Penurunan Ekspor Dorong Industri Manufaktur Kian Lesu


JAKARTA – Publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai ekspor periode Januari-Agustus hanya mencapai US$102,52 miliar atau turun 12,7 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ekspor terbesar dialami oleh sektor industri pengolahan (manufaktur), yang kinerjanya kian lesu dalam setahun terakhir.

“Turunnya angka ekspor produk manufaktur terjadi akibat kondisi perekonomian global,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi Lukman, kepada Tempo, kemarin.

Menurut Adhi, ekspor industri makanan turun rata-rata 5 persen per bulan. Agar bisnis tetap berlanjut, produsen mengurangi biaya produksi. Ia meminta pemerintah segera mengeksekusi kebijakan yang bisa mengerek daya beli masyarakat sekaligus mengerek kinerja industri, sehingga angka ekspor bisa kembali positif.

Berdasarkan data BPS, ekspor hasil industri pengolahan pada Januari-Agustus turun 7,36 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Pelemahan parah dialami oleh industri pengolahan karet, yang turun 18,53 persen, dan industri kimia (turun 37,72 persen). Di luar industri pengolahan, penurunan ekspor terjadi pada sektor pertambangan, yakni 9,15 persen.

Secara kumulatif, angka impor sepanjang Januari-Agustus turun 18,96 persen, atau menjadi US$ 96,30 miliar. Penurunan terbesar dialami sektor minyak dan gas, yakni 40,41 persen, atau senilai US$ 17,50 miliar. Untuk sektor non-migas, terjadi penurunan impor 11,92 persen atau menjadi US$ 78,80 miliar. Adapun impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal turun rata-rata 15 persen pada Januari-Agustus, seiring dengan melemahnya sektor industri.

Meski ekspor cenderung menurun, Kepala BPS Suryamin mengatakan secara kumulatif neraca perdagangan pada Januari-Agustus masih surplus US$ 6,22 miliar. Hal ini akan berdampak positif pada nilai tukar rupiah terhadap dolar, yang belakangan menurun. Selain itu, kata dia, kinerja ekspor bulanan, yakni dari Juli ke Agustus relatif membaik, dengan kenaikan 10,79 persen atau menjadi US$ 12,70 miliar.

Agar industri pengolahan kembali bergairah, Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Achmad Wijaya mengatakan pemerintah harus berupaya menurunkan harga energi, terutama gas dan listrik. Menurut Achmad, harga gas yang kini mencapai US$ 9 dolar per metrik ton menyebabkan biaya operasi industri pengolahan melambung di tengah perlambatan ekonomi. “Salah satu cara merangsang pertumbuhan industri adalah menurunkan harga gas hingga US$ 5 per metrik ton ,” ujarnya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin yakin bahwa paket kebijakan “September 1”, yang salah satunya berisi deregulasi atau penyederhanaan aturan serta percepatan proyek strategis, mampu mendorong minat investasi sekaligus menggairahkan kembali sektor industri.SINGGIH SOARES | MAYA AYU | ROBBY IRFANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: