Mantan Napi Daftar Pilkada


Negara NAGABONAR. Napi bisa jadi pemimpin masyarakat… Sableng nya MK

Latar Belakang Harus Disampaikan kepada Masyarakat

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah terpidana perkara korupsi yang baru dibebaskan kurang dari satu tahun lalu mendaftar untuk mengikuti pilkada serentak yang akan digelar Desember 2015. Ini antara lain terjadi di Semarang, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara.

Hal itu terjadi setelah Mahkamah Konstitusi dalam putusannya pada 9 Juli lalu menyatakan bahwa mantan narapidana bisa mengikuti pilkada tanpa menunggu lima tahun seusai menjalani hukuman. Namun, yang bersangkutan harus jujur mengungkapkan statusnya sebagai mantan terpidana.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Semarang Henry Wahyono, Selasa (28/7), menuturkan, bakal calon kepala daerah yang pernah menjadi narapidana harus mengumumkan statusnya yang pernah menjadi narapidana melalui media cetak secara terbuka, di tingkat lokal maupun nasional. Hal itu sebagai bentuk kejujuran pengungkapan status, seperti yang disyaratkan MK.

Di Semarang, Jawa Tengah, satu dari tiga pasangan calon yang mendaftar mengikuti pilkada serentak adalah pasangan mantan Wali Kota Semarang Soemarmo HS dan Zuber Safawi. Mereka diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Kebangkitan Bangsa. Dua pasangan lainnya adalah Sigit Ibnugroho-Agus Sutiyoso serta Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryati Rahayu.

Soemarmo menjabat Wali Kota Semarang pada 2010-2012. Berdasarkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dia bersama Sekretaris Daerah Kota Semarang dinyatakan terbukti menyuap anggota DPRD Kota Semarang untuk meloloskan beberapa program dalam APBD dan dihukum 1,5 tahun penjara. Mahkamah Agung lalu memperberat hukumannya menjadi 3 tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Ia selesai menjalani hukumannya pada September 2014.

“Saya terbuka mengenai status hukum saya. Silakan warga Kota Semarang menilai,” katanya.

Namun, menurut Henry, Soemarmo belum mengumumkan secara resmi di media massa terkait statusnya sebagai mantan narapidana. KPU memberi waktu untuk memberitakan pengumuman itu sebelum 2 Agustus 2015. Jika pengumuman tidak juga dibuat hingga 2 Agustus 2015, calon yang bersangkutan akan dinilai tidak memenuhi syarat, dan parpol pengusung tidak dapat mengajukan calon pengganti.

Sulawesi Utara

Dua mantan narapidana kasus korupsi, Jimmy Rimba Rogi (61) dan Elly Engelbert Lasut (47), mendaftar mengikuti pilkada di Sulawesi Utara.


KOMPASTVPasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Wisnu Sakti Buana, mengikuti tes kesehatan di Rumah Sakit Dokter Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. Tes kesehatan meliputi pemeriksaan fisik secara keseluruhan, tes darah, tes lari, serta pemeriksaan penyakit dalam seperti hati, jantung, dan paru-paru. Hasil tes kesehatan akan keluar tanggal 1 Agustus mendatang dan langsung diberikan ke KPU Surabaya.

Jimmy Rimba Rogi yang diusung Partai Golkar berpasangan dengan Bobby Daud dari Partai Amanat Nasional mendaftar sebagai bakal calon wali kota Manado.

Sementara itu, Elly Engelbert Lasut, juga dari Golkar, yang berpasangan dengan David Bobihoe Akib mendaftar sebagai calon gubernur Sulawesi Utara.

Lebih dari 1.000 orang mengantar Jimmy Rimba Rogi ketika kemarin mendaftar di KPU Kota Manado. Jimmy Rimba Rogi bahkan diunggulkan memenangi Pilkada Manado.

Jimmy Rimba Rogi yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Manado pada 2005-2008 menghirup udara bebas pada Maret lalu setelah ditahan selama tujuh tahun di LP Sukamiskin, Bandung. Dia dinyatakan bersalah dalam perkara korupsi APBD Kota Manado tahun 2006 senilai Rp 64 miliar.

Jimmy Rimba Rogi mengaku telah melayangkan permintaan maaf pada sejumlah pertemuan dengan masyarakat atas kasus korupsi yang terjadi saat dirinya menjabat wali kota. “Saya baru memimpin dua tahun saat ditahan KPK,” ujarnya.

Dalam pernyataan di sejumlah media di Manado, Jimmy Rimba Rogi mengaku sebagai narapidana kasus korupsi.

Sementara itu, Elly Engelbert Lasut pernah menjadi narapidana dalam perkara korupsi surat perintah perjalanan dinas (SPPD) fiktif dan dana pendidikan Gerakan Nasional Orangtua Asuh (GN OTA). Dalam perkara tersebut, Elly dihukum tujuh tahun penjara dan bebas pada November 2014.

(ZAL/UTI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: