Duh ! Sutiyoso Jadi Calon Kepala BIN, dan Panglima TNI dari TNI AD


Edan ! katrok abis , Nawacita jadi penjelmaan Orde Baru gini ?

RABU, 10 JUNI 2015 | 18:16 WIB

Sutiyoso Jadi Calon Kepala BIN, Ini Komentar Politikus PDIP

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Letjen (Purn) Sutiyoso. TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta – Pemilihan Sutiyoso sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) membuat heran Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat yang juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tubagus Hasanuddin.

Musababnya, menurut Hasanuddin, saat menjabat sebagai Panglima Kodam DKI Jakarta, Sutiyoso diduga sebagai dalang yang menggerakkan sekelompok orang untuk menyerang markas PDI pada 27 Juli 1996.

“Setahu saya, beliau itu dulu yang menyerbu kantor DPP PDI Perjuangan,” kata Hasanuddin di komplek parlemen Senayan, Rabu, 10 Juni 2015. “Saya tidak tahu apa pertimbangannya, saya harus tanyakan dulu.”

Presiden Joko Widodo menunjuk bekas Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sebagai calon tunggal Kepala BIN. Ketua DPR Setya Novanto mengatakan surat penunjukan Sutiyoso sudah diterima oleh pimpinan Dewan pada Selasa malam, 9 Juni 2015.

Hasanuddin pasrah terhadap kandidat pilihan Jokowi tersebut. “Saya tidak menyayangkan, ya sudah itu keputusan Presiden, mau apa lagi,” ujarnya. “Saya hanya mengatakan, apa kata kader PDI Perjuangan yang lain kalau Sutiyoso dipilih.”

Hasanuddin juga menilai Sutiyoso sudah terlalu tua untuk menggantikan Marciano Norman memimpin BIN. Menurut dia, tugas terberat Sutiyoso dalam memimpin BIN nanti adalah mengubah pola pikir tentang kerja intelijen agar menjadi lebih rapi dan tersembunyi dalam mempertahankan Tanah Air.

REZA ADITYA

++++++

Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 10 Juni 2015 00:07 WIB

Tunjuk KASAD Sebagai Panglima, Jokowi Tiru jejak Soeharto `Anak Emas kan` TNI AD

Jakarta, HanTer – Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti, menyesalkan karena Presiden Joko Widodo  mengesampingkan rotasi kepala staf untuk memimpin TNI setelah isu surat dari istana mengirim sinyal jika KASAD Gatot Nurmantyo menjadi calon tunggal calon Panglima TNI. Padahal berdasarkan pasal 13 ayat (4) UU TNI, Panglima TNI dipilih berdasarkan rotasi.

“Setelah Panglima TNI saat ini berasal dari TNI AD dan sebelunmnya dari TNI AL, maka giliran panglima TNI seyogyanya adalah dari TNI AU,” kata Poengky kepada Harian Terbit, Selasa (9/6/2015).

Poengky berpandangan rotasi ini tidak hanya memberikan keadilan, tetapi juga memberikan penghargaan kepada masing-masing angkatan, agar tidak terjadi penumpukan kekuatan di satu angkatan seperti yang terjadi pada masa Orde Baru, di mana pada waktu itu kekuatan TNI bertumpu pada Angkatan Darat.

Lebih lanjut Poengky melihat, dari isu penunjukan KASAD Gatot oleh Presiden Jokowi sebagai calon tunggal Panglima TNI, seakan-akan telah membuang kesempatan AL dan AU untuk mendapat perhatian Pemerintah.

“Padahal Indonesia adalah negara dengan wilayah laut dan udara yang lebih luas dari daratan, tetapi matra laut dan udara justru lebih kecil dari darat. Dan hal ini sudah menunjukkan paradigma Pemerintah masih kuno. Padahal ancaman terbesar terhadap negara kita justru di laut dan udara,” sesalnya.

Karena itu, Poengky menyatakan sangat disayangkan jika penunjukan Panglima TNI dari KASAD juga tanpa melibatkan peran pihak-pihak tertentu (PPATK, KPK dan Komnas HAM). Apalagi, Presiden Jokowi sudah menabrak tatanan rotasi pergantian panglima di internal TNI.

“Bisa menimbulkan kecemburuan antar angkatan. Berakibat tidak sehat. Presiden Jokowi kalau saya lihat sudah meniru jejak Presiden Soeharto menjadikan TNI AD sebagai ‘Anak Emas’ Pemerintah,” cetusnya.

Ditambahkan Poengky menyatakan bahwa dengan TNI AD kembali maju sebagai Panglima TNI selanjutnya, setidaknya fokus Presiden Jokowi menjadikan Indonesia poros maritim dunia akan menjadi slogan saja.

“Jika pilihannya lagi-lagi AD ya enggak nyambung dengan visi misi Jokowi. Serta reformasi TNI bakal mundur lagi,” tegas Poengky.
(Luki)

++++

Alasan Presiden Jokowi Ajukan Sutiyoso sebagai Kepala BIN

RABU, 10 JUNI 2015 | 13:37 WIB

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Sutiyoso ikuti sidang perdana di Pengadilan Negeri Semarang, Jateng, (21/10). Persidangan ini karena didakwa kasus dugaan pelanggaran kampanye di luar jadwal. ANTARA FOTO/R. Rekotomo

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengaku telah mempertimbangkan rekam jejak dan kompetensi sebelum menunjuk Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (KaBIN).

“Saya juga telah mengajukan pencalonan Sutiyoso sebagai KaBIN ini. Saya juga sudah melalui banyak pertimbangan dan memperhatikan baik rekam jejak maupun kompetensi dari Pak Sutiyoso,” kata Presiden Jokowi di kediamannya, di Jalan Kutai Utara, Sumber, Solo, Rabu, 10 Juni 2015.

Jokowi menjabarkan pertimbangannya mengajukan Sutiyoso sebagai Kepala BIN karena rekam jejaknya di dunia intelijen dan militer. Sutiyoso, kata Jokowi, dinilai berpengalaman dan memiliki kompetensi yang cukup dalam memimpin badan intelijen itu.

“Terutama di dunia intelijen dan militer saya berharap DPR RI memberikan pertimbangan atas usulan tersebut,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi mengharapkan DPR tidak menolak usulannya karena dia telah melalui banyak pertimbangan sebelum memutuskan memilih Sutiyoso. “Saya berharap tidak karena sudah melalui banyak pertimbangan,” kata Jokowi.

Jokowi menunjuk pria yang akrab disapa Bang Yos itu untuk memimpin BIN tidak lama setelah mengajukan Gatot Nurmantyo sebagai calon Panglima TNI.

ANTARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: