Laut Krisis, Populasi Susut Drastis


Manusia sedang menciptakan kiamat di muka bumi..
JUM AT, 18 SEPTEMBER 2015

 Laut Krisis, Populasi Susut Drastis

Kondisi habitat laut semakin mencemaskan. Laporan Living Blue Planet yang dirilis World Wide Fund for Nature (WWF) menyebutkan populasi penghuni samudra menyusut hingga separuhnya dalam 40 tahun terakhir. Hasil studi itu menyebutkan beberapa spesies mengalami penderitaan lebih parah karena kehilangan habitat, penangkapan berlebihan, kenaikan temperatur, dan memburuknya tingkat keasaman air laut.

Para peneliti mempelajari 5.829 populasi dari 1.234 spesies yang mengisi habitat laut. Hasil analisis menunjukkan jumlah populasi mamalia laut, burung, reptil, dan ikan mengalami penurunan sebanyak 49 persen pada periode 1970-2012. Krisis ini berdampak serius bagi manusia, terutama di negara-negara berkembang, yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut.

Sejumlah spesies ikan yang menjadi primadona perdagangan dan suplai makanan global menyusut karena aktivitas penangkapan yang berlebihan. Populasi ikan konsumsi dari keluarga Scombridae-meliputi tuna, tenggiri, dan bonito-dilaporkan menyusut hingga 74 persen. Kondisi spesies tuna sirip biru dan kuning yang punya nilai jual tinggi juga mengkhawatirkan.

Laporan tersebut menyebutkan perubahan iklim juga membuat keadaan di laut berubah dengan cepat. Naiknya temperatur dan tingkat keasaman air laut akibat karbon dioksida memperburuk kelangsungan hidup penghuni laut yang sebelumnya sudah dihantam polusi, degradasi habitat, dan eksploitasi.

Penasihat Kebijakan Kelautan WWF Inggris, Louise Heaps, mengatakan kesehatan laut adalah dasar perekonomian global. Eksplotasi perikanan, rusaknya habitat, dan pengabaian efek pemanasan global membuat bencana ekologi dan ekonomi bertambah buruk.

Menurut Heaps, para pemimpin negara memiliki opsi yang jelas untuk memperbaiki kondisi laut. “Membuat jaringan area habitat laut yang dilindungi terbukti bisa membantu memulihkan kondisi para penghuninya,” kata Heaps seperti ditulis The Independent, 15 September 2015. “Bekerja sama menghadapi perubahan iklim global juga membantu kehidupan di laut bertahan lebih baik pada masa depan.”

Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan data Living Planet Index milik Zoological Society of London (ZSL). Direktur Sains ZSL, Ken Norris, mengatakan lautan sebenarnya bekerja keras demi menjaga manusia tetap hidup. Laut menghasilkan separuh oksigen dunia dan menyerap hampir sepertiga dari total karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil yang dilakukan manusia.

Menurut Norris, laut memenuhi kebutuhan pangan miliaran orang di seluruh dunia. Rusaknya habitat dan penyusutan penghuni laut bakal menjadi pukulan berat bagi kehidupan manusia pada masa depan. “Hasil riset ini menunjukkan betapa cepatnya manusia mengubah kehidupan di laut, dan ini adalah tanda bahaya yang kita hadapi bersama,” kata Norris seperti ditulis laman ZSL, 14 September 2015.

Laporan para peneliti menunjukkan kondisi koral, bakau, dan rumput laut yang menjadi indikator kesehatan populasi ikan juga memburuk. Sebagian besar wilayah koral diperkirakan lenyap pada 2050. Kondisi ini menjadi bencana besar karena 25 persen spesies laut dan lebih dari 850 juta manusia sangat bergantung pada keberadaan karang koral. WWF | THE INDEPENDENT | THE GUARDIAN


Mereka yang Merana

Rumput laut: Tanaman ini menyaring sedimen yang kaya mineral dan menjaga stabilitas dasar lautan. Tutupan “padang rumput” bawah air ini diperkirakan telah menyusut 30 persen dalam seabad terakhir.

Bakau: “Benteng hijau” yang melindungi daratan dari abrasi ini diketahui terdapat di 123 negara. Tutupan hutan bakau terluas-sekitar 5,8 juta hektare-ada di wilayah Asia. Akibat ulah manusia, diperkirakan 20 persen area bakau lenyap pada periode 1980-2005.

Karang koral: Salah satu wilayah biologis terkaya dan paling produktif di bumi. Seperempat spesies penghuni laut hidup di sekitar koral, tapi 75 persen di antaranya terancam punah akibat tingginya kadar asam air laut.

Habitat laut dalam: Tak banyak yang diketahui manusia di area laut dalam ini. Berkurangnya tangkapan ikan dari area tersebut dalam 40 tahun terakhir menunjukkan wilayah tersebut juga terpengaruh perubahan global yang mendera lautan. THE INDEPENDENT | WWF

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: