. Namun, analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee, menganggap langkah ini tak berdampak signifikan untuk memperkuat perusahaan. “Efisiensi untuk menurunkan beban operasional tetap tidak banyak membantu selama produktivitas rendah,” katanya kepada Tempo, Ahad malam, 15 Maret 2015.

Hans Kwee memprediksi BTEL akan sulit bertahan dalam industri telekomunikasi. Terlebih lagi jumlah utang BTEL dianggap melebihi kemampuan finansial perusahaan tersebut. “Restrukturisasi utang hanya langkah menunda, bukan menyembuhkan penyakit yang sebenarnya,” kata Hans Kwee. Menurut Hans, cara membayar utang sekaligus untuk memperkuat perusahaan adalah dengan merger atau akuisisi dengan perusahaan yang sangat kuat.

Sebabnya, kata Hans Kwee, produksi utama BTEL, yakni Esia, yang masih mengandalkan layanan suara harus segera bermigrasi ke layanan data yang membutuhkan investasi yang sangat besar. “Investasi dalam teknnologi ini tidak sanggup dikerjakan sendiri oleh BTEL lantaran butuh modal yang sangat besar. Apalagi teknologi CDMA (Code Division Multiple Acess) sudah lama ditinggalkan orang,” kata Hans Kwee.

BTEL mulai mencatatkan rugi bersih sejak 2011 dan mencatatkan ekuitas negatif sejak 2013. Pada 2011 perusahaan merugi Rp 782,7 miliar, kemudian utang kian melonjak menjadi Rp 3,13 triliun pada 2012 dan Rp 2,64 triliun pada 2013. Pada tiga bulan pertama 2014, laporan perusahaan keuangan sempat membukukan laba bersih Rp 210 miliar karena terdongkrak selisih kurs. Namun pada kuartal ketiga 2014, BTEL mencatatkna rugi bersih yang membengkak menjadi Rp 1,52 triliun.

Perusahaan juga mencatatkan defisiensi modal Rp 3,3 triliun pada triwulan III 2014. Jumlah ini melonjak dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1 triliun. Di sisi lain jumlah utang sudah melampaui nilai aset perusahaan. Nilai liabilitas BTEL per September 2014 Rp 10.940 triliun adalah 143 persen dibandingkan jumlah aset perusahaan yang hanya mencapai Rp 7,63 triliun. Mayoritas liabilitas perusahaan atau sebesar 98 persen merupakan utang jangka pendek.

Presiden Direktur Bakrie Telecom, Jastiro Abi, mengatakan pemecatan pegawai sebagai strategi perusahaan agar operasional menjadi lebih efektif. “Tapi jumlahnya tidak seberapa, tidak sampai 800 karyawan. Setengahnya dari itu juga nggak sampai,” kata dia. Menurut Jastiro, pengurangan jumlah karyawan merupakan bagian dari langkah efisiensi perusahaan agar operasional lebih efektif.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto, menambahkan, satu-satunya cara menyelamatkan BTEL dengan penyuntikan modal atau menjual BTEL. Meski BTEL memangkas jumlah karyawan dan berdasarkan persentase dinilai signifikan, tetap saja tidak akan membantu perusahaan untuk bertahan. “Opsi menjual juga sulit karena tidak ada satu investor pun yang mau masuk ke pasar telekomunikasi Indonesia yang sudah menjadi arena berdarah-darah,” kata David.

Esia yang menjadi produk utama BTEL diprediksi tidak akan sanggup bersaing sebab masih mengandallkan layanan pesan pendek (SMS) dan suara. Sementara itu, kemajuan teknologi membuat masyarakat lebih membutuhkan layanan data ketimbang suara atau pesan singkat. “Siapa sih memang yang masih betah SMS kalau ada fitur seperti wasap atau line yang lebih murah?” kata dia. Ia pesimistis ekuitas dan laba perusahaan akan terdongkrak tahun ini.

DINI PRAMITA | BC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: