Menggapai MEF, Merespons Perang Generasi Ke-4


Dari Kompas

Hari ini, Hari Ulang Tahun Ke-70 Tentara Nasional Indonesia dirayakan di Dermaga Indah Kiat, Merak, Cilegon, Banten, dengan simulasi pertempuran darat, laut, dan udara, melibatkan ribuan prajurit.

Sepatutnyalah peringatan ke-70 tahun kelahiran TNI dirayakan dengan sesemarak mungkin untuk menimbulkan kebanggaan, membangkitkan semangat juang, justru ketika bangsa tengah diimpit berbagai masalah ekonomi.

Kehadiran tank besar Leopard, juga jet tempur Sukhoi SU-27 dan Su-30, serta 52 kapal perang tentu akan menambah semarak peringatan HUT Ke-70 TNI itu.

Mungkin saja masih banyak alat utama sistem pertahanan (alutsista) canggih di luar yang dimiliki TNI, tetapi apa yang hadir hari ini sekilas telah mencerminkan apa yang dalam dunia kemiliteran disebut sebagai RMA (Revolution in Military Affairs), meski RMA lebih luas cakupannya, meliputi doktrin, strategi, dan organisasi, selain alutsista.

James Adams dalam bukunya, The Next World War: The Warriors and Weapons of the New Battlefields in Cyber Space, menyiratkan bahwa ada dimensi baru dalam peperangan modern, yang melibatkan matra lain di luar darat, laut, dan udara, yakni matra siber.

Setelah RMA memodernisasi kekuatan darat, laut, dan udara, dengan munculnya tank, kapal perang, dan jet mutakhir, ternyata semua platform ini masih kurang berarti apabila tidak didukung oleh sensor, link komunikasi, avionik, dan amunisi yang dibawa.

Peranan elektronik dan teknologi digital tampak makin besar. Sharjeel Rizwan dalam artikelnya di www.defencejournal.com menambahkan, teknologi telah memengaruhi tujuan, efisiensi, efektivitas, magnitudo, dan durasi perang.

Elektronik kini mewujud dalam sedikitnya dua bentuk: internet dan robotik. Serangan internet sudah dialami Estonia pada April 2007, saat ia memindahkan monumen perang eks Uni Soviet yang diprotes oleh warga keturunan Rusia. Saat itu banyak situs pemerintah dan swasta yang lumpuh karena digempur oleh datangnya ribuan pertanyaan palsu. Perang internet juga terjadi saat ada ketegangan antara Indonesia dan Malaysia.

Sementara untuk perang robotik, merebaknya pesawat udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle), juga yang versi tempur (Unmanned Combat Aerial Vehicle/UCAV), menjadi cirinya. Uraian PW Singer dalam Wired for War-The Robotics Revolution and Conflict in the 21st Century sudah terbukti di dalam konflik di Timur Tengah, dan Afganistan.

Era Perang Asimetrik

TNI memasuki abad ke-21 saat wacana-dan praktik-perang asimetrik menggejala. Tahun 2006, dunia dicengangkan oleh perlawanan Hisbullah terhadap Israel. Dengan bersenjatakan roket Katyusha, Hisbullah yang bak David melawan Israel Si Goliath yang mengerahkan mesin perangnya yang paling canggih, seperti F-16I Sufa (Badai Guntur). Dalam konflik ini, tank Merkava Israel yang sangat melegenda telah dirobek lapisan bajanya oleh rudal antitank Hisbullah (Kompas, 22/8/2006).

Di lingkup nasional, insiden (tari) cakalele saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri perayaan Hari Keluarga di Ambon tahun 2006 juga menjadi satu kenangan pahit. Ketika itu Republik Maluku Selatan (RMS) tanpa menembakkan satu peluru pun berhasil memperlihatkan eksistensinya di panggung dunia melalui perang informasi atau perang asimetrik.

Mengingat Indonesia masih kewalahan menggapai, bahkan Minimum Essential Force (MEF), sementara lanskap lingkungannya berubah banyak, dan perang siber dan informasi lebih menggejala dibandingkan dengan perang konvensional (yang ironinya dilukiskan dalam buku The Three Trillion War, karya Joseph Stiglitz dan Linda Bilmes), hadirnya prajurit asimetrik menjadi satu keniscayaan. Asymetric Warrior menjadi bahasan khusus dalam The New Face of War-How War Will Be Fought in the 21st Century (Bruce Berkowitz).

Perang asimetrik yang merupakan perwujudan Perang Generasi Keempat yang melibatkan aktor non-negara bangsa menjadi tema aktual dewasa ini. Sejarawan TNI niscaya dapat merunut kebangkitan perang tipe baru yang konsepnya mulai mucul pada masa sebelum Perang Dunia II (Lihat The Sling and The Stone, Thomas X Hammes)

Merespons peringkat GFM

Menjelang HUT ke-70, pada Agustus lalu, TNI mendengar berita baik ketika Global Firepower Military menerbitkan peringkat kekuatan militer dunia, di mana Indonesia berada di posisi ke-12 setelah Israel dan di atas Australia.

Apakah peringkat tersebut didasarkan pada kekuatan dan kemutakhiran alutsista? Meskipun dalam beberapa tahun terakhir Indonesia cukup gencar melakukan modernisasi alutsista, seperti penambahan jet Sukhoi dan F-16 juga datangnya tank berat Leopard, tetapi seperti tersirat dalam programnya, semua itu masih dalam upaya mencapai MEF (Modernisasi Alutsista TNI, Kementerian Pertahanan, 2014). Apakah semua alutsista yang ada sudah bisa menimbulkan efek penggentaran yang diharapkan?

Deterens di satu sisi tetap diperlukan, meskipun diakui ia menjadi semakin mahal di tengah pelemahan nilai rupiah. Berapa rupiah harus dibelanjakan untuk mendapatkan jet tempur canggih yang sebuahnya berharga 80 juta dollar AS?

Investasi besar tersebut diniscayakan, tetapi diharapkan hal itu disertai dengan kearifan baru bahwa perang konvensional, sebagaimana disinggung Stiglitz dan Bilmes, menjadi terlalu mahal sehingga menggamangkan orang untuk melakukannya.

Selain itu, tampaknya fokus peperangan akan bergeser ke perang tipe baru, seperti halnya 4GW (Fourth Generation Warfare). Di sini ada keyakinan bahwa tekad politik bisa mengalahkan mesin perang perkasa.

Apa pun bentuknya, perang atau konflik akan terus terjadi. Pekerjaan rumah TNI adalah menyiapkan respons yang tepat sesuai dengan perkembangan yang ada.

Selain membangun kekuatan, pekerjaan rumah yang ada adalah mengembangkan softskill di kalangan prajurit sehingga selain siap menghadapi musuh, TNI juga terus mempertahankan jati diri sebagai tentara rakyat, yang berasal dari rakyat, dan bersahabat dengan rakyat.

Tepat prakarsa Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak masyarakat ikut berdefile bersama prajurit di kendaraan tempur yang bergerak sambil membawa bendera Merah Putih (Kompas, 4/10/2015).

Dirgahayu dan jayalah TNI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: