Gudang Kapas Segera Disiapkan


Segera Disiapkan

JAKARTA, KOMPAS — Peningkatan daya saing produk industri di Tanah Air membutuhkan ketersediaan bahan baku dalam jumlah, harga, dan kualitas terjamin. Terkait hal tersebut, saat ini ada upaya memfasilitasi pendirian basis logistik kapas, pusat bahan baku kulit, serta mendorong investasi industri zat warna dan bahan penolong.

“Ini adalah bagian dari upaya menumbuhkan dan mengembangkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki dan penyamakan kulit,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin pada pembukaan pameran Gelar Sepatu, Kulit, dan Fesyen Tahun 2015 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (1/7).

Saleh menuturkan, ketiga industri tersebut selama ini berperan strategis dalam perolehan devisa ekspor nonmigas sebesar 17,32 miliar dollar Amerika Serikat.

Ketiga industri itu menyerap pekerja 15,1 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur serta menyumbang 1,89 persen terhadap produk domestik bruto nasional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan, pembahasan lintas kementerian saat ini sedang dilakukan untuk menghindari masalah importasi.

“Khusus untuk bahan baku kapas, nanti (gudang) akan ditaruh di Cikarang Dry Port. Di situ ada bea cukai, instansi pajak, satu atap. Penyelesaian di dalam satu lokasi. Itu bisa membuat bahan baku industri dalam negeri kompetitif,” kata Harjanto.

Menurut Harjanto, selama ini, pelaku industri TPT di Indonesia mengambil bahan baku kapas dari gudang di Malaysia sehingga harga lebih mahal.

Apabila gudang tersebut dapat dipindah ke Indonesia, pengusaha kecil pun bisa mengambil dalam jumlah tidak terlalu banyak. “Jadi gudang tersebut melayani yang kecil-kecil juga,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy mengatakan, pihaknya menunggu peraturan terkait gudang mandiri bahan baku kapas itu. “Karena ini adalah konsep baru sehingga harus dikaji agar tidak bertentangan dengan aturan,” katanya.

Di Malaysia

Ernovian menuturkan, selama ini banyak kapas dari negara produsen yang disimpan di Malaysia dan Vietnam. Hal ini karena ada aturan bahwa barang yang masuk ke gudang di sana tidak diberlakukan peraturan impor. Peraturan impor, terkait pajak dan bea masuk, baru berlaku begitu barang keluar gudang.

“Kami namakan ini gudang mandiri. Ini konsep baru, rencananya di Cikarang Dry Port. Apabila berjalan, hal ini berpotensi menciptakan efisiensi,” ujar Ernovian.

Selama ini, sejak dekade 1980-an, pengiriman kapas dari AS harus melalui Malaysia dan baru ke Indonesia. Apabila ada gudang di Indonesia, kata Ernovian, kapas dari AS dan negara produsen lain bisa langsung ke Indonesia.

“Jadi biaya pasti akan lebih murah,” kata Ernovian.

Menurut Ernovian, selama ini, upaya peningkatan daya saing industri TPT sudah dicoba, antara lain dengan memperjuangkan tarif listrik kompetitif. Upaya tersebut belum berhasil sehingga diusahakan cara lain dengan melakukan efisiensi dari sisi bahan baku melalui konsep gudang mandiri kapas tersebut.

Sebelumnya diberitakan PT Cikarang Inland Port, operator Cikarang Dry Port, berinvestasi sebesar Rp 150 miliar untuk membangun gudang berikat mandiri khusus bagi komoditas kapas.

Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan tahap pertama dari gudang berikat mandiri khusus kapas. (CAS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: