Saatnya Indonesia Bangkit


Indonesia bisa bangkit kalau pemimpinnya tidak macam sang Presiden “katrok” Joko. janji kampanye Nawacita nya saja sudah tidak ditepati!
Pemberantasan korupsi memble yang ada KPK nya dibiarkan diobok obok..
Revolusi mental yg dicanangkan oleh Menko Puan kelihatannya lebih czocok untuk dirinya bersama keluarga PDIP saja..

Cetak | 28 Juni 2015 1178 dibaca 2 komentar

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Kecintaan dan kebanggaan terhadap seni tradisi Indonesia perlu ditanamkan sejak dini, seperti yang dilakukan abdi dalem Cermo Gundolo (67) dengan mengajarkan cara mendalang kepada Rizky Kuncoro Manik (6), cucu abdi dalem, di Keraton Yogyakarta, Kamis (25/6).
JAKARTA, KOMPAS Manusia Indonesia memiliki sejumlah kelemahan, seperti yang pernah diungkapkan Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat beberapa dekade silam. Namun, manusia Indonesia pun punya peluang untuk menjadi manusia andal dan kini saatnya untuk bangkit.

Demikian benang merah pandangan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada era Orde Baru; Ignas Kleden, sosiolog; Heddy Shri Ahimsa Putra dan PM Laksono, antropolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia; serta Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan.

Mereka berpandangan, sejumlah kelemahan mentalitas manusia Indonesia yang dulu disebut Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat masih ada hingga kini.

”Beberapa karakter yang masih bertahan adalah mengabaikan tanggung jawab, kurang percaya diri, dan suka menerabas aturan,” kata Heddy, Jumat (26/6), di Yogyakarta.

Sikap suka menerabas aturan mewujud dalam sikap pragmatis yang mementingkan diri sendiri. Sikap pragmatis dan ingin menang sendiri itu dengan mudah terlihat di jalan raya dalam bentuk pelanggaran aturan lalu lintas. Di dunia pendidikan, mental semacam itu terlihat dari adanya mahasiswa yang berupaya memanfaatkan joki dalam mengerjakan tugas akhir. Adapun di bidang politik, perilaku korup muncul karena adanya karakter pragmatis yang ingin mengeruk keuntungan secepatnya tanpa bekerja keras.

Kelemahan karakter lain adalah semangat primordialisme yang cenderung menguat, terutama sejak Reformasi 1998. Primordialisme muncul dalam bentuk mementingkan kepentingan kelompok di atas kepentingan bangsa atau bahkan di atas kebenaran. ”Sekarang nasionalisme kita menyurut, sementara semangat primordialisme makin menonjol,” ujar Heddy.

Laksono mencermati, banyak orang yang bersikap nekat dan tak segan merugikan orang lain demi kepentingannya sendiri.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pekerjaan fisik megaproyek sistem transportasi cepat massal (MRT) di Patung Pemuda, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (25/6). Proyek pembangunan MRT memasuki fase konstruksi jalur bawah tanah dari Senayan hingga Bundaran Hotel Indonesia. Lokasi pengeboran pertama di depan Patung Pemuda, Senayan, yang direncanakan dilakukan pada 17 Agustus 2015. Dibutuhkan 4 mesin bor berdiameter 6,7 meter untuk membangun jalur dari Senayan hingga Bundaran HI. Ada enam stasiun yang akan dibangun di bawah tanah, yaitu di Bundaran HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, dan Bundaran Senayan.
”Kita ada dalam situasi seperti sedang rayahan (berebut). Dalam situasi seperti itu, orang yang lemah akan kalah,” katanya.

Kelemahan karakter itu juga dikombinasikan dengan sikap kepura-puraan. Mereka yang suka melanggar aturan ternyata suka berpura-pura menaati aturan. ”Ada hipokrisi, yakni orang suka omong yang indah-indah, tetapi perilakunya buruk. Celakanya, hal itu dianggap baik-baik saja sehingga situasi ini menjadi masif,” ujar Laksono.

Sejumlah kelemahan dalam karakter atau mentalitas itu bisa menghambat kemajuan bangsa. Kelemahan-kelemahan itu harus dikikis agar Indonesia mampu menghadapi tantangan masa depan yang kian berat.

Meski begitu, Heddy meyakini, masyarakat Indonesia juga memiliki kelebihan dalam karakter, misalnya bisa menerima perbedaan dan sikap spiritual yang relatif baik.

Dengan strategi yang tepat, keunggulan karakter itu bisa dimaksimalkan, sementara sisi lemahnya bisa diminimalkan.

”Untuk melakukan hal itu, saya tidak percaya pada lembaga pendidikan formal. Justru saya berharap pada media massa untuk menjalankan fungsi pendidikan agar kelemahan karakter itu bisa dikikis,” ujarnya.

Manusia terdidik

Menurut Daoed Joesoef, manusia terdidik menjadi tantangan pembangunan manusia Indonesia ke depan. Manusia terdidik bukan manusia terpelajar, melainkan manusia yang mampu mengetahui dan menempatkan diri dalam lingkup budaya dan lingkungannya dengan baik.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan sekarang ini lebih banyak menjalankan fungsi pengajaran, bukan fungsi pendidikan anak bangsa. Pantas saja apabila kemudian stereotip secara negatif terus melekat pada diri manusia Indonesia, seperti pernah diulas Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat.

”Pendidikan tidak sama dengan pengajaran,” ujar Daoed.

Manusia harus dilihat sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat, dan anggota suatu bangsa. Dari posisi tertentu, manusia Indonesia bisa dilihat banyak sisi negatifnya, tetapi dengan begitu justru itu menjadi tantangan bangsa ini untuk menjadikan manusianya sebagai well educated (terdidik baik), bukan terpelajar.

Renaisans

Ignas Kleden meyakini, renaisans atau kebangkitan manusia Indonesia memiliki peluang. Manusia Indonesia memiliki peluang untuk memperbaiki karakter menjadi manusia andal.

Andaikan manusia Indonesia mampu menjalani kebangkitan kembali, hal ini tidak hanya berdampak bagi Indonesia, tetapi juga sampai wilayah Asia Tenggara.

Rhenald Kasali mengatakan, sifat manusia Indonesia yang positif juga adalah gemar menolong. Jika ada kesulitan, orang di sekitar cepat menolong.

Orang Indonesia juga diakui memiliki jiwa seni yang tinggi, dan tidak melihat hal ini di banyak negara lain. Ia mencontohkan kekayaan batik atau tenun di sejumlah daerah.

Bisa diajak berubah

Ignasius Jonan, yang sebelumnya menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), merasakan 42.000 karyawan PT KAI, baik organik maupun non- organik, dan 300 juta penumpang kereta api bisa diajak berubah, tertib, dan bekerja efisien. Ia yakin orang Indonesia mempunyai sisi positif yang besar dan kuat.

Ia mencontohkan, ketika hendak diterapkan tiket elektronik di kereta komuter Ibu Kota, banyak pihak yang meragukan hal itu akan efektif. Ada anggapan, masyarakat belum siap dan akan gagap terhadap teknologi. Kenyataannya, sistem ini berhasil diterapkan sehingga perjalanan warga lebih efisien dan tertib.

Dari pengalaman selama ini, ia melihat, ciri orang Indonesia adalah sangat memerlukan panutan. Orang Indonesia akan baik kalau panutannya baik.

Ia juga mengatakan, ciri orang Indonesia adalah tidak mudah menyerah. Indonesia diterpa krisis ekonomi besar pada 1998 dan 2008. Orang berpikir bangsa Indonesia akan morat-marit dan berantakan, ternyata dalam waktu tiga tahun sudah bisa membaik. Pemulihan ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan Yunani dan Spanyol. (NAW/MAR/HRS)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Juni 2015, di halaman 1 dengan judul “Saatnya Indonesia Bangkit”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: