Krisis Energi di Depan Mata


KETAHANAN ENERGI

Bisa dipastikan bahwa keterbatasan energi, pangan, dan air di masa depan bisa menjadi pemicu bentrok dan konflik antar-kelompok masyarakat. Bahkan, bukan mustahil pecah perang antarnegara akibat kelangkaan energi, pangan, dan air. Karena itu, sejak sekarang, semua pihak di negeri ini mutlak menjaga ketahanan energi, pangan, dan air.

Bagi Indonesia, krisis energi sangat nyata. Dalam produksi minyak dan gas, Indonesia pernah bergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sejak 1962. Namun, sejak 2009, Indonesia mundur dari OPEC karena menjadi negara pengimpor minyak. Kebutuhan minyak dalam negeri yang meningkat tajam tak bisa lagi dipenuhi produksi migas dalam negeri yang terus merosot.

Produksi minyak dan gas Indonesia yang sempat 1,6 juta barrel per hari, kini hanya 800.000 barrel per hari. Di sisi lain, kebutuhan migas dan produk migas di dalam negeri yang kian besar menuntut perlunya impor migas dan produk migas sekitar 800.000 barrel per hari. Krisis energi yang sangat kasatmata sehingga memerlukan penanganan serius segera.

Pertumbuhan ekonomi yang positif dan meningkatnya masyarakat kelas menengah di negeri ini memiliki konsekuensi peningkatan konsumsi energi di dalam negeri. Menyerukan penghematan bukan langkah efektif. Menaikkan harga bahan bakar minyak bisa menekan konsumsi dan menyehatkan anggaran negara. Namun, di sisi lain, langkah ini akan mendorong inflasi dan menggerus kesejahteraan rakyat.

Mendorong energi baru dan terbarukan, seperti panas bumi, bahan bakar berbasis minyak nabati, angin, dan sinar matahari, menjadi pilihan. Sekalipun masih mahal dalam investasi, kehadiran energi alternatif bisa menekan jumlah minyak dan gas yang harus diimpor. Krisis energi sedikit teratasi.

Namun, karena penggunaan energi migas sudah demikian luas dan masif, meningkatkan produksi migas di dalam negeri menjadi pilihan segera. Produksi migas di dalam negeri yang terus merosot antara lain karena kegiatan eksplorasi migas yang terus berkurang. Tidak ditemukan lagi lapangan migas baru, sementara lapangan migas yang ada semakin merosot produksinya.

Indonesia disinyalir masih memiliki cadangan 222 miliar barrel setara minyak. Persoalannya, bagaimana sinyalemen ini berubah menjadi cadangan terbukti sekaligus menambah cadangan migas di negeri ini. Namun, semua pembuktian ini hanya bisa diakui kepastiannya dengan kegiatan eksplorasi. Sayangnya, upaya eksplorasi ini masih terbentur birokrasi pemerintah pusat dan daerah yang menghambat perusahaan migas menanamkan modal ke sana.

Tidak heran jika produksi migas di Indonesia semakin berkurang. Dari cadangan terbukti yang ada, krisis energi migas akan menjadi kenyataan karena cadangan migas terbukti yang ada saat ini hanya bisa bertahan 10-15 tahun ke depan dengan tingkat produksi migas saat ini. Karena itu, mutlak, perlu mendorong kegiatan eksplorasi migas antara lain dengan mempermudah birokrasi. Pemerintah pusat dan daerah perlu diingatkan mengenai pentingnya mempermudah birokrasi guna mendorong eksplorasi.

Tak bisa dibantah bahwa iklim berusaha di Indonesia masih termasuk yang terburuk. Kebijakan dan birokrasi yang bisa mendorong sektor migas di Indonesia berada di peringkat ke-145 dari 156 negara. Kebijakan dan birokrasi rumit dan kompleks. Di ASEAN, Indonesia ada di peringkat ke-114, jauh dibandingkan dengan Malaysia di peringkat ke-18 dan Vietnam peringkat ke-78. Penguasa di negeri ini belum sadar benar soal krisis energi yang sudah di depan mata. Perlu langkah nyata segera. (PIETER P GERO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: