“Cangkul” di Ibu Kota


Kualitas manusia Indonesia sangat mengkhawatirkan apalagi yang lahir pada masa krisis moneter.

Mana yang lebih tajam, “cangkul” di Ibu Kota atau “cangkul” di desa? Pertanyaan itu akan terjawab setelah Lebaran ini. Diperkirakan, 1 juta orang akan bermigrasi dari daerah ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Semarang. Getok tular atau penyampaian informasi secara lisan dari yang mengecap pekerjaan di Ibu Kota ke kerabat atau teman di desa, masih punya kekuatan mengikat.

Pada tahun ini, “cangkul” di Ibu Kota sepertinya masih lebih menarik ketimbang “cangkul” di desa. Para pendatang sepertinya tidak terlalu mempersoalkan meskipun “cangkul” tersebut harus beradu dengan “beton-beton” kehidupan.

Di sisi lain, “cangkul” di desa mulai tumpul. Meskipun tanah gembur dan air masih mengalir, daya untuk men-“cangkul” berkurang. Padahal, ketersediaan pangan mutlak diperlukan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juni 2015 upah nominal harian buruh tani Rp 46.458 dan buruh konstruksi Rp 80.237. Secara riil, upah harian buruh tani turun 0,66 persen dan buruh konstruksi 0,35 persen dibandingkan Mei 2015.

Meskipun sama-sama turun, upah buruh konstruksi lebih tinggi dan menarik. Dengan upah buruh konstruksi yang hampir dua kali lipat upah buruh tani di desa, cangkul sepertinya akan lebih menarik untuk mengaduk semen ketimbang tanah.

Kemerosotan upah harian buruh tani itu terjadi karena harga barang yang dikonsumsi petani melambung. Upah buruh harian buruh tani di desa itu tergerus inflasi sehingga buruh tani jarang yang menikmati nilai tambah atas penghasilannya.

Bahkan, pada tahun ini, petani sebagai produsen beras terpaksa membeli beras dengan harga yang jauh lebih tinggi akibat harga beras tidak terkendali. Mereka menjual gabah kering panen rata-rata Rp 3.500 per kilogram. Namun, pada tahun ini, mereka harus membeli beras medium antara Rp 11.000- Rp 13.000 per kg.

Dari data BPS, inflasi pedesaan di semester I-2015 hampir selalu lebih tinggi dibanding inflasi nasional. Lebih tingginya inflasi pedesaan terjadi dalam empat bulan pada semester I-2015, yakni Februari, Maret, Mei, dan Juni. Bahkan, inflasi pedesaan pada Juni mencapai angka tertinggi, yakni 0,82 persen. Sementara inflasi nasional bulan itu adalah 0,54 persen.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur. Dana untuk infrastruktur antara Rp 600 triliun dan Rp 1.000 triliun. Sebuah daya tarik migrasi pekerja dari pertanian ke konstruksi.

Dalam 10 tahun terakhir (2003-2013), BPS mencatat jumlah rumah tangga tani berkurang. Jumlah rumah tangga yang menanam padi pada 2003 sebanyak 14,2 juta, tetapi pada 2013 turun menjadi 14,1 juta rumah tangga. Jumlah rumah tangga penanam kedelai juga turun dari 1 juta menjadi 700.000 rumah tangga. Jumlah rumah tangga penanam jagung turun dari 6,4 juta menjadi 5,1 juta rumah tangga.

Pemerintah memang berupaya mengurangi disparitas antara desa dan kota. Misalnya, dengan berupaya meningkatkan dana desa dari Rp 20 triliun per tahun menjadi Rp 40 triliun per tahun. Kalau per tahun katakanlah dana desa dialokasikan Rp 40 triliun, total dana desa selama lima tahun Rp 200 triliun. Upaya tersebut perlu diarahkan agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang menarik di desa. Upaya lain yang dilakukan adalah menciptakan pasar bagi produk pertanian.

Kiranya upaya menjaga tenaga kerja di bidang pangan perlu terus dilakukan mengingat ke depan Indonesia menghadapi tantangan ketahanan pangan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat, pada 2035, penduduk Indonesia akan bertambah dua kali lipat, sekitar 400 juta. FAO juga memprediksi sekitar 100.000 hektar lahan terkonversi setiap tahun. (HENDRIYO WIDI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: