Kebutuhan Besar, Impor Gandum Sulit Ditekan


SENIN, 21 SEPTEMBER 2015

 Kebutuhan Besar, Impor Gandum Sulit Ditekan

JAKARTA – Kalangan pengusaha menganggap rencana pengurangan kuota impor gandum oleh pemerintah sulit diwujudkan. Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan komoditas tersebut masih sangat besar, sementara dukungan produksi dari dalam negeri tak ada.

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Kerja Sama Perdagangan Internasional, Ratna Sari Loppies, berpendapat, jika suplai gandum dipangkas, angka inflasi bakal sulit dikendalikan. “Harga tepung terigu dan bahan makanan lain berbasis gandum pasti naik,” tuturnya ketika dihubungi, akhir pekan lalu.

Pernyatan ini menanggapi rencana Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Rabu pekan lalu memanggil para produsen tepung terigu nasional untuk mendiskusikan ihwal impor gandum. Kalla menyebutkan gandum merupakan komoditas yang terbanyak diimpor Indonesia dibanding produk pangan lain seperti jagung dan gula.

Untuk mendorong ketahanan pangan, pemerintah dan pengusaha akan berupaya menekan impor. Misalnya, mengombinasikan impor dengan produksi lokal. “Karena, kalau tidak, gandum diimpor 7 juta ton, jauh lebih besar dari yang lainnya,” kata Kalla beberapa waktu lalu.

Kalla mengungkapkan, pemerintah tengah berusaha mengurangi beban impor dan mendorong ketersedian pasokan pangan. Terlebih saat ini fluktuasi kurs rupiah, yang mencapai level 14.000-an per dolar AS, bakal makin menambah beban impor.

Tapi Ratna tak sependapat dengan Kalla. Sebab, kendati impor gandum besar, ekspor-impor bahan pangan Indonesia tahun lalu tercatat masih surplus. “Nilai impor komoditas pertanian kita masih lebih rendah.”

Ratna menjelaskan, ekspor pertanian Indonesia tahun lalu senilai US$ 19,6 miliar dan impor pertanian hanya sekitar US$ 11,5 miliar. Tahun ini dia memprediksi kembali terjadi surplus perdagangan. “Jangan lupa, selama ini impor gandum juga dikenai pajak pertambahan nilai sebesar 10 persen, berbeda dengan jagung dan kedelai yang bebas PPN,” ucapnya.

Meskipun begitu, Ratna mengakui kebutuhan impor gandum terus meningkat karena harganya lebih murah dibanding biji-bijian sumber karbohidrat lain. Sebagai contoh, harga gandum internasional per Juni 2015 hanya US$ 299 per metrik ton atau lebih murah ketimbang harga beras yang mencapai US$ 436 per metrik ton.

Tepung terigu berbahan gandum diproduksi 30 industri terigu nasional dan digunakan secara luas oleh pengusaha kecil pembuat mi, kue, roti, biskuit, dan makanan lain. Perbandingannya, 67 persen kelas usaha kecil-mikro dan 33 persen sisanya pengusaha menengah-besar. Harga tepung terigu yang relatif stabil ini cukup mendorong pertumbuhan industri pengolahan terigu Indonesia dan menjadi basis ekspor di wilayah Asia.

Bila impor gandum dikurangi, Ratna memperkirakan kelangsungan bisnis terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terancam karena modal yang terbatas. “Mereka akan sulit mendapatkan bahan baku dan bisa pailit. Risiko pengangguran juga bakal meningkat.” Selain itu, daya tarik Indonesia di mata investor bakal menurun karena tidak adanya kepastian usaha.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia, Franciscus Welirang, mengatakan pengurangan impor bakal mendorong inflasi. Terlebih hingga kini substitusi bahan baku pengganti gandum belum ada karena Indonesia belum punya lahan gandum.

Pengusaha yang akrab dipanggil Franky ini menyatakan pemerintah seharusnya mendorong pertanian gandum lebih agresif. Pada 2000-an, kata dia, sebetulnya sudah ada sejumlah pengusaha sudah mengupayakan penanaman gandum di beberapa lokasi, seperti Tosari, Wonosobo, Dieng, Karanganyar, Bukittinggi, dan Maros. “Pakar gandum di Indonesia juga banyak. Sayangnya, pemerintah tidak mendorong.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: