Belanja dollar Pertamina dipangkas !


Belanja Dollar AS Dipangkas

PT Pertamina Optimalisasi Kilang Dalam Negeri

JAKARTA, KOMPAS — PT Pertamina (Persero) memangkas belanja dollar AS mereka sampai 50 persen untuk memperkuat posisi rupiah terhadap mata uang dollar AS. Kebutuhan dollar AS Pertamina setiap hari mencapai 70 juta dollar AS sampai 80 juta dollar AS untuk impor minyak.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerapkan kebijakan untuk mengurangi pemakaian valuta asing dan meredam tekanan atas rupiah. Kurs rupiah kemarin ada di posisi Rp 14.696, turun dari posisi sebelumnya Rp 14.690 per dollar AS.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, belanja dollar AS oleh Pertamina bisa dipangkas. Salah satunya lewat optimalisasi kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, yang sudah diakuisisi Pertamina. Kilang itu siap mengolah 100.000 barrel minyak menjadi bahan bakar minyak (BBM) pada awal Oktober 2015.

“Apabila kilang TPPI dioperasikan, bisa menambah produksi BBM 10 persen sampai 15 persen. Itu sama saja dengan mengurangi impor BBM sebesar yang dihasilkan kilang TPPI sehingga mengurangi tekanan dollar AS terhadap rupiah,” kata Dwi, Senin (28/9), di Jakarta.

Dengan beroperasinya kilang TPPI, lanjut Dwi, kebutuhan devisa Pertamina bisa berkurang sampai 10 juta dollar AS per hari. Pertamina berencana akan terus mengurangi belanja dollar AS sampai 50 persen dari kebutuhan harian 70 juta dollar AS sampai 80 juta dollar AS.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menambahkan, untuk mencegah risiko akibat dinamisnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Pertamina telah menerapkan lindung nilai (hedging) dalam membeli valuta asing (valas) sejak Juni lalu. Pertamina mendapatkan dollar AS dari tiga bank milik pemerintah, yaitu Bank Mandiri, BNI, dan Bank BRI.

“Selain menerapkan hedging, Pertamina mendapatkan fasilitas perbankan berupa forex line (fasilitas kredit yang difasilitasi Bank Indonesia) dari tiga bank tersebut dalam jumlah signifikan,” kata Wianda.

Untuk mengatasi selisih antara kebutuhan dan pembelian dollar AS akibat pengurangan belanja devisa, imbuh Wianda, Pertamina bekerja sama dengan perbankan menggunakan skema trade financing lewat. Skema ini memanfaatkan fasilitas kredit jangka pendek yang disediakan perbankan untuk mendukung pembiayaan Pertamina.

Jangka panjang

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan, pihaknya menerapkan sejumlah kebijakan yang berdampak bisa menekan kebutuhan dollar AS. Kebijakan itu antara lain lewat kewajiban pencampuran biodiesel dengan solar sebesar 15 persen tahun ini dan 20 persen pada 2016. Pemerintah juga tengah menyiapkan Peraturan Presiden untuk mempercepat pembangunan kilang di dalam negeri.

“Apabila kilang selesai dibangun, Indonesia tak perlu lagi mengimpor BBM karena sudah bisa dihasilkan di kilang dalam negeri. Cara lainnya, dengan meningkatkan pemanfaatan tingkat kandungan dalam negeri sehingga impor komponen turut berkurang,” kata Sudirman.

Kebijakan mengurangi belanja dollar AS, kata Sudirman, tidak bisa diwujudkan dalam jangka pendek. Yang dilakukan ESDM, yakni lewat berbagai kebijakan yang akan terasa dampaknya dalam jangka panjang.

Soal kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 15 persen dalam solar tahun ini, menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana, akan menekan impor solar sebanyak 15 persen setahun. Jumlah itu setara penghematan belanja devisa sampai 1,3 miliar dollar AS dalam setahun (Kompas, 17/3). (APO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: