Atasi Bencana Asap, Indonesia Gandeng 5 Negara Ini


KAMIS, 08 OKTOBER 2015 | 16:40 WIB

Atasi Bencana Asap, Indonesia Gandeng 5 Negara Ini

Sebuah kapal kecil melintas di bawah jembatan Sungai Johor, kabut asap mengganggu dan membahayakan lalu lintas dan jasa transportasi lainnya. Hampir setengah dari 52 stasiun pemantauan polusi Malaysia di seluruh negeri kemarin mencatat kualitas udara “tidak sehat”. Enam stasiun, termasuk satu di Kuala Lumpur, mencatat kualitas udara pada tingkat “sangat tidak sehat” dengan satu stasiun yang berada di pinggiran Ibu Kota dekat dengan level “berbahaya”. Malaysia, 6 Oktober 2015. REUTERS/Edgar Su

TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia akan bekerja sama dengan lima negara untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap. Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2015.

“Kita merasa penting untuk bekerja sama dengan negara yang mempunyai sumber daya untuk memadamkan api dan asap. Ada lima negara, yaitu Australia, Tiongkok, Malaysia, Rusia, dan Singapura,” ujar Arrmanatha.

Menurut dia, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Australia, dan Malaysia untuk membahas kerja sama dan mendapatkan bantuan dalam mengatasi titik-titik api yang masih berkembang di beberapa wilayah di Indonesia. “Sampai hari ini, masih ada sekitar 110 titik api, dan di antaranya ada 11 titik api di Riau,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan, pemerintah Indonesia masih harus membahas bentuk bantuan dan kerja sama yang akan dilakukan dengan lima negara tersebut. “Bentuk kerja sama ini masih harus dibahas karena beberapa kerja sama itu ada yang bersifat bantuan dan ada yang bersifatcommercial base (komersial),” tuturnya.

Arrmanatha menyebutkan sudah cukup banyak upaya yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi kebakaran lahan dan hutan serta mengurangi penyebaran asap. “Pada intinya, upaya Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan langkah-langkah yang telah dilakukan sudah cukup banyak. Tidak hanya upaya pemadaman api, tapi juga penindakan hukum (terhadap pelaku pembakaran),” ucapnya.

Dia memaparkan, untuk pemadaman api, pemerintah Indonesia telah mengerahkan 26 helikopter guna melakukan pengeboman air (water bombing) dan mengerahkan empat pesawat khusus untuk melakukan rekayasa cuaca (weather modification) guna menghasilkan hujan buatan.

“Data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menyebutkan 65 juta liter air dituangkan ke berbagai titik api di lima provinsi, dan 250 ton garam digunakan untuk weather modification,” katanya.

ANTARA

+++++++

Kabut Asap

Tiga Pejabat Perusahaan Kebun Sawit Jadi Tersangka

Kabut asap  masih terpantau di kawasan Muara Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/10). Kabut asap berasal dari Sumatera Selatan dan Jambi.
Kabut asap masih terpantau di kawasan Muara Padang, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (8/10). Kabut asap berasal dari Sumatera Selatan dan Jambi.KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

JAMBI, KOMPAS — Tiga pejabat perusahaan perkebunan sawit ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Jambi. Selain sangkaan kelalaian, penyidik masih terus menelusuri mengenai motif lain di balik peristiwa kebakaran yang meluas di areal-areal perkebunan.

Kepala Polda Jambi Brigadir Jenderal (Pol) Lutfi Lubihanto mengatakan, tiga tersangka itu ialah MN selaku Kepala Operasional PT RKK di Kabupaten Muaro Jambi, PL selaku Manajer Operasional PT ATGA di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan PB selaku Manajer Lapangan PT TAL di Kabupaten Tebo.

“Ketiganya kami tetapkan sebagai tersangka karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa kebakaran lahan di areal mereka,” ujar Lutfi, di Jambi, Kamis (8/10).

Berdasarkan citra Landsat, kebakaran di areal PT ATGA mencapai 1.000 hektar selama Juli hingga Agustus, sedangkan kebakaran di areal PT RKK sekitar 600 hektar.

Lutfi melanjutkan, pihaknya memastikan semua perusahaan tersebut terbukti lalai dan melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 dan Undang-Undang Lingkungan Hidup. Dalam pengusutan kasus ini, pihaknya melibatkan sejumlah saksi ahli, antara lain dari Dinas Perkebunan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Jambi.

content
,

Mengenai motif-motif lain di balik kebakaran lahan areal kebun perusahaan, pihaknya masih menelusuri jika ada keterkaitan dengan kepentingan klaim asuransi atau membakar lahan untuk penghematan biaya produksi.

Selain tiga tersangka dari tiga perusahaan itu, penyidik juga menelusuri 12 perusahaan lain di bidang perkebunan, hutan tanaman industri, dan hak pemanfaatan hutan.

Selain tersangka dari kalangan perusahaan, Polda Jambi sebelumnya menetapkan tersangka pembakar lahan dari kalangan perorangan. Total 20 kasus ditangani dengan melibatkan 28 tersangka.

Hasil olahan citra Landsat selama musim kebakaran tahun ini menunjukkan areal terbakar banyak menyebar di wilayah kelola perusahaan. Bahkan, kebakaran di sejumlah lokasi terjadi berulang hampir setiap tahun. Sebagai contoh, kebakaran besar terjadi di wilayah kebun sawit PT BEP pada 2012 dan 2015 bersamaan dengan rencana kegiatan pembukaan kebun perusahaan. Kejadian serupa terjadi pada sejumlah areal perkebunan sawit swasta lainnya. Yang paling parah adalah areal izin hak guna usaha PT ATGA, PT JA, PT RKK, PT KU, dan PT EMAL yang merupakan lima perusahaan penyumbang titik panas terbesar untuk areal perkebunan skala besar di Jambi. Pengecekan lapangan di areal terbakar wilayah itu sudah lebih dari 15.000 hektar.

Manajer Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf, mengatakan, pemerintah seharusnya benar-benar bersinergi mengatasi kebakaran hutan dan lahan tahun ini, termasuk dalam penegakan hukum. Pemerintah diminta berani menegakkan aturan dan menerapkan sanksi bagi para pelanggar. “Apakah itu terjadi di lahan yang sengaja dibakar atau tidak, pemegang izin harus tetap mendapat sanksi. Pengamanan areal izin merupakan tanggung jawabnya,” ujar Rudi.

Lebih pekat dan tidak sehat

Hujan yang sempat mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat, pada Rabu siang kemarin belum cukup membersihkan kabut asap yang melanda kota tersebut. Hingga Kamis siang, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan dan Jambi bahkan terpantau jauh lebih pekat. Kualitas udara juga dilaporkan masuk kategori tidak sehat.

Pantauan Kompas, warga juga terlihat masih mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan atau ketika sedang berkendara. Masker yang digunakan beragam mulai dari masker biasa ataupun masker bedah yang bagian luarnya berwarna hijau muda, masker motor yang jauh lebih tebal, hingga beberapa memakai masker N95.

Mahasiswa berunjuk rasa  menyambut kedatangan Presiden RI yang dijadwalkan tiba di Jambi pada Kamis (8/10)  untuk melihat kondisi kabut asap dan kebakaran lahan di wilayah tersebut. Mahasiswa menuntut pemerintah cepat menuntaskan persoalan asap yang telah meluas ke sejumlah negara tetangga.
KOMPAS/IRMA TAMBUNANMahasiswa berunjuk rasa menyambut kedatangan Presiden RI yang dijadwalkan tiba di Jambi pada Kamis (8/10) untuk melihat kondisi kabut asap dan kebakaran lahan di wilayah tersebut. Mahasiswa menuntut pemerintah cepat menuntaskan persoalan asap yang telah meluas ke sejumlah negara tetangga.

Peneliti Bidang Observasi, Analisis, dan Informasi GAW Bukit Koto Tabang, Agam, Alberth Nahas, mengatakan, kualitas udara di Sumbar masih kategori tidak sehat. Hal itu disebabkan indeks standar pencemaran udara (ISPU) dilihat dari konsentrasi polutan PM10 mencapai 300 mikrogram per meter kubik.

Menurut Alberth, kabut asap memang diprediksikan masih memberikan dampak terhadap kualitas udara di Sumbar. Bagian tengah Sumbar, seperti Bukittinggi, Padang Panjang, Agam, Tanah Datar, Solok, Kota Solok, Sawahlunto, dan Solok Selatan dan timur Sumbar Pasaman, Limapuluh Kota, Sijunjung, dan Dharmasraya menjadi wilayah yang lebih terdampak. Meskipun demikian, peluang hujan pada hari ini meningkat dari siang hingga sore, terutama di kawasan pesisir seperti Kota Padang.

“Dari prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, potensi hujan terlihat lebih merata hingga di bagian tengah Sumbar sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak kabut asap. Meskipun demikian, partikel debu yang bercampur uap air dapat menurunkan jarak pandang masih tetap ada dari pagi hingga sore,” kata Alberth.

Sementara itu, Di Kabupaten Dharmasraya yang berdekatan dengan Jambi, kualitas udara bahkan dilaporkan masuk kategori berbahaya. Eko Sutrisno (30), warga Desa Koto Agung, Kecamatan Sitiung, Dharmasraya, saat dihubungi dari Padang, Kamis siang, mengatakan, kondisi tidak berubah dari hari-hari sebelumnya. Jarak pandang di daerah tersebut masih berada di bawah 500 meter. Hal itu membuat warga harus menyalakan lampu saat berkendara di jalan.

KOMPAS/KOMPASTVKabut asap pekat hingga Kamis (8/10) masih menyelimuti wilayah Kalimantan dan Sumatera. Di Riau, warga bahkan terpaksa membeli tabung oksigen untuk mengantisipasi kabut asap merusak pernapasan terutama bagi anak-anak. KOMPASTV

Bayi terinfeksi ISPA

Dari Palembang dilaporkan, bayi berusia 27 hari, Muhammad Husen Saputra, meninggal setelah menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bronchitis pneumonia di tengah pekatnya kabut asap bercampur abu di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (6/10) malam. Anak ketiga pasangan Hendra Saputra (34) dan Musdalifah (34) itu sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah sekitar 14 jam.

Musdalifah mengatakan, anaknya menderita panas dan rewel pada Selasa subuh. Ia kemudian dibawa ke bidan di dekat rumahnya di kawasan Plaju, Palembang.

“Waktu berangkat dia hanya panas. Akan tetapi, waktu sampai bidan sudah sesak napas, langsung disuruh ke rumah sakit sebab di bidan tak ada obat,” katanya di rumahnya, Kamis (8/10).

Husen lahir dalam keadaan sehat dengan bobot 2,7 kilogram di Palembang yang tengah dilanda kabut asap parah pada pertengahan September. Ia meninggal saat kabut asap pekat bercampur abu masih melanda dengan bobot lebih dari 3 kilogram.

Sejak lahir, bayi mungil itu sangat jarang dikeluarkan dari rumah karena parahnya asap. “Bayi seharusnya dijemur, tetapi dia kami taruh di kamar saja. Jendela ditutup terus sebab asap gelap. Matahari saja jarang keluar,” katanya.

Husen merupakan korban kedua yang tewas terkait langsung dengan kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Sebelumnya pada Minggu (4/10), Yahya bin Ali (50) tewas saat memadamkan kebakaran kebun karetnya. Ia diduga sesak napas menghirup asap dan tewas dengan luka bakar di sekujur tubuh.

  • 0
  • 0
  • 3
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: