Pohon-pohon Kehidupan di Cidanau


Masih ada harapan ?

Sepuluh tahun lalu, Ahmad Bahrani (57), petani di Citaman, Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, kesulitan mengajak warga mendaftarkan lahan kebun mereka dalam kontrak imbal jasa lingkungan. Kini, tidak sedikit petani yang harus antre untuk jadi peserta.

Kelompok Tani  Karya Muda II di Desa Citaman, Ciomas, Kabupaten Serang, Banten,   menunjukkan lahan yang ditanami berbagai tanaman keras,  Mei lalu. Kelompok ini telah 10 tahun mengikuti program imbal jasa lingkungan yang dilakukan Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Cidanau.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTOKelompok Tani Karya Muda II di Desa Citaman, Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, menunjukkan lahan yang ditanami berbagai tanaman keras, Mei lalu. Kelompok ini telah 10 tahun mengikuti program imbal jasa lingkungan yang dilakukan Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Cidanau.

Dalam skema kontrak itu, petani dibayar Rp 1,2 juta per hektar untuk menjaga kerapatan vegetasi 500 tanaman per hektar di lahan mereka selama kontrak. Mereka dibayar karena kawasan hulu terjaga lingkungannya sehingga menjamin aliran air di Sungai Cidanau. Aliran itu memastikan Krakatau Tirta Industri (KTI), anak perusahaan BUMN PT Krakatau Steel, memenuhi kebutuhan air untuk kawasan industri di Cilegon.

Kontrak imbal jasa atau transaksi saling menguntungkan itu, 10 tahun lalu, dijembatani Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Cidanau (FKDC). Forum terdiri dari pemerintah daerah, LSM Rekonvasi Bhumi, dan pelaku usaha. Transaksi menjamin petani dapat insentif, sedangkan KTI terjamin stok airnya.

Dengan antusias, Bahrani, ayah empat anak, Kamis (28/5), mengantar Kompaske lahan kelompok taninya, Karya Muda II. Meniti jalan setapak melalui kandang domba, bagian dalam “hutan” begitu teduh. Tutupan pohon durian, petai, cengkeh, dan bambu memenuhi lahan. “Di sini dulu cuma ada 1-2 tanaman dengan semak duri. Kami tanami padi gogo yang dipanen setahun sekali,” ujarnya.

Saat itu, seusai musim tanam padi, sebagian besar laki-laki merantau ke kota, jadi kuli menanti panen. Kini, hampir setiap saat petani ada di desa.


KOMPAS/ICHWAN SUSANTO/KOMPAS NEWSPAPER

Bergantian, mereka memanen cengkeh, melinjo, petai, dan durian. Bahrani, yang memiliki 0,2 ha (2.000 meter persegi lahan), memetik 0,7 ton-1 ton buah melinjo seharga Rp 13.000 per kilogram. Melinjo dipanen tiga kali setahun menghasilkan Rp 7 juta sekali panen. Itu belum dari penjualan cengkeh atau daun melinjo yang dipanen setiap saat seharga Rp 5.000 per kg. Adapun petai berbuah tak kenal musim. Belum lagi panen durian yang bernilai tinggi.

Berkah paling penting, warga tak lagi susah air. Air dari Gunung Karang setiap hari lancar meski debitnya turun saat kemarau. “Dulu, seminggu tidak hujan kami susah air,” ujarnya.

Saat musim hujan, warga tak lagi takut terkena longsor dan banjir.

Namun, keberhasilan ini tidak diraih dengan mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk menjelaskan beragam manfaat ini kepada masyarakat.

Cagar Alam Rawa Danau Butuh DiperhatikanCagar Alam Rawa Danau di Serang, Banten memiliki luas 3.542,7 hektar yang 1.000 hektar diantaranya dalam kondisi kritis karena dirambah. Reservoir air yang memiliki ekosistem unik ini pun terancam oleh sedimentasi karena aliran air dari permukiman yang membawa sampah dan rusaknya tutupan vegetasi di hulu. Tampak pemandangan CA Rawa Danau dari Pos Peninjauan BKSDA Wilayah I Jawa Barat, Rabu (27/5) di Serang, Banten.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO
Menjaga tegakan Vegetasi CidanauAhmad Barani, Ketua Kelompok Tani Karya Muda II di Desa Citaman, Ciomas, Serang, Banten yang menjadi bagian dari daerah aliran sungai Cidanau, Kamis (28/5), menunjukkan nomor pada pohon yang dijaga tegakannya. Kelompoknya telah mengikuti program pembayaran jasa lingkungan atau imbal jasa lingkungan selama 10 tahun yang digelar Forum Komunikasi DAS Cidanau sebesar Rp1,2 juta- Rp 1,5 juta per hektar per tahun dengan kewajiban menjaga minimal 500 batang tegakan pohon per hektar. Upaya ini untuk menjaga kualitas dan kuantitas air pada Sungai Cidanau yang sebagian besar dimanfaatkan oleh sentra industri di Cilegon.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Adlani (44), Bendahara Kelompok Tani Karya Bakti, di Desa Ujung Tebu, Ciomas, misalnya, juga awalnya susah mengajak masyarakat. Ia sampai menjaminkan diri agar tetangganya mau bergabung karena kontrak IJL menguntungkan masyarakat. Anggota kelompok hanya dilarang menebang 500 pohon per hektar. Adapun hasil buah dan kebun nonkayu masih boleh dimanfaatkan.

Jika kontrak dilanggar satu anggota saja, perjanjian dibatalkan dan kelompok tak dibayar. Itu membuat anggota saling mengingatkan dan bergotong royong saat ada yang perlu dana. “Jika tanpa kontrak, setiap ada kebutuhan pasti tebang pohon. Mudah jadi duit,” kata Aldani.

Harapan dan kendala

Sekretaris Daerah Pemprov Banten Kurdi Matin, didampingi Mahdani dari Badan Lingkungan Hidup Banten, mengatakan, praktik IJL meningkatkan tutupan vegetasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau. Analisis citra satelit FKDC menunjukkan, tutupan vegetasi DAS Cidanau sebelum 2005 berkisar 20-30 persen. Kini, tutupannya 40-60 persen.

Jika DAS Cidanau gundul akan memperparah sedimentasi di Cagar Alam (CA) Rawa Danau, ekosistem unik sekaligus reservoir air alami. Air dari mata air di Gunung Karang, Aseupan, dan Parakasak melewati Rawa Danau sebelum dialirkan secara alami ke Sungai Cidanau.

“Sekitar 1.000 hektar dari 3.542,7 hektar luas CA Rawa Danau rusak karena perambahan,” kata Dede Rusdirman, Komandan Resor I Wilayah CA Rawa Danau dan CA Tukung Gede, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

Hampir berjalan 10 tahun, IJL kini diikuti 15 kelompok tani dengan luasan 520 ha dengan nilai kontrak Rp 4 miliar hingga 2019. “Ada sekitar 30 kelompok tani yang ingin kami ikut sertakan, tetapi ada keterbatasan dana,” kata NP Rahadian, Sekretaris FKDC dan pendiri LSM Rekonvasi Bhumi.

Ia menjelaskan, dari Rp 4 miliar nilai IJL, 88,75 persen dari Krakatau Tirta Industri (KTI). Sisanya dari Pemprov Banten (hibah Rp 300 juta) dan bantuan Asahimas Chemical (Rp 150 juta).

Demi meningkatkan besaran dana yang bakal memperluas keterlibatan jumlah kelompok tani, Rahadian berharap KTI memasukkan komponen IJL dalam komponen jual. Kini, IJL baru masuk biaya produksi.

Manajer Operasi KTI Raden Sugih Subagja mengatakan, sumber air satu-satunya KTI dari Sungai Cidanau. Tak ada sungai lain yang bisa memenuhi kebutuhan industri. Padahal, investasi di kawasan itu terus berkembang.

KTI merasakan manfaat IJL. “Debit air stabil, tidak turun tiba-tiba. Pada musim kemarau dan hujan tak terlalu jomplang,” kata Subagja. Namun, payung hukum IJL belum cukup kuat bagi KTI untuk menghimpun dana lebih besar dari perusahaan atau konsumen.

Jika anggota masyarakat yang lain masih ragu dengan IJL, tidak bagi Bahrani dan petani lain. Pohon-pohon di Cidanau nyata menghidupi mereka.

(J GALUH BIMANTARA/DWI BAYU RADIUS)

+++++++++++++++++++++++

Gawat, Tanpa Kiamat September pun Manusia Segera Punah!

MINGGU, 21 JUNI 2015 | 06:32 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Sebuah studi yang dilakukan tiga perguruan tinggi di Amerika Serikat menyebutkan bumi kini tengah memasuki fase kepunahan baru. Dan hewan bertulang belakang (vertebrates), bahkan termasuk manusia, bisa saja menjadi korban yang pertama memasuki kepunahan itu.

Dalam laporan, yang studinya dipimpin oleh Univesitas Stanford, Princeton, dan Berkeley itu, disebutkan bahwa hewan bertulang belakang menghilang 114 kali lebih cepat dari normal. Penemuan ini juga pernah dilaporkan Duke University tahun lalu.

Baca juga: Kiamat Segera Datang? Inilah Lima Skenario Dahsyat

Salah satu penulis studi baru tersebut mengatakan, “Sekarang ini kita memasuki tahap keenam kepunahan massal,” ujarnya. Kejadian serupa pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus menghilang alias punah.

Temuan mengejutkan itu muncul di tengah ketakutan banyak orang akan hancurnya bumi, bahkan disebut kiamat,  pada bulan September nanti akibat ditabrak oleh asteroid–spekulasi yang kemudian dibantah oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). (Baca juga: Heboh Kiamat September Tahun Ini NASA Ungkap Faktanya)

Kepunahan hewan dan manusia–diprediksi terjadi tiga generasi lagi–itu otomatis akan menghancurkan kehidupan di bumi. “Jika ini sampai terjadi, butuh jutaan tahun untuk kembali pulih dan beberapa spesies hewan akan kembali hilang dari yang ada saat ini,” kata pimpinan peneliti, Gerardo Ceballos.

Para ilmuwan mempelajari sejarah tingkat kepunahan hewan bertulang belakang melalui catatan-catatan fosil yang tersimpan. Para ilmuwan menemukan tingkat kepunahan baru-baru ini 100 kali lebih tinggi dibanding pada masa-masa ketika bumi tidak mengalami kepunahan massal.

Berita tentang Angeline:
Angeline Dibunuh: Kisah Darah, Kain Pel, Kayu dari Kamar M
Aneh, Margriet Minta Baju Agus Dikubur Bersama Angeline

Sejak 1990, laporan studi itu menyebutkan, lebih dari 400 hewan bertulang belakang telah menghilang atau punah. Para ilmuwan mengatakan, kerugian akibat kepunahan ini baru akan terlihat setelah 10 ribu tahun.

Riset, yang dipublikasikan juga dalam jurnal the Science Advances ini, menyebut penyebab kepunahan lantaran perubahan iklim, polusi, serta penggungulan atau kerusakan hutan (deforestation).

Profesor Paul Ehrlich dari Stanford University mengatakan, “Ada beberapa contoh-contoh spesies di muka bumi ini yang saat ini tengah berjalan menuju kematian,” ujarnya.

BBC | GRACE S GANDHI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: